headermask image

header image

Ketika Pengharapan tak berimpit dengan Kenyataan.

Teks: Matius 2: 1-11

Mantan Menteri Agama, Said Agil Munawaroh, bermimpi bisa menemukan harta presiden Soekarno di sekitar prasasti Batutulis Bogor.

Setelah melakukan penggalian, ia tak menemukan apa-apa. Bukan harta yang dituai melainkan beribu celaan!

Harapan yang tidak berimpit dengan kenyataan!

Salah satu Bapak Gereja yang terbesar, Agustinus, Uskup Hippo dari Afrika Utara, konon mempunyai tiga keinginan (harapan) yang amat dalam. Sebelum ajal, ia pingin beul melihat tiga hal: (1) Roma di puncak kejayaannya, Yesus Kristus dalam wujud jasmani-Nya, dan Rasul Paulus ketika ia berkhotbah. Kita tidak tahu apakah harapan yang mulia itu kesampaian atau tidak pada akhirnya. Kemungkinan besar tidak!

Harapan yang tidak berimpit dengan kenyataan!

Saya pingin sekali membahagiakan orang tua saya. Doa-doa saya penuh dengan permohonan agar kedua orang tua saya diberi panjang umur, paling tidak sampai melewati ulang tahun pernikahan emas mereka.

Sayang, awal tahun ini harapan tersebut pupus ketika mama saya dipanggil Tuhan.

Harapan yang tidak berimpit dengan kenyataan!

Teks kita pagi ini, Matius 2: 1-22, memberikan gambaran sebuah harapan yang tak berimpit dengan kenyataan. Para majus telah menempuh jarak sekitar 1000 km, mengikuti sebuah bintang yang akan membawa mereka ke tempat kelahiran Raja besar. Hati mereka penuh dengan semagat yang menyala-nyala, bekal-bekal dan hadiah terbaik menyertai mereka.

Setelah berbulan-bulan melewati jalan-jalan yang penuh bahaya, mereka berharap dapat menemukan sesuatu yang agung dan mulia di akhir perjalanan mereka. Itulah sebabnya istana Herodes menjadi tempat persinggahan mereka! Sang Raja Besar harus lahir di istana besar dengan jubah indah nan mewah. Namun tak ada Raja Besar di istana Herodes! Mereka harus terus melangkah dan mencari. Bntang terus memimpin mereka dan akhirnya berhenti di halaman belakang sebuah kandang hewan! Di sana alih-alih melihat sebuah istena megah beserta sang raja duduk di singgasana, para majusi menemukan pasangan muda sedang membaringkan seorang bayi mungil di palungan. Sama sekali jauh dari apa yang diharapkan! Mereka mengikuti Bintang Nan Cemerlang dan hanya menemukan sebuah kandang hina, bukannya istana megah!

Sudah pasti mereka terkejut dan bukan tidak mungkin kecewa! Namun yang luar biasa adalah sikap yang mereka tunjukkan kala menemukan sebuah kandang. Sebuah sikap yang patut kita teladani, karena masing-masing dari kita, suatu saat akan berhadapan dengan pengalaman serupa, berharap sebuah istana megah, namun kenyataannya justru terjebak dalam sebuah kandang kehidupan yang tidak nikmat.

Ketika mengharapkan kelimpahan, namun dikarunia kekurangan

Ketika mengharapkan kesehatan, namun dipercayakan kesakitan

Ketika memimpikan kesuksesan, namun tersandung dengan kegagalan-kegagaln.

Kalau anda pernah atau sedang mengalami pengalaman dipimpin ke dalan sebuah kandang kehidupan, belajarlah dari para majus!

Pertama, Ketika para majus menemukan sebuah kandang, mereka membuka mata rohani mereka untuk melihat Allah.

Secara fisik, gambaran yang dilihat para majusi jelas kurang impresif. Nyaris tanpa kesan! Namun demikian, melalui mata rohani yang terbuka, mereka mampu melihat kemuliaan dibalik kehinaan; Kemegahan di balik kesederhanaan; Keperkasaan dibalik kerapuhan; dalam diri Yesus Kristus, Sang bayi Natal

Apakah kita mampu membuka mata rohani kita kala mengalami pengalaman di dalam kandang?

Paulus mampu, itulah sebabnya kala ia ada di dalam penjara di kota Roma, ia sempat menulis:

Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

(Filipi 4: 13-14)

Daudpun mampu, itulah sebabnya kala dikejar-kejar oleh pasukan Anak kesayangannnya, Absalom, ia masih mampu untuk menggoreskan Mazmur 23.

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

John Maxwell menulis:

Perbedaan di antara orang Kristiani yang lemah dan orang kristiani yang kuat adalah sebagai berikut:

Orang Kristiani yang lemah hanya melihat kebaikan di dalam Allah. Ketika kebaikan berdatangan, ornag kristaini yang lemah dan belum dewasa akan berkata: ”Nah, ini pasti dari Allah karena segala seuatunya berjalan dengan baik.” ”Hmm, segala sesuatunya berjalan begitu lancara, saya tahu Allah pasti hadir didalamnya.” Padahal tidak selalu begitu.

Orang kristiani yang kuat melihat Allah baik dalam susah mauun senag. Orang percaya yang dewasa melihat Allah tdak hanya dalam kesenagan dan istana kerajaan, melainkan juga di pekarangan, bahkan di kandang kehidupan.

Kedua, ketika para majusi menemukan sebuah kandang, mereka memberikan yang terbaik yang menjadi milik kepunyaannya.

Di kala kita susah, gagal, kecewa, ada kecenderungan bagi kita untuk menutup diri kita kepada Allah dan kebutuhan-kebutuhan yang ada di sekeliling kita!

Pengalaman ” menghadapi sebuah kandang: kadang membawa kita kepada ”egosentrisme” yang terwujud dalam bentuk mengasihi diri sendiri dan tak peduli pada yang lainnya, termasuk Allah!

Nggak usah mikiran Allah, apalagi melayani Dia! Makinmelayani dia kok semakin susah aja sih! Demikain kata-kata yang kerap kali keluar saat badai kehidupan datang menghempas.

Kalau Cuma gini aja berkatnya, tanpa Allah sih gua bisa! Demikian kata-kata yang keluar dari biblir kita kalau pengharapan kita tak sesuai dengen kenyataan.

Pra majusi, sebaliknya, tetap memberikan yang terbaik dari mereka untuk sang bayi, meski sang bayi hanya tidur beralaskan jerami.

Kitapun seharusnya demikian.

Tetap memberi meski rugi!

Tetap melayani meski sakit!

Tetap berinadah kepada Allah meski doa belum terkabul!

Ketiga, ketika pada majusi menemukan sebuah kandang mereka tahu persis harus mengubah arah dari rencana perjalananya.

Pengalaman di dalam sebuah kandang, kerap kali cukup berharga. Di dalam sebuah kandang para majusi menemukan ”Mesias”. Di dalam sebuah kandang para majusi menyambut tantangan Allah untuk terlibat dalam penyelamatan sang Mesias dari keganasan serigala jahat macam Herodes! Pengalaman di dalam kandang akhirnay mengubah arah dari rencana perjalanannya semula!

”Pengalaman di dalam sebuah kandang” – pengalaman-pengalaman pahit di dalam hidup kita kadang menggemakan suara Allah untuk mengubah arah hidup kita

Paulus mengalaminya – matanya buta dan tak berdaya – Pengalaman di dalam Kandang,

Dan Pengalaman itu pada akhirnya membawa ia mengubah orientasi hidupnya, dari penentang Kristus menjadi pembela Kristus.

John D. Rockeffeler mengalaminya – ia menderita penyakit yang serius – lagi-lagi pengalaman di dalam kandang.
Pengalaman semacam itu akhirnya mengubah orientasi hidupnya, dari orang yang luar biasa pelit, menjadi orang yang murah hati. Menurut catatan ia sudah menyumbangkan lebih dari setengah milyard dolar untuk tujuan kemanusiaan.

Charles Colson mengalaminya – kala harus mendekam 7 bulan lamanya dalam penjara karena terlibat di dalam skandal Watergate yang menjatuhkan Presiden Nixon.

Pengalaman dalam kandang itu akhirnya mengubah orientasi hidupnya. Pengalaman di dalam kandang membawanya untuk menjadi pelayan Tuhan. Ia memulai pelayanan para narapidana yang disebut Prison Fellowship. Pada awal tahun 1990-an pelayanan ini berkembang ke 50 negara bagian di Amerika yang merekrut lebih dari 40.000 sukarelawan.

Bagaimana dengan anda?

Apa anda sedang di bawa kedalam ”kandang-kandang” kehidupan? ”sakit, gagal, ditolak, bangkrut! Bila itu masalahnya, berdoalah agar anda bisa memiliki kepekaan untuk mendegar suara Allah – Jika Allah menghendaki agar engkau mengubah orientasi hidupmu. Lakukan sekarang!

inspired by:

John Maxwell’s sermon

KARUNIA-KARUNIA ROH DALAM HIDUP DAN PELAYANAN (1)

Pertanyaan-pertanyaan di sekitar karunia-karunia Roh kurang begitu berkembang dalam generasi-generasi sebelum kita. Namun, pesona dari gerakan Pentakosta dan Karismatik modern yang telah menarik perhatian lebih setengah milyar dari mereka-mereka yang mengklaim sebagai pengikut-pengikut Yesus, telah mengakibatkan peningkatan interest (ketertarikan) yang luar biasa tentang hal-hal yang berkaitan dengan karunia-karunia Roh. Dalam presentasi kali ini, saya akan mencoba untuk menyoroti dan menjawab beberapa pertanyaan penting dan mendasar yang berkaitan dengan karunia-karunia Roh. Di samping itu, saya juga akan menyoroti dan menjawab secara ringkas beberapa pertanyaan khusus mengenai hubungan karunia Roh dan buah roh, nubuat, bahasa roh dan sebuah evaluasi singkat tentang beberapa aspek dari gerakan apostolik baru yang secara langsung berkaitan dengan karunia-karunia roh tertentu yang dilukiskan di dalam Alkitab.

9 “D”

Menjawab Pertanyaan-pertanyaan

Mendasar Mengenai Karunia-karunia Roh

Dalam Hidup dan Pelayanan


Untuk mempermudah ingatan kita, maka dalam bagian pertama dari presentasi ini saya menggunakan istilah “9 D” (Huruf D adalah huruf awal dari tiap sub-bab) untuk menjelaskan pemahaman dasar mengenai Karunia-karunia Roh.

1. Definisi

Apakah yang dimaksud dengan Karunia-karunia Roh itu

Wayne Grudem mendefinisikan karunia roh sebagai “kemampuan apa saya yang diberdayakan oleh Roh Kudus dan digunakan dalam pelayanan gerejawi.” Definisi yang cukup luas ini tentu saja mencakup karunia yang berkaitan dengan bakat-bakat alami (semacam mengajar atau memberikan pimpinan) dan karunia-karunia yang lebih punya nuansa “adikodrati” dan kurang berkaitan dengan bakat-bakat alami (semacam karunia bernubuat, menyembuhkan orang sakit, atau membedakan Roh). Alasan dibalik pemahaman ini bisa kita lihat paling tidak dalam daftar karunia-karunia Roh yang ditulis oleh Paulus (Rom 12: 6-8; 1 Kor 7:7; 12: 8-10, 28 dan Ef. 4:11). Dalam daftar-daftar tersebut di atas, Paulus mencantumkan baik karunia-karunia Roh yang lebih terkait dengan bakat alami maupun karunia-karunia Roh yang lebih terkait dengan hal-hal yang lebih bersifat adikodrati.

Kalau begitu, apakah kita boleh mengatakan bahwa bakat-bakat alami itu identik dengan karunia Roh?

Dalam pengertian yang lebih luas, kita harus memberikan jawaban yang affirmatif terhadap pertanyaan tersebut di atas. Entah suka atau tidak suka, semua yang ada pada diri manusia (entah itu orang percaya atau tidak percaya) berasal dari anugerah Allah. Suara merdu, atau kesanggupan memainkan alat musik tertentu, atau menciptakan seni lukis dan seni patung yang indah tidaklah muncul begitu saja. “Benih-benih”nya telah ditanam dan dipupuk oleh Allah untuk mendatangkan kebaikan dan keindahan kepada seluruh tatanan ciptaanNya

Dalam pengertian yang lebih sempit dan mengacu pada definisi karunia Roh yang tersebut di atas, kita harus memberikan jawaban yang bersifat “conditional” (bersyarat). Maksudnya, bakat-bakat alami akan menjadi karunia-karunia Roh sepanjang mereka berfungsi sesuai dengan maksud yang telah ditetapkan oleh Roh Kudus, yakni untuk membangun dan mengembangkan Kerajaan Allah di dunia ini melalui Tubuh Kristus (Gereja Tuhan). Sebaliknya, bakat-bakat alami akan tetap menjadi bakat-bakat alami (bukan merupakan karunia Roh) sepanjang ia tidak difungsikan sesuai maksud dan rencana dari Roh Kudus.

2. Desain:

Apa tujuan pemberian karunia-karunia Roh?

Karunia-karunia Roh diberikan untuk beberapa tujuan berikut:

o Memuliakan Allah (1 Pet. 4:11)

o Memperlengkapi orang percaya bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus

(Efesus 4: 12)

o “Mempersatukan” tubuh Kristus (Efesus 4: 3-7)

ROH KUDUS MENGINSYAFKAN MANUSIA AKAN DOSA (YOHANES 16: 8-9)


PENDAHULUAN

Sebuah Kota penuh dengan banyak gereja,

Punya banyak pengkhotbah besar, punya musik, dan paduan suara yang luar biasa

Jika semuanya berujung kegagalan untuk memenangkan jiwa-jiwa, lalu bagaimana lagi?

Pelatihan dan pendidikan yang terbaik mereka punya

Rencana-rencana dan strategi mereka sempurna

Orang-orang dengan talenta terbaik mereka dapatkan

Tapi kenapa bisa gagal?

Saudaraku, sebenarnya yang mereka perlukan untuk

Memenangkan dunia adalah Allah Roh Kudus.

Puisi di atas menggarisbawahi betapa perlunya kita akan pribadi Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus tak mungkin bagi kita untuk memenangkan jiwa bagi Yesus. Itulah yang menjadi inti dari pesan yang terdapat dalam Yohanes 16: 8-9

Kenapa dunia tak mungkin dimenangkan tanpa Roh Kudus?

ISI:

1. Karena hanya Roh Kuduslah yang memampukan orang melihat dirinya secara akurat dan obyektif.

Ada 3 cara orang memandang dirinya sendiri:

· Menurut “kaca mata” dirinya sendiri

· Menurut “kaca mata” orang lain

· Menurut “kaca mata” Allah Roh Kudus

Pandangan yang pertama dan kedua kerap kali tidak akurat. Pandangan yang ketiga adalah pandangan yang paling akurat dan obyektif. Roh Kudus memampukan orang melihat dirinya sebagaimana adanya: misalnya saja, benar dia orang baik, tapi bukan berarti tidak berdosa; benar mungkin dia orang yang terhormat, namun bukan berarti tak perlu pengampunan dan pendamaian dengan Allah.

2. Karena hanya Roh Kuduslah yang mampu menggerakkan emosi manusia sedemikian rupa hingga mereka merasa tidak puas dengan keberadaan diri mereka yang sekarang.

Sekali orang menyadari keberadaan dirinya secara obyektif dalam terang Roh Kudus, ia mulai menyesali tindakan-tindakan yang pernah ia lakukan sebelumnya. Jika sebelumnya ia tak peduli dengan kehidupan yang dijalaninya, kini setelah dijamah oleh Roh Kudus,

ia merasa tidakpuas, tidaknyaman, menyesal, bahkan seperti Rasul Paulus benci dengan apa yang telah diperbuatnya (Roma 7: 15).

3. Karena hanya Roh Kuduslah yang mampu memimpin kehendak manusia untuk mereformasi dirinya.

Perubahan pandangan terhadap diri sendiri, goncangan emosional, pada akhirnya akan memimpin seseorang pada keinginan untuk merubah (mereformasi) hidup. Tidak lagi hidup bagi diri sendiri, tapi bagi DIA yang telah memberi hidup (Galatia 2: 20)

KESIMPULAN:

Roh Kudus adalah satu-satunya pribadi yang mampu membawa orang insyaf akan dosa-dosanya dan mendorong dia berpaling pada Kristus. Namun demikian, kerapkali DIA melakukannya dengan perantaraan hidup kita. Melalui pikiran, kata, dan tindakan kita DIA membawa orang-orang kepada pertobatan. Pertanyaannya adalah: apakah pikiran, kata, dan tindakan kita telah menjadi alat efektif dari Roh Kudus atau justru sebaliknya, menjadi penghalang dan batu sandungan yang efektif bagi orang untuk datang kepada Kristus?

KIAMAT 2012

Beberapa hari terakhir gedung-gedung bioskop di seluruh dunia sedang panen besar! Lantaran ribuan orang saling bersaing untuk mendapatkan tempat duduk guna menyaksikan sebuah film fenomenal yang berjudul 2012. Menurut data yang saya peroleh seminggu setelah direlease, 2012 telah mengeruk pendapatan USD 241. 72 juta. Sebuah jumlah yang luar biasa bukan!

Kesuksesan film ini tentu tak bisa dilepaskan dari sentuhan apik dari sutradara spesialis film bencana, Roland Emmerich. Anda yang sudah menyaksikan film ini tentu terkesan dengan special effect luar biasa yang ditampilkan dalam film ini untuk menggambarkan akhir dari dunia.

Namun, ada factor lain yang membuat film ini sukses luar biasa. Film ini diangkat dari sebuah interpretasi terhadap penanggalan suku Maya – sebuah suku yang pernah hidup di semenanjung Yucatan, Mexico-Guatemala, yang kini telah punah akibat kebrutalan pendatang-pendatang dari Eropa. Beberapa orang percaya bahwa suku Maya memiliki kemampuan yang luar biasa untuk memprediksi masa depan. Salah satu bukti yang sering dikutip adalah bahwa mereka dengan tepat meramalkan datangnya Hernan Cortez, pemimpin ekspedisi militer Spanyol, di benua Amerika pada tanggal 5 Maret 1519. Karena penanggalan suku Maya itu berakhir pada tanggal 21 Desember 2012, para penganut teori Kiamat 2012, membuat sebuah hipotesa bahwa pada saat itulah dunia akan berakhir.

Teori ini mungkin hanya akan menjadi sekedar teori yang tak berarti kalau media tidak campur tangan. Namun kuasa dari media, khususnya TV dan internet, yang mengaitkannya dengan beberapa teori lain entah itu dari lingkaran keagamaan atau sains yang juga berbicara tentang kemungkinan akhir dunia pada 2012, telah menyulut bukan saja kontroversi bahkan kebingungan dan kegelisahan di tengah masyarakat. Beberapa rohaniwan Islam bahkan dengan tegas mengharamkan menonton 2012 sebagai reaksi terhadap hysteria 2012 ini.

Lalu bagaimanakah sikap orang percaya dalam menanggapi munculnya isu akhir jaman/kiamat yang diusung oleh film 2012 dan sejenisnya?

Sebagai pedoman saya mengajak saudara untuk membuka Matius 24: 1-14. Perhatikan! bagian ini merupakan bagian awal dari rangkaian pengajaran Yesus mengenai akhir jaman dalam Injil Matius. Disamping menggarisbawahi beberapa fenomena yang menandai permulaan dari akhir jaman - semacam munculnya mesias dan nabi palsu, perang dan deru perang, gempa bumi dan kelaparan, Yesus juga memberikan beberapa nasehat praktis yang bukan saja relevan bagi murid-muridnya yang hidup 2000 tahun lalu, melainkan juga bagi kita yang hidup ditengah-tengah hembusan isu akhir dunia 2012.

Nasehat pertama, Gunakan akal sehat (sound judgment) yang telah dicerahan oleh Firman Allah ! Perhatikan ayat 4 … Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkanmu! Dengan Kata lain Yesus berkata: “Jangan menelan mentah-mentah semua yang kamu dengar…?”

Di masa silam nasehat Yesus ini berkaitan dengan munculnya orang-orang yang mengklaim sebagai mesias-mesias, padahal mereka bukanlah mesias yang sejati. Yesus meminta murid-muridnya menggunakan akal sehat mereka yang telah diterang oleh Firman secara maksimal sehingga mereka sanggup membuat penilaian yang benar. Kehadiran mesias-mesias itu tidak dapat mereka halangi! Namun mereka dapat membuat sebuah penilaian apakah mereka mesias tulen atau bukan.

Dewasa inipun kita tidak mungkin bisa membendung munculnya berbagai macam ajaran dan informasi yang berkaitan dengan Hari Kiamat. Melarang orang berhubungan dengannyapun bukan hal yang bijaksana. Namun toh ada sesuatu yang dapat kita lakukan – membuat sebuah penilaian dengan menggunakan akal sehat yang telah diterangi oleh Firman Allah.

Apa kata Alkitab mengenai Hari Kiamat! Tak seorangpun tahu terkecuali Bapa - Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” (Markus 13: 32).

Jadi jelas semua upaya untuk menetapkan tanggal Hari Kiamat adalah sebuah tindakan sia-sia yang tak perlu ditanggapi secara serius oleh umat Allah. Bahkan bila sumbernya berasal dari lingkaran gerejawipun, setiap usaha penetapan tanggal Hari Kiamat baik secara tersurat maupun tersurat perlu kita abaikan.

Belajar dari sejarah, kita telah melihat puluhan bahkan ratusan kali, nubuatan mengenai tanggal kedatangan Kristus, gugur karena gagal tergenapi. Montanus, William Miller, Hal Lindsey, Harold Camping adalah beberapa figure karismatik yang pernah menetapkan tanggal kedatangan Kristus. Semua nubuatan mereka tak pernah tergenapi.

Di Indonesia sendiri, pada tahun 2003 ada sebuah fenomena yang menarik perhatian media, ketika Mangapin Sibuea mendirikan sebuah komunitas akhir jaman yang disebut Pondok Nabi di Bandung. Komunitas yang sangat fanatic ini terpesona dengan gaya kharismatikdan kefasihan bicara pendeta Mangapin hingga mereka rela menjual harta benda dan bergabung dalam Pondok Nabi. Sibuea mengklaim bahwa dirinya adalah Rasul Paulus yang baru yang diberi pewahyuan oleh Allah untuk memberi tahu dunia bahwa pengangkatan jemaat akan terjadi pada tanggal 10 November 2003. Namun apakah pengangkatan jemaat terjadi pada hari itu? Tentu saja tidak!

Gunakan akal sehat yang elah dicerahan oleh Firman Allah untuk menilai informasi-informasi yang muncul, khususnya dari TV dan internet. Dua jenis media ini memang pengaruhnya luar biasa pada jaman ini. Namun sayang, kadang dua jenis media tersebut menampilkan informasi berat sebelah, tidak utuh, demi kepentingan komersial atau kepentingan-kepentingan lain.

Secara khusus dalam kaitannya dengan teori kiamat 2012 ada beberapa program dari History Channel dan beberapa situs dari internet yang seolah-olah memberi kesan kuat adanya bukti-bukti ilmiah yang solid untuk mempercayai kiamat 2012.

Tapi kita tidak boleh menelan informasi ini mentah-mentah , kita perlu menelusuri sumber-sumber lain untuk mendapatkan gambar dan informasi yang lebih utuh tentang keadaan sesungguhnya. Jika kita tidak mampu melakukannya sendiri kita bisa meminta bantuan beberapa saudara seiman yang lebih paham.

Berkaitan dengan isu kiamat 2012, saya telah menelusuri sumber-sumber yang punya kredibilitas tinggi semacam NASA. Hasilnya: Teori Kiamat 2012 sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah!

Kedua, Jangan gelisah apalagi panik .. perhatikan ayat 6 .. “Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah;

Salah satu faktor yang membuat Teori Kiamat 2012 menggentarkan hati kita adalah berita-berita buruk yang ada di sekeliling kita sekarang ini yang seolah menuntun kita kepada kebenaran teori itu. Jatuhnya beberapa lembaga keuangan besar di Amerika tahun lalu; gempa-gempa bumi besar yang terjadi di beberapa bagian bumi ini, perubahan cuaca yang ekstrem dan lain-lain.

Namun sekali lagi ditengah-tengah berita buruk ini marilah kita dengan nasehar Yesus… jangan gelisah apalagi panik.

Beberapa tahun silam, sehari setelah menara kembar WTC di New York hancur diserang teroris, banyak investor kehilangan jutaan dollar; disulut oleh kepanikan yang luar biasa bahwa ekonomi Amerika akan hancur lulu mereka menjual saham-saham mereka dengan harga rendah. Memang pasar saham sempat terpuruk. Namun itu tidak lama, beberapa hari kemudian pasar saham Amerika pulih bahkan mencetak kenaikan yang fantastis.

Jadi sekali lagi, di tengah-tengah munculnya berbagai isu kiamat semacam ini, kita diminta untuk tetap tenang, tidak gelisah apalagi panic. Kegelisahan dan kepanikan hanya akan membuat segala sesuatunya bertambah runyam

Ketiga, Bertekun dalam iman dan kasih kepada Allah … Perhatikan ayat 12-13 .. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Isu Kiamat 2012, terlepas dari benar atau tidaknya, di sisi lain menghadapan kita pada sebuah kenyataan bahwa dunia yang semakin tidak ramah dengan kita, dunia yang sedang menuju kepada degradasi rohani, moral, social dan akhirnya fisikal. Mungkin kita tidak bisa berbuat banyak untuk membendung arus degradasi yang demikian kuat ini, tapi kita bisa berbuat sesuatu agar degradasi rohani dan moral itu tidak sampai meracuni kita juga. Bagaimana caranya … ya terus bertekun dalam iman dan kasih kepada Allah. Itu berarti kita dengan sengaja mendekatkan diri kepada Allah; dengan sengaja memupuk kehidupan rohani kita agar kita bisa tetap bertahan di tengah-tengah dunia yang semakin jahat ini.

Viktor Frankl, seorang ahli jiwa berdarah Yahudi yang pernah mengalami penderitaan di kamp konsentrasi Jerman selama berlangsungnya Perang Dunia II mendapatkan sebuah kebenaran – orang-orang yang bisa terus hidup hingga berakhirnya perang dunia II di kamp-kamp konsentrasi Nazi adalah orang-orang yang terus menerus menyalahkan api cinta dan pengharapan untuk bertemu dengan orang-orang yang mereka kasihi. Hal yang serupa akan terjadi di dalam kehidupan orang-orang percaya. Bila api cinta kepada Allah dan sesama terus mereka nyalakan di dalam hati mereka, sudah pasti mereka tidak akan tercemar dengan kegilaan dan kerusakan yang ada di dunia ini.

Keempat, tetaplah “sibuk” dengan kewajiban dan panggilan hidupmu. Perhatikan ayat 14 … “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”

Perhatikan dunia boleh semakin gelap… akhir jaman boleh saja semakin mendekat… namun terang Injil tidak boleh pudar apalagi sampai padam. Ayat ini menggarisbawahi pentingnya orang percaya untuk terus sibuk dengan kewajiban dan panggilan hidupnya hingga berakhirnya jaman. Mereka tidak boleh dilumpuhkan dengan isu-isu akhir dunia hingga akhirnya hidup mereka menjadi tidak produktif dalam kerajaan Allah.

Menarik sekali mendengar pernyataan dari hamba-hamba Allah yang luar biasa di masa lalu. Ketika ditanya apa yang akan dia lakukan kalau Yesus datang esok hari, St. Fransiskus dari Asisi, menjawab hari ini dia akan meneruskan tugas sehari-harinya untuk mencangkul di ladang. Sementara Martin Luther mengatakan bahwa ia akan tetap menanam pohon apelnya hari ini, bahan jika Yesus datang esok hari. Kontras sekali bukan dengan pengikut pondok Nabi yang sampai harus keluar dari pekerjaan, meninggalkan rumah dan keluarga demi menyambut datangnya akhir jaman versi Mangapin Sibuea

Isu Kiamat 2012 atau isu-isu yang sejenis – apapun itu namanya – Jangan sampai membuat kita terkurung dalam ruangan penantian yang menjanjikan keselamatan diri sendiri namun berakhir dengan keadaan yang kontra produktif – pelayanan dan penginjilan terlupakan; tanggung jawab terhadap keluarga dan di dalam pekerjaan terabaikan.

PESAN DARI ZIKLAG

“PESAN DARI ZIKLAG”

(1 SAMUEL 30: 1-9: 17-21)

Introduction:

Nama sebuah tempat kadang bisa membangkitkan kenangan yang indah. “Barcelona,” bagi Susi Susanti dan Allan Budi Kusuma, tentu tak terlupakan karena di sanalah mereka meraih medali emas pertama bagi Indonesia melalui cabang bulutangkis pada tahun 1992.

Namun tidak selalu demikian! Penyebutan nama sebuah tempat kadang dapat membuka lama yang membangkitkan memori kesedihan dan duka lara. Auswitch, sebagai misal, bagi orang-orang Yahudi sarat dengan kenangan kelam. Hampir dua juta orang Yahudi tewas di sana selama berlangsungnya Perang Dunia Kedua di Eropa.

Ziklag, adalah nama sebuah tempat. Mungkin agak asing di telinga kita. Namun tidak bagi Daud! Apa yang terjadi di sana? Pesan apa yang bergema di sana bagi kita yang hidup pada awal abad XXI ini? Mari kita buka 1 Samuel 30

Body:

Episode Ziklag dimulai dengan kedatangan Daud beserta orang-orangnya ke Ziklag. Mereka tampaknya amat lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Alih-alih disambut dengan suasana yang menyegarkan dan membangkitkan semangat mereka disambut dengan sebuah pemandangan yang mengenaskan: Ziklag telah dibumihanguskan oleh orang-orang Amalek; Isteri-isteri beserta anak-anak dan sanak saudara meski tidak dibunuh, namun telah ditawan oleh bala tentara Amalek.

Sebuah luka batin yang lebar menganga dialami oleh para pria gagah ini. Sebuah kesedihan yang amat dalam terjadi. I Samuel ayat 4 mengambarkan kondisi ini dengan kata-kata yang ringkas namun tajam: “Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis.” Terjemahan yang lain menulis: “Mereka menangis sampai tidak ada lagi kekuatan untuk menangis”

Daud, pria yang disebut berkenan di hadapan Allah, mengalami sebuah pengalaman pahit, bahkan amat pahit. Jadi Pesan pertama dari Ziklag adalah: Umat Allah, Saya dan Anda, tidak kebal dengan pengalaman yang pahit, bahkan sangat pahit.

“Mereka menangis sampai tidak ada lagi kekuatan untuk menangis”. Suatu saat dalam kehidupan kita yang mungkin diawali dengan hasil dari sebuah tes medis (ada penyakit yang mematikan); sebuah telefon di malam hari yang membawa berita duka; sebuah surat yang berisikan berita pemberhentian dan penolakan: sebuah SMS yang berisikan pemutusan hubungan cinta kasih yang telah lama terjalin yang membuat anda patah hati; Sebuah berita dari kantor polisi tentang penahanan orang-orang yang anda kasihi.

Pesan pertama dari Ziklag diharapkan membangunkan kesadaran orang-orang Kristen yang tersihir oleh tipu daya Injil kemakmuran dan Injil Kesehatan. Injil yang memberitakan bahwa orang Kristen sejati tidak mungkin mengalami pengalaman-pengalaman pahit semacam sakit-penyakit, hubungan yang retak, kegagalan dan kemiskinan. Injil yang telah mempersempit ruang penggembalaan Allah hanya sebatas pada padang yang berumput hijau dan air tenang; Injil yang teah membuang “lembah kekelaman” sebagai ruang penggembalaan Allah. Injil yang menyanyi:

Ketika Aku berada di padang rumput hijau,

Allah itu baik, mengasihi, dan memberkatiku

Ketika aku berada di padang gurun gersang,

Allah itu tidak peduli dan mengutuki

Ketiika aku berada di dalam nikmat berbaring,

Allah itu pemelihara dan penjagaku

Ketika aku berada di dalam sakit berbaring,

Allah itu tuli dan marah kepadaku.

Injil yang lupa dengan kata-kata Yesus dalam Yohanes 16:33 “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan (kesulitan –terjemahan lain), tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

Kedekatan dengan Allah bukan jaminan bahwa kita akan bebas dari kesulitan dan kepahitan. Pengalaman Jerry Sittzer, penulis buku A Grace Disguised, menjadi bukti nyatanya. Suatu hari dalam perjalan pulang dari pelayanan dan kunjungan di penampungan orang-orang Indian di pedesaan Idaho, minibus yang ia tumpangi bersama keluarganya ditabrak dari depan oleh sebuah mobil yang dikemudikan oleh pemabuk. Hari itu Jerry mengalami “Ziklag”. Ibunya, Isterinya, dan salah satu anaknya tewas di depan matanya. Jerry menuliskan pengalamannya: “Perempuan yang telah saya nikahi selama dua puluh tahun meninggal; kesayangan saya, Diana Jane, anak kami yang ketiga, meninggal; ibu saya, yang telah melahirkan dan membesarkan saya, meningga. Tiga generasi pergi dalam sekejab!”

Itulah pesan pertama dari Ziklag: Anda dan saya rentan dengan pengalaman-pengalaman pahit dalam hidup ini.

Kini marilah kita kembali kepada 1 Samuel 30. Secara khusus kita lihat kembali ayat 6, “Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan.” Bagian ini menarik untuk ditelaah. Dalam saat-saat yang penuh duka, orang-orang ini bukannya menguatkan Daud: sebaliknya, mereka menyalahkan Daud sebagai sumber malapetaka ini. Bahkan yang lebih parah lagi mereka hendak merajam Daud dengan batu. Apakah dengan melempari Daud dengan batu masalah selesai! Tentu saja tidak! Tapi begitulah kecenderungan manusia, dalam situasi yang traumatis, logika kerapkali menjadi pudar, dan kebutuhan untuk mencari kambing hitam menjadi sesuatu yang benar-benar riil.

Pernakah anda mengalami pengalaman yang serupa? Ketika malapetaka dan kesulitan datang, bukannya kita saling menguatkan; kita justru saling menyalahkan. Sudah tak terhitung berapa banyak keluarga yang hancur gara-gara “blame-game” semacam ini. Ketika suami di PHK atau gagal dalam usaha, bukannya memberi dukungan, sang isteri malah menyalahkannya; Ketika anak terjatuh dan dirawat di rumah sakit, bukannya memberikan dukungan emosional kepada sang isteri yang tengah gelisah dan kalut, si suami menyebut dia sebagai ibu yang tidak becus menjaga anak. Sebuah pertanyaan besar: Apakah dengan terlibat dalam “blame-game” ini masalah selesai? Tidak! Sama sekali tidak!

Inilah pesan kedua dari Ziklag: Waspadalah! Dalam situasi yang sulit dan traumatis sering logika (akal sehat) menjadi pudar karena pengaruh dari nafsu kita mencari kambing hitam!

Mungkin kita perlu belajar dari keluarga almarhum Ronni Patinasarani. Ketika kedua anaknya, Benny dan Yerri terperangkap dalam penggunaan obat-obatan terlarang, keluarga ini tidak saling menyalahkan; Mereka saling merapatkan barisan, membangun kekuatan untuk mempercepat pemulihan. Dengar kesaksian dari Ronni Pattinasarani:

“Saya minta sama istri saya bahwa kita jangan malu. Bahwa ini bukan aib. Ini musibah. Ini masalah sampai anak-anak kita pake. Ini bukan salah anak-anak kita sebenarnya, tapi salah kita, orang tua. Setiap pagi doa saya cuma dua yang saya minta sama Tuhan. Pertama adalah kesehatan, yang kedua kesabaran….”

Setelah mengalami perjuangan yang cukup panjang dan melelahkan kini akhirnya kedua anak tersebut, Benni dan Yerry, telah sembuh total.

Kembali kepada teks yang kita baca, ayat 6 diakhiri dengan kalimat yang begitu menarik: Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya. Di saat dunia sepertinya mau runtuh; di saat orang-orang begitu loyal kepadanya, mulai runtuh loyalitasnya, Alkitab mencatat Daud semakin menyandarkan hidupnya kepada Allah.

Inilah Pesan ketiga dari Ziglak: Di saat badai kehidupan menerpa, jangan berlari dari Allah, berlarilah kepada Allah. Ini memang tidak selalu mudah bagi banyak orang. Sudah tak terhitung orang-orang percaya yang kehilangan imannya (menjauh dari Allah) ketika berhadapan dengan pengalaman pahit. Salah satu di antaranya adalah orang yang bernama Richard yang muncul dalam karya Philip Yancey, Kecewa dengan Allah. Richard adalah mahasiswa teologi di Wheaton College Graduate School. Dia kehilangan imannya ketika mengalami “Ziklag” dalam hidupnya ketika ia gagal memperoleh pekerjaan hingga akhirnya hutangnya menumpuk; yang lebih parah lagi, tunangannya yang bernama Sharon memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas. Richard telah berlari menjauhi Allah ketika Ia berkata: “Saya merasa bertobat, tetapi bertobat meninggalkan Allah.”

Mengapa kita perlu berlari kepada Allah ketika pengalaman Ziklag terjadi? Jawabnya, karena Allah adalah satu-satunya Pribadi yang dapat memulihkan hidup kita. 1 Samuel 30:7 -21 memberikan catatan bagaimana Allah mengubah ratapan menjadi tarian. Daud berhasil mengalahkan orang-orang Amalek dan mendapatkan kembali keluarga, kaum dan harta bendanya,

Selalu ada harapan bagi orang percaya yang berpaling kepada Allah ketika kemalangan tiba. Kadang Allah berkarya dengan begitu radikal, hingga yang kehilangan memperoleh kembali apa yang hilang. Seperti pengalaman Daud, dan pengalaman Ayub. Namun kadang tidak selalu demikian. Apa yang hilang tetap hilang, namun kita diberi sebuah kekuatan supernatural untuk menanggungnya hingga hidup kitapun mengalami pemulihan. Dengar kesaksian Jerry Sitzer setelah Allah memulihkan dirinya dari pengalaman traumatis yang saya singgung dalam bagian pertama dari khotbah ini:

Dukacita yang saya rasakan manis sekaligus pahit. Jiwa saya masih berduka; namun saya bangun setiap pagi dengan penuh sukacita, tidak sabar menantikan apa yang akan hadir bersama hari baru tersebut, tidak sabar menantikan apa yang akan hadir bersama hari tersebut. Tidak pernah saya merasakan kesakitan sebesar yang saya alami dalam tiga tahun terakhir; namun tidak pernah sebelumnya saya mengalami kesukaan demikian besar atas anugerah kehidupan hari lepas hari yang saya terima. Tidak pernah saya merasa begitu hancur; namun tidak pernah saya merasa begitu utuh. Tidak pernah saya begitu menyadari kelemahan dan kerapuhan saya; namun tidak pernah saya demikian puas dan merasa begitu kuat. Tidak pernah jiwa saya mengalami kematian seperti ini; namun tidak pernah jiwa saya lebih hidup daripada saat ini. Apa yang sebelumnya saya pandang berseberangan –dukacita dan sukacita, penderitaan dan kesenangan, kematian dan kehidupan – kini menjadi bagian-bagian yang membentuk keseluruhan. Jiwa saya telah ditarik mengembang. Di atas segalanya, saya semakin menyadari akan kuasa kasih karunia Allah dan kebutuhan saya akan hal itu. Jiwa saya telah bertumbuh karena disadarkan oleh kebaikan dan kasih Allah. … Hidup saya sedang diubahkan. Meskipun saya mengalami kesakitan, saya percaya hasilnya pasti akan indah.”

Itulah kebenaran dari pesan Ziklag: Tidak ada suatu waktu di mana Allah kekurangan kuasa untuk memberikan apa yang anda butuhkan untuk mengalami pemulihan. Tuhan memberkati.