headermask image

header image

PESAN DARI ZIKLAG

“PESAN DARI ZIKLAG”

(1 SAMUEL 30: 1-9: 17-21)

Introduction:

Nama sebuah tempat kadang bisa membangkitkan kenangan yang indah. “Barcelona,” bagi Susi Susanti dan Allan Budi Kusuma, tentu tak terlupakan karena di sanalah mereka meraih medali emas pertama bagi Indonesia melalui cabang bulutangkis pada tahun 1992.

Namun tidak selalu demikian! Penyebutan nama sebuah tempat kadang dapat membuka lama yang membangkitkan memori kesedihan dan duka lara. Auswitch, sebagai misal, bagi orang-orang Yahudi sarat dengan kenangan kelam. Hampir dua juta orang Yahudi tewas di sana selama berlangsungnya Perang Dunia Kedua di Eropa.

Ziklag, adalah nama sebuah tempat. Mungkin agak asing di telinga kita. Namun tidak bagi Daud! Apa yang terjadi di sana? Pesan apa yang bergema di sana bagi kita yang hidup pada awal abad XXI ini? Mari kita buka 1 Samuel 30

Body:

Episode Ziklag dimulai dengan kedatangan Daud beserta orang-orangnya ke Ziklag. Mereka tampaknya amat lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Alih-alih disambut dengan suasana yang menyegarkan dan membangkitkan semangat mereka disambut dengan sebuah pemandangan yang mengenaskan: Ziklag telah dibumihanguskan oleh orang-orang Amalek; Isteri-isteri beserta anak-anak dan sanak saudara meski tidak dibunuh, namun telah ditawan oleh bala tentara Amalek.

Sebuah luka batin yang lebar menganga dialami oleh para pria gagah ini. Sebuah kesedihan yang amat dalam terjadi. I Samuel ayat 4 mengambarkan kondisi ini dengan kata-kata yang ringkas namun tajam: “Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis.” Terjemahan yang lain menulis: “Mereka menangis sampai tidak ada lagi kekuatan untuk menangis”

Daud, pria yang disebut berkenan di hadapan Allah, mengalami sebuah pengalaman pahit, bahkan amat pahit. Jadi Pesan pertama dari Ziklag adalah: Umat Allah, Saya dan Anda, tidak kebal dengan pengalaman yang pahit, bahkan sangat pahit.

“Mereka menangis sampai tidak ada lagi kekuatan untuk menangis”. Suatu saat dalam kehidupan kita yang mungkin diawali dengan hasil dari sebuah tes medis (ada penyakit yang mematikan); sebuah telefon di malam hari yang membawa berita duka; sebuah surat yang berisikan berita pemberhentian dan penolakan: sebuah SMS yang berisikan pemutusan hubungan cinta kasih yang telah lama terjalin yang membuat anda patah hati; Sebuah berita dari kantor polisi tentang penahanan orang-orang yang anda kasihi.

Pesan pertama dari Ziklag diharapkan membangunkan kesadaran orang-orang Kristen yang tersihir oleh tipu daya Injil kemakmuran dan Injil Kesehatan. Injil yang memberitakan bahwa orang Kristen sejati tidak mungkin mengalami pengalaman-pengalaman pahit semacam sakit-penyakit, hubungan yang retak, kegagalan dan kemiskinan. Injil yang telah mempersempit ruang penggembalaan Allah hanya sebatas pada padang yang berumput hijau dan air tenang; Injil yang teah membuang “lembah kekelaman” sebagai ruang penggembalaan Allah. Injil yang menyanyi:

Ketika Aku berada di padang rumput hijau,

Allah itu baik, mengasihi, dan memberkatiku

Ketika aku berada di padang gurun gersang,

Allah itu tidak peduli dan mengutuki

Ketiika aku berada di dalam nikmat berbaring,

Allah itu pemelihara dan penjagaku

Ketika aku berada di dalam sakit berbaring,

Allah itu tuli dan marah kepadaku.

Injil yang lupa dengan kata-kata Yesus dalam Yohanes 16:33 “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan (kesulitan –terjemahan lain), tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

Kedekatan dengan Allah bukan jaminan bahwa kita akan bebas dari kesulitan dan kepahitan. Pengalaman Jerry Sittzer, penulis buku A Grace Disguised, menjadi bukti nyatanya. Suatu hari dalam perjalan pulang dari pelayanan dan kunjungan di penampungan orang-orang Indian di pedesaan Idaho, minibus yang ia tumpangi bersama keluarganya ditabrak dari depan oleh sebuah mobil yang dikemudikan oleh pemabuk. Hari itu Jerry mengalami “Ziklag”. Ibunya, Isterinya, dan salah satu anaknya tewas di depan matanya. Jerry menuliskan pengalamannya: “Perempuan yang telah saya nikahi selama dua puluh tahun meninggal; kesayangan saya, Diana Jane, anak kami yang ketiga, meninggal; ibu saya, yang telah melahirkan dan membesarkan saya, meningga. Tiga generasi pergi dalam sekejab!”

Itulah pesan pertama dari Ziklag: Anda dan saya rentan dengan pengalaman-pengalaman pahit dalam hidup ini.

Kini marilah kita kembali kepada 1 Samuel 30. Secara khusus kita lihat kembali ayat 6, “Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan.” Bagian ini menarik untuk ditelaah. Dalam saat-saat yang penuh duka, orang-orang ini bukannya menguatkan Daud: sebaliknya, mereka menyalahkan Daud sebagai sumber malapetaka ini. Bahkan yang lebih parah lagi mereka hendak merajam Daud dengan batu. Apakah dengan melempari Daud dengan batu masalah selesai! Tentu saja tidak! Tapi begitulah kecenderungan manusia, dalam situasi yang traumatis, logika kerapkali menjadi pudar, dan kebutuhan untuk mencari kambing hitam menjadi sesuatu yang benar-benar riil.

Pernakah anda mengalami pengalaman yang serupa? Ketika malapetaka dan kesulitan datang, bukannya kita saling menguatkan; kita justru saling menyalahkan. Sudah tak terhitung berapa banyak keluarga yang hancur gara-gara “blame-game” semacam ini. Ketika suami di PHK atau gagal dalam usaha, bukannya memberi dukungan, sang isteri malah menyalahkannya; Ketika anak terjatuh dan dirawat di rumah sakit, bukannya memberikan dukungan emosional kepada sang isteri yang tengah gelisah dan kalut, si suami menyebut dia sebagai ibu yang tidak becus menjaga anak. Sebuah pertanyaan besar: Apakah dengan terlibat dalam “blame-game” ini masalah selesai? Tidak! Sama sekali tidak!

Inilah pesan kedua dari Ziklag: Waspadalah! Dalam situasi yang sulit dan traumatis sering logika (akal sehat) menjadi pudar karena pengaruh dari nafsu kita mencari kambing hitam!

Mungkin kita perlu belajar dari keluarga almarhum Ronni Patinasarani. Ketika kedua anaknya, Benny dan Yerri terperangkap dalam penggunaan obat-obatan terlarang, keluarga ini tidak saling menyalahkan; Mereka saling merapatkan barisan, membangun kekuatan untuk mempercepat pemulihan. Dengar kesaksian dari Ronni Pattinasarani:

“Saya minta sama istri saya bahwa kita jangan malu. Bahwa ini bukan aib. Ini musibah. Ini masalah sampai anak-anak kita pake. Ini bukan salah anak-anak kita sebenarnya, tapi salah kita, orang tua. Setiap pagi doa saya cuma dua yang saya minta sama Tuhan. Pertama adalah kesehatan, yang kedua kesabaran….”

Setelah mengalami perjuangan yang cukup panjang dan melelahkan kini akhirnya kedua anak tersebut, Benni dan Yerry, telah sembuh total.

Kembali kepada teks yang kita baca, ayat 6 diakhiri dengan kalimat yang begitu menarik: Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya. Di saat dunia sepertinya mau runtuh; di saat orang-orang begitu loyal kepadanya, mulai runtuh loyalitasnya, Alkitab mencatat Daud semakin menyandarkan hidupnya kepada Allah.

Inilah Pesan ketiga dari Ziglak: Di saat badai kehidupan menerpa, jangan berlari dari Allah, berlarilah kepada Allah. Ini memang tidak selalu mudah bagi banyak orang. Sudah tak terhitung orang-orang percaya yang kehilangan imannya (menjauh dari Allah) ketika berhadapan dengan pengalaman pahit. Salah satu di antaranya adalah orang yang bernama Richard yang muncul dalam karya Philip Yancey, Kecewa dengan Allah. Richard adalah mahasiswa teologi di Wheaton College Graduate School. Dia kehilangan imannya ketika mengalami “Ziklag” dalam hidupnya ketika ia gagal memperoleh pekerjaan hingga akhirnya hutangnya menumpuk; yang lebih parah lagi, tunangannya yang bernama Sharon memutuskan hubungan tanpa alasan yang jelas. Richard telah berlari menjauhi Allah ketika Ia berkata: “Saya merasa bertobat, tetapi bertobat meninggalkan Allah.”

Mengapa kita perlu berlari kepada Allah ketika pengalaman Ziklag terjadi? Jawabnya, karena Allah adalah satu-satunya Pribadi yang dapat memulihkan hidup kita. 1 Samuel 30:7 -21 memberikan catatan bagaimana Allah mengubah ratapan menjadi tarian. Daud berhasil mengalahkan orang-orang Amalek dan mendapatkan kembali keluarga, kaum dan harta bendanya,

Selalu ada harapan bagi orang percaya yang berpaling kepada Allah ketika kemalangan tiba. Kadang Allah berkarya dengan begitu radikal, hingga yang kehilangan memperoleh kembali apa yang hilang. Seperti pengalaman Daud, dan pengalaman Ayub. Namun kadang tidak selalu demikian. Apa yang hilang tetap hilang, namun kita diberi sebuah kekuatan supernatural untuk menanggungnya hingga hidup kitapun mengalami pemulihan. Dengar kesaksian Jerry Sitzer setelah Allah memulihkan dirinya dari pengalaman traumatis yang saya singgung dalam bagian pertama dari khotbah ini:

Dukacita yang saya rasakan manis sekaligus pahit. Jiwa saya masih berduka; namun saya bangun setiap pagi dengan penuh sukacita, tidak sabar menantikan apa yang akan hadir bersama hari baru tersebut, tidak sabar menantikan apa yang akan hadir bersama hari tersebut. Tidak pernah saya merasakan kesakitan sebesar yang saya alami dalam tiga tahun terakhir; namun tidak pernah sebelumnya saya mengalami kesukaan demikian besar atas anugerah kehidupan hari lepas hari yang saya terima. Tidak pernah saya merasa begitu hancur; namun tidak pernah saya merasa begitu utuh. Tidak pernah saya begitu menyadari kelemahan dan kerapuhan saya; namun tidak pernah saya demikian puas dan merasa begitu kuat. Tidak pernah jiwa saya mengalami kematian seperti ini; namun tidak pernah jiwa saya lebih hidup daripada saat ini. Apa yang sebelumnya saya pandang berseberangan –dukacita dan sukacita, penderitaan dan kesenangan, kematian dan kehidupan – kini menjadi bagian-bagian yang membentuk keseluruhan. Jiwa saya telah ditarik mengembang. Di atas segalanya, saya semakin menyadari akan kuasa kasih karunia Allah dan kebutuhan saya akan hal itu. Jiwa saya telah bertumbuh karena disadarkan oleh kebaikan dan kasih Allah. … Hidup saya sedang diubahkan. Meskipun saya mengalami kesakitan, saya percaya hasilnya pasti akan indah.”

Itulah kebenaran dari pesan Ziklag: Tidak ada suatu waktu di mana Allah kekurangan kuasa untuk memberikan apa yang anda butuhkan untuk mengalami pemulihan. Tuhan memberkati.

Renungan Untuk Menyambut “Valentine’s Day”

“ADA APA DENGAN CINTA”

Introduksi:


Seorang siswa SMU ditugaskan untuk mendefinisikan “cinta” secara komprehensif. Tugas semacam ini mengharuskan ia untuk mencari nara sumber dari berbagai disiplin ilmu. Yang dilakukannya adalah meminta pendapat guru-gurunya mengenai kata cinta menurut disiplin ilmu yang dikuasainya, Inilah hasil petikan wawancaranya:

· Menurut Guru Fisika: “Cinta” adalah gaya tarik-menarik diantara dua insan yang berlawanan jenis yang bekerja menurut Hukum Newton: F = k. Q1.Q2/r.r.

Jadi karena cinta berbanding terbalik dengan kuadrat jarak, maka menurut hukum ini dapat diramalkan bahwa kekuatan cinta akan semakin melemah bila jarak yang memisahkan dua insan itu semakin jauh.

· Menurut Guru Biologi: “Cinta” adalah hubungan di antara dua insan yang berlainan jenis yang dibangun di atas dasar hubungan saling-menguntungkan dengan tujuan akhir adalah meneruskan garis keturunan.

· Menurut Guru Akuntasi: Cinta adalah suatu transaksi ekonomi yang menyebabkan kolom kredit pada kitab pembukuan semakin penuh.

· Menurut Guru Sejarah: Cinta adalah benda antik yang ditemukan secara tidak sengaja oleh orang yang sedang jatuh cinta.

· Menurut Guru Tata Negara: Cinta adalah hubungan diplomatic di antara dua insan yang masing-masing memiliki tujuan tertentu.

· Menurut Guru Pendidikan Jasmani: Cnta adalah suatu cabang olahraga yang menyebabkan orang dag-dig dug jantungnya dan kelelahan sewaktu menjalaninya.

Berbicara mengenai cinta memang tidak ada habisnya. Mendefinisikan “cinta” memang tak pernah tuntas dan bukan tugas yang mudah. Namun, berbicara mengenai cinta, selalu menarik perhatian. Jadi jangan heran, bila lagu-lagu, puisi-puisi, dan drama-drama didominasi oleh tema cinta. Bahkan sebuah hari khusus, kini diabadikan bagi “Cinta” – Valentine’s Day, yang akan kita peringati esok hari. Pagi ini, dalam rangka menyambut hari yang digandrungi oleh para pelaku cinta itu, saya akan membahas “cinta” dari sudut pandang Kitab Kidung Agung – Sebuah Kitab yang belum tentu 5 tahun sekali dibahas oleh para Hamba Tuhan melalui mimbar-mimbar yang dipercayakan kepadanya.

Teks:

Kidung Agung 8: 6-7

8:6 –Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!

8:7 Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

Pembacaan harafiah dari perikop ini, paling tidak akan menyingkapkan tiga gagasan penting mengenai cinta yang harus dimiliki oleh setiap orang yang akan dan sedang menjalin hubungan cinta yang serius dan permanen dengan lawan jenisnya,

  • Pertama, Cinta itu total. Perhatikan kata “hati” yang menurut David Allan Hubbard menunjuk pada segi-segi yang tidak kelihatan (inward)’. Perhatikan kata “lengan” yang menunjuk pada segi-segi yang tampak (outward). Cinta kasih Kristen adalah cinta kasih yang ditujukan pada manusia yang seutuhnya, bukan pada benda-benda, bukan pada “bank account”, bukan pada “otak yang cemerlang’, bukan pada “badan yang gempal, seperti ditonjolkan iklan-iklan di TV. Cinta kasih Kristen adalah cinta yang mampu menerima “pasangan”nya apa adanya. Cinta kasih Kristen adalah cinta yang tak luntur ketika penampilan fisik dari pasangan kita berubah, cinta kasih Kristen adalah cinta yang tak luntur ketika pasangan hidup tak lagi produktif.

    • Sebuah film, yang berjudul “A Beautiful Mind” telah memenangkan Piala Oscar beberapa tahun silam. Film yang dibintangi oleh Russel Crowe, ini diangkat dari kisah nyata tentang kehidupan John Nash pemenang hadiah Nobel untuk bidang ekonomi. John Nash adalah seorang yang brilliant, namun sayang dia mengalami gangguan kejiwaan yang disebut sebagai schizophrenia. Penyakit jiwa tersebut sedemikian parah hingga ia harus berhenti mengajar di alma-maternya, Princeton University, dan diasingkan di rumah sakit jiwa. Untungnya, John nash punya seorang isteri yang mengasihi dirinya secara total. Meski John Nash tak lagi produktif, dan justru menjadi beban keluarga, Nyonya Nash terus mendampingi dan mendukung suaminya hingga secara berangsur John Nash bisa mengatasi gangguan kejiwaan, kembali mengajar di Princeton, dan akhirnya meraih Hadiah Nobel yang amat bergengsi itu. Pada saat upacara penerimaan Hadiah yang dimimpikan oleh ilmuwan manapun di dunia itu Nash menyatakan bahwa semua ini bisa terjadi karena ia memiliki seorang isteri yang mengasihi dia secara total, mengasihi dia apa adanya, mengasihi dia sebagai seorang suami, bukan mengasihi dia karena ia punya otak yang brilliant.

  • Cinta itu eksklusif. Perhatikan ayat 6, menurut Roland E. Murphy kata-kata tersebut harus dipahami dalam kerangka budaya orang-orang Timur dekat yang punya kebiasaan untuk mengenakan sesuatu yang menjadi milik orang yang dikasihi entah dalam bentuk dikalungkan di leher atau dikenakan seperti cincin dilengannya. Praktek-praktek itu tentu punya tujuan tertentu, pengenaan benda-benda tersebut tentunya dimaksudkan untuk mengingatkan pihak-pihak yang terlibat dalam cinta, bahwa mereka saling memiliki, bahwa tak boleh ada pihak ketiga atau keempat yang boleh masuk dalam hubungan interpersonal mereka.

Hubungan cinta di antara pasangan-pasangan Kristenpun harus bersifat eksklusif. Tidak ada tempat bagi “poligami” atau “poliandri”. Tidak ada tempat bagi wanita idaman yang lain atau pria idaman yang lain. Dan hal itu baru bisa terjadi kalau ada yang namanya “fidelitas” – kesetiaan!

Bahkan dalam konteks “pacaran”. Para pemuda dan pemuda Kristenpun harus belajar menerapkan konsep fidelitas ini. Dr. John Gray, dalam bukunya “Mars dan Venus On Date” menyatakan bahwa ketika “kita mampu merasakan bahwa pacar kita memiliki potensi untuk menjadi pasangan, atau jika kita hanya merasakan bahwa kita ingin mengenal lebih jauh pribadinya dan membangun hubungan … kitapun harus siap melangkah ke tahap eksklusifitas.” Itu berarti, seorang pria harus punya komitmen untuk tidak memacari wanita lain; demikian pula sebaliknya.

  • Cinta itu kuat, punya daya tahan yang luar biasa. Lihat gambaran puitis yang begitu indah. Kekuatan cinta digambarkan sekuat kuasa maut, yang pantang menyerah dalam mengejar “manusia yang hidup”. Kekuatan cinta digambarkan seperti api ilahi yang tak mungkin dipadamkan oleh kekuatan-kekuatan kekacauan (the power of chaos) yang dalam PL dikaitkan dengan “air” atau laut. Kekuatan kasih Kristen seharusnya tak dapat dipatahkan oleh kekuatan-kekuatan chaos yang sedang bekerja di dunia ini. Kekuatan kasih Kristen seharusnya tak dapat dipatahkan ketika terjadi krisis keuangan, kekuatan kasih Kristen seharusnya tak dapat dipatahkan ketika kekuatan-kekuatan chaos menyebabkan salah satu dari pasangan hidup kita gagal, tak lagi produktif, dll. Kekuatan kasih Kristen seharusnya tak dapat dipatahkan oleh kekuatan-kekuatan chaos yang muncul dalam bentuk orang ketiga yang lebih menarik. Kekuatan kasih Kristen seharusnya tak boleh dipatahkan oleh kekuatan-kekuatan chaos yang mucul dalam bentuk harta dan performa.

Illustrasi:


Dalam karya besar, Homer, “Odysseus”, diceritakan tentang kesetiaan dan daya tahan cinta yang luar biasa dari Penelope, Ratu negeri Ithaca”. Isteri dari Odysseus. Diceritakan bahwa, setelah membawa kemenangan atas Kerajaan Troya, Oddysius ditawan selama 20 tahun oleh seorang peri laut yang bernama “Calypso”. Dalam rentang yang cukup panjang tersebut Penelope menghadapi kekuatan-kekuatan yang luar biasa yang hendak menghancurkan cintanya kepada Odyssius dalam bentuk pria-pria yang membujuknya untuk menikah dengannya. Para pria tersebut meyakinkan Penelope bahwa Odysseus telah meninggal dan ia tak punya pilihan lain terkecuali menikah dengan salah satu dari mereka. Untuk menghindarkan diri dari desakan terus menerus dari para pria itu, Penelope mengajukan syarat bahwa ia harus menyelesaikan sebuah jubah yang telah dijanjikan untuk dibuatnya untuk mertuanya. Dengan cerdik, Penelope berhasil memperdaya para pria tersebut, hingga untuk jangka waktu yang lama jubah tersebut tak kumjung selesai. Namun sayang salah seorang pelayannya berkhianat dan Penelope harus menyelesaikan gaunnya. Menjelang saat penentuan siapa pengganti Odysseus, suami tercinta yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Odysseus menyamar sebagai pengemis tua. Odysseus harus menyamar setelah mendapat peringatan bahwa para pria yang menghendaki Penolope jadi isterinya akan membunuh Odysseus bila ia datang terang-terangan. Bahkan Penelope sendiri tak mengenalinya. Penelope akhirnya membuat sebuah sayembara untuk menentukan siapa yang akan jadi suaminya. Sayembaranya: dia yang sanggup menarik tali busur milik suaminya dan melepaskan anak panah melewati sasaran tertentu akan jadi suaminya. Tak seorangpun dari antara mereka yang memaksanya jadi isterinya berhasil memenuhi syarat Penelope, terkecuali pengemis tua, yang bukan lain adalah Odysseus. Akhirmya mereka berdua dipersatukan lembali dan memerintah Ithaca dengan damai sejahtera.

Ada satu catatan lain yang perlu kita camkan ketika kita berbicara mengenai cinta dari sudut pandang Kitab Kidung Agung. Kitab Kidung Agung adalah salah satu kitab dari 5 kitab (Kidung Agung, Ruth, Pengkhotbah, Ratapan, dan Ester) yang disebut dengan nama “Megilloth” – Kitab-kitab ini adalah kitab-kitab yang selalu dibaca oleh ornag Israel pada hari-hari raya mereka. Bila Kitab Ruth dibaca pada hari Pentakosta, Ratapan pada hari kesembilan pada bulan Ab, Pengkhotbah pada Hari Raya Pondok Daun, dan Ester pada hari raya Purim, maka kitab Kidung Agung dibaca pada hari raya Paskah. Padahal Paskah adalah hari yang dikhususkan oleh bangsa Yahudi untuk memperingati kasih Allah yang luar biasa besar kepada kepada mereka dan sekaligus kerinduan dan tekad dari Israel untuk mengasihi Allah dengan segenap kekuatan mereka. Jadi jelas, konteks teologis dari Kitab Kidung Agung adalah hubungan kasih di antara Allah dan umatNya. Beranjak dari pemahaman inilah, bukanlah hal yang mengada-ada kalau kita menerapkan tiga gagasan cinta yang telah dibahas di atas ke dalam dimensi hubungan vertikal di antara Allah dan kita, manusia.

  • Itu berarti kasih kita kepada Allah haruslah total, menyeluruh, lahir dan batin, internal dan eksternal. Kasih kepada Allah bukan hanya diwujudkan dalam ungkapan verbal atau kerinduan di dalam hati saja, melainkan juga dalam tindakan.
  • Itu berarti juga kasih kita kepada Allah haruslah eksklusif. Tidak boleh ada ilah lain di dalam kehidupan kita. Hal-hal yang menggantikan kedudukan Alalh sebagai pusat dalam kehidupan kita harus dirobohkan. Bahkan kasih kita kepada diri sendiri ataupun orang-orang lain harus disubordinasikan di bawah kasih kita kepada Allah.
  • Pada akhirnya, itu berarti juga kasih kita kepada Allah haruslah kuat dan tak tergoyahkan. Meski angin kehidupan bertiup keras, meski badai kesulitan mengamuk, dan berteriak di mana Allah yang mengasihimu, kasih kita kepada Allah tidak boleh tergoyahkan. Hannah Withall Smith, seorang penulis Kristen yang terkemuka di abad XIX, adalah seorang yang banyak menjumpai badai kehidupan. Suaminya seorang hamaba Tuhan yang dipakai oleh Allah, namun pada akhirnya terjebak dalam ajaran yang kurang sehat yang akhirnya membawa dia keluar dari ajlan anugerah, menjadi pemeluk agama Budha, Anak-anaknya menikah dengan atheis. Dan ia sendiri terserang radang sendi yang parah, yang membuatnya hanya bisa berjalan dengan bantuan kursi roda. Meskipun demikian cintanya kepada Alllah tetap kuat dan tak tergoyahkan. Dia menulis sebuah buku “The God of All Comfort”.

Surat kepada Jemaat di Laodikia


“Ketika “Kelebihan” menjadi Sebab penurunan nilai kegunaan.”

Teks: Wahyu 3: 14-22.

Introduksi:

Gambaran seorang dokter yang sedang mendiagnosa seseorang, kemudian menemukan macam penyakit, sumber penyakit, dan obat yang dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit tersebut, mungkin merupakan gambaran yang paling cocok untuk melukiskan apa yang dilakukan oleh Yesus terhadap tujuh gereja di Asia Kecil pada abad I yang dokumennya terekam di dalam kitab Wahyu. Dokumen tersebut tentu saja penting bukan saja bagi mereka yang menjadi bagian dari ketujuh gereja di Asia kecil pada akhir abad I tersebut, melainkan bagi kita, gereja Tuhan, yang hidup pada awal abad XXI ini. Mengapa? Jawabnya; Sebab tujuh gereja tersebut, seperti diyakini oleh penafsir-penafsir terkemuka PB, semacam George Ladd, merupakan representasi dari tujuh macam situasi (konteks) beserta dengan tujuh macam tantangan (internal dan eksternal) yang dihadapi oleh gereja-gereja di segala jaman. Jadi, dalam satu atau lain hal, sesungguhnya ‘kita’ bisa mengidentifikasikan diri kita dengan gereja-gereja yang disebutkan di dalam Wahyu 2-3.

Surat kepada Jemaat di Laodikia menjadi fokus dari uraian Firman Tuhan pagi ini. Yesus Kristus, sang
Empunya Gereja, melalui diagnosanya yang tak mungkin salah akan menunjukkan kepada kita (1) ‘penyakit rohani apa yang sedang diderita oleh jemaat ini; (2) penyebab atau sumber dari ‘penyakit’ tersebut; (3) obat atau penangkal bagi ‘penyakit’ tersebut.

(1) Syndroma Laodikia (ayat 15-16) – Penurunan Nilai Guna

“Suam-suam kuku” adalah ungkapan yang digunakan oleh Yesus untuk melukiskan penyakit yang sedang berjangkit di tengah-tengah jemaat Laodikia. Untuk memahami makna dari ungkapan ini lebih
baik kita pergi ke lembah Lycus. Pada abad pertama, terdapat tiga kota di lembah itu yang
letaknya tak terlalu jauh satu sama lain. Kota pertama, Hieropolis, terkenal karena memiliki sumber air panas yang berkhasiat obat. Kota kedua, Kolose, terkenal karena memiliki sumber air dingin yang murni dan menyegarkan.Kota ketiga,Laodikia, tidak memiliki sumber air sendiri. Air yang ada di sana diperoleh dengan
mengalirkan air dari sumber-sumber air yang berada di luar kota. Yang menarik adalah, karena letak
Hieropolis lebih tinggi dari Laodikia, air panas yang berkhasiat obat di sana mengalir turun ke bawah ke arah kota Laodikia, membentuk semacam air terjun yang tingginya 300 kaki. Namun air yang
ditemukan di sana “suam-suam kuku” dan tak punya khasiat apa-apa. Mengapa? Setelah menempuh jarak
6 mil, air dari Hieropolis itu bukan saja kehilangan derajat panasnya, melainkan juga kehilangan khasiat obatnya karena mineral-mineralnya tertinggal dalam batuan yang dilewatinya. Jadi, jelas, “suam-suam kuku” yang dimaksudkan di sini tidak ada kaitannya dengan “temperatur rohani” seseorang, melainkan berkaitan dengan penurunan nilai guna. Air yang suam di kota Laodikia kurang bernilai guna (lebih rendah mutunya), bila dibandingkan dengan air panas Hieropolis yang mengandung khasiat obat dan air dingin Kolose yang murni dan menyegarkan. Anda dan saya sedang mengalami “syndroma Laodikia” bila anda dan saya mengalami penurunan nilai guna. – ketika kehidupan kita gagal untuk menjadi berkat; ketika keluarga,
teman, atau masyarakat tidak lagi bisa merasa kehilangan ketika kita tidak ada di tengah-tengah mereka; ketika ketidakhadiran kita malah menjadi sumber kebahagiaan mereka.

(2) Sumber dari “Syndroma Laodikia”. (ayat 17)

Sumber atau penyebab dari Syndroma Laodikia jelas – “kelebihan yang mereka miliki”. Mereka adalah “jemaat yang sukses” dari kaca mata manusia. Sama suksesnya dengan kota mereka yang menjadi: (1) salah satu pusat perbankan dan keuangan abad pertama. Cicero, orator ulung abad I pun tak segan-segan
mendepositokan kekayaannya di sana; (2) produsen salah satu kain wol paling bermutu pada abad I; (3) salah satu pusat sekolah kedokteran terkemuka dan sekaligus produsen salep mata yang
terkemuka di abad pertama. Merekapun tidak dikejar-kejar atau dianiaya seperti rekan-rekan di Smirna dan Filadelfia, dan tidak pula mengalami masalah dengan ajaran sesat, seperti rekan-rekan
mereka di Efesus dan Pergamus. Pokoknya keadaan mereka adalah “makmur”, “adem-ayem”. Ironisnya justru keadaan semacam inilah yang menjadi sumber dari masalah mereka. Betapa seringnya orang-orang percaya mengalami Syndroma Laodikia karena “kelebihan” yang mereka miliki. Melimpahnya berkat membuat mereka lupa Tuhan dan kehilangan kewaspadaan rohani. Sebut saja, nama Jim Bakker dan Robert Liardon, yang tersandung jatuh, justru ketika mereka ada di puncak sukses. Bukan hal yang tak mungkin pula bila nama kita ada dalam “list” penderita syndroma Laodikia – ketika kita terlena karena keberhasilan kita, ketika kita berpuas diri dan merasa cukup, ketika kita tak waspada lagi, di tengah-tengah suasana “bebas dari krisis’, hingga gawang kehidupan rohani kita dibobol oleh musuh.

(3) Obat Penangkal Syndroma Laodikia (ayat 18-20)

Syndroma Laodikia memang berbahaya karena akan menjadikan kehidupan Kristen kita kehilangan daya guna. Tetapi untunglah fenomena ini tidaklah seperti penyakit sirosis (pengerasan) hati yang “irreversible” (tak dapat pulih kembali). Syndroma Laodikia bisa ditaklukkan! Kehidupan Kristen Kita akan punya daya guna lagi ! Pertanyaannya adalah: Bagaimana caranya? Apa ‘obat’nya? Pertama, menyadari dan mengakui akan ketidakmampuan kita – dalam bahasa kitab Wahyu kita mengakui jati diri kita yang melarat, telanjang, dan buta (3: 17-18). Kedua, dengan mengundang dan melibatkan Kristus sebagai Tuhan dalam setiap elemen kehidupan kita – dalam bahasa Kitab Wahyu kita “membukakan pintu hati” kita untuknya dan menikmati persekutuan yang paling erat yang diwujudkan dalam bentuk makan malam (3: 20)

Lemah Lembut

Introduksi:

Ada satu kata dalam bagian yang kerapkali disebut ucapan-ucapan bahagia atau “the beatitudes, yang hendak saya bahas secara khusus dalam khotbah pagi ini. Kata tersebut adalah lemah lembut.

1. Makna dibalik kata “lemah lembut”

Bagaimana persepsi orang tentang “lemah-lembut:

  • Ada yang berpendapat, kalau orang yang lemah lembut adalah pendiam, tidak suka bicara. Dan kalaupun harus berbicara, maka suaranya setengah berbisik.
  • Orang lain berpendapat, bahwa orang lemah lembut itu orang yang pemalu dan tak suka tampil di depan.
  • Orang yang lain lagi berpendapat bahwa orang yang lemah lembut itu, adalah orang yang tak pernah atau tak bisa marah.

Itu adalah persepsi manusia, tetapi bagaimana pengertian lemah lembut menurut Kitab Suci.

Studi yang lebih dalam tentang kata lemah lembut ini dalam bahasa aslinya – praus, membawa kita pada 4 buah pengertian tentang “lemah lembut”:

  • Anda disebut lemah lembut bila anda mampu menempatkan diri anda pada titik tengah yang benar. Aristoteles, salah seorang filsuf besar Yunani, pernah menyatakan bahwa “lemah lembut” adalah salah satu kebajikan. Yang namanya kebajikan menurut Aristoteles, selalu terletak di antara dua ekstrem. Pada ekstrem yang satu terletak ekstrem “terlalu banyak”. Sedang pada yang ekstrem yang lain, adalah ekstrem terlalu sedikit. Kedua ekstrem ini sama-sama tidak baik, alias buruk! Yang baik menurut Aristoteles, terletak di antara keduanya. Tidak terlalu banyak, tidak pula terlalu sedikit. Tidak berlebihan, tidak berkekurangan. Pas. Inilah yang biasa disebut “the happy medium: ( titik tengah yang menciptakan kebahagiaan).

    • Kelemahlembutan adalah kebajikan, sebab ia terletak di antara tindakan marah yang berlebih-lebihan di ekstrem yang satu, dan sifat lemah, pasif, tidak pernah marah, diekstrem yang lain.

    • Jadi lemah lembut, tidak melarang kemarahan, sebab marah itu manusiawi adanya. Orang bisa menempel larangan “dilarang merokok”, “dilarang meludah”. Dan orang bisa dengan mudah mematuhinya. Tapi coba tempel “dilarang marah” Dilarang jendralpun orang akan melakukannya. Yang berlawanan dengan lemah lembut sesungguhnya bukan marah itu sendiri, melainkan “kapan” marah tsb disalurkan. Apakah benar-benar pada saat yang tepat.

    • Yesus, Allah yang menjadi manusia, mewujudkan “kelemahlembutan” ini dalam bentuk yang sempurna. Dia adalah orang yang sabar, namun bukan berarti tidak bisa murka. Bahkan pernah amat murka. Dia murka kepada pemeras dan penipu yang berdagang di Bait Allah. Dia murka kepada orang-orang Farisi, karena dalam kemunafikan, mereka membuat agama sebagai penambah beban dan bukannya pembawa sukacita kepada manusia.

  • Anda disebut “lemah lembut” bila anda mampu mempunyai kendali atas diri yang sempurna atas diri anda sendiri. “praus”, kata asli lemah lembut kerapkali diterapkan pada proses membuat jinak binatang-binatang liar. Seekor anjing herder yang ada di rumah-rumah kita, dulunya adalah anjing-anjing liar yang buas dan berbahaya bagi manusia. Namun melalui proses “praus” – penjinakan dan pelatihan dan disiplin, anjing-anjing tersebut menjadi makhluk-makhluk yang setia, penurut, dan berguna bagi umat manusia. Tabiat-tabiat asli, dan kecenderungan-kecenderungan binatang tersebut telah sepenuhnya dikendalikan! Jadi, orang yang lemah lembut, adalah orang yang kecenderungan-kecenderungan alamiahnya, tabiat aslinya yang destruktif, telah mengalami “transformasi” dan dilatih sedemikian rupa hingga menjadi manusia yang berguna.

    1. Nicky Cruz,adalah seorang pemimpin gang di Brooklyn New York. Watak aslinya pemarah, berangasan, tak kenal takut dan suka main kekerasan. Namun, pertemuannya dengan Yesus Kristus, melalui Pdt, David Wilkerson, telah mentransformasi tabiat aslinya yang destruktif. Keberaniaanya untuk berkelahi dijalanan telah ditransformasi menjadi sebuah keberanian untuk melakukan tindakan yang benar – memerangi narkotika dan melayani anak-anak nakal di jalanan Amerika. Namun, perlu disadari bahwa perubahan Nicky tidak terjadi dalam waktu sehari saja. Perubahan tersebut perlu waktu! Ada Allah yang mengaruniakan anugurah dan pemberdayaan. Ada Nicky yang bersedia dan mau menjalani proses pembentukan.

  • Anda lemah lembut bila anda mampu mengakui keterbatasan anda sendiri – rendah hati. Pintu kerajaan sorga kono, terlalu rendah dan terlalu sempit, sehingga barangsiapa ingin memasukinya. Ia mesti berjalan dengan lutut seraya menundukan kepalanya. Itulah sebabnya menurut Yesu, hanya mereka yang memiliki kejujuran, kepolosan, serta kerendahan hati seorang kanak-kanak yang boleh masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mereka yang hidup mengejar kebesaran dan kemuliaan bagi mereka sendiri termasuk golongan orang yang tidak memeuhi syarat.

  • Anda disebut lemah lembut bila anda mampu beradaptasi pada situasi yang sulit yang diijinkan Allah terjadi dalam hidup anda. Orang yang lemah lembut, menurut Profesor Meadley, adalah orang yang punya hati baja, bisa melentur, namun sulit dipatahkan. Bisa menangis, kala pencobaan datang, namun tidak pernah berserah pada dosa, keputusasaan, apalagi kemurtadan.

2. Hasil dari Kelemahlembutan – memiliki bumi

Frederiech Nietzche, filsuf sinting yang pikirannya banyak dianut pemikir pasca-modern Barat, pernah berkata, “Dunia menjadi milik yang kuat: yang perkasalah yang benar; yang lemah lembut harus melayani yang kuat; Kerendahan hati adalah kejahatan; kebanggaan diri adalah kebajikan …. Kekristenan itu negative!

Tapi Yesus mengatakan yang sebaliknya: “Berbahagialah mereka yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Mana yang benar: “Yesus atau Nietzche”

Saya percaya Yesus yang benar!

Profesor Meadley pernah berkata, Kita benar-benar menjadi seorang pewaris bila kita bisa bersuka cita tanpa adanya rasa takut dan perasaan bersalah.

Orang-orang seperti Alekzander Agung ,Napoleon, dan Josef Stalin boleh jadi menjadi “penguasa-penguasa dunia”. Namun mereka tidak benar-benar memilikinya, karena hidupnya diwarnai oleh ketakutan.

Stalin memang seharusnya tak kenal takut. Bukankah dia penguasa Rusia yang perkasa. Namun sayang dia tidak bisa menikmati apa yang dia miliki. Setiap hari dia takut pergi tidur. Ia memiliki tujuh kamar tidur yang berbeda. Masing-masing kamar dapat dikunci seperti pintu besi. Untu menghindari aksi pembunuhan, setiap malam dia tidur di kamar yang lain. Lima limousine dengan supirnya membawa dia ke mana ia mau pergi, masing-masing mobil dengan kain korden tertutup supaya tidak ada yang tahu yang mana berisi Stalin. Kecemasannya begitu mendalam, sehingga ia menyewa seorang pelayan yang tugasnya khusus memonitor dan penjaga kantong-kantong tehnya. Stalin menjadi “penguasa bumi” namun gagal memiliki bumi

Demikian pula dengan orang-orang seperti Howard Hughes, seolah menjadi ‘penguasa dunia” melalui kekayaannya, namun sebenarnya mereka tidak benar-benar memilikinya. Hughes seorang milyader, namu kecurigiaannya terhada orang dan paraoianya tentang kuman membuat dia pergi ke Meksiko, dan disana ia meninggal seperti pertapa kurus kering dengan jenggot sampai di pertu dan kuku jarinya keriting seperti alat pembuka tutup botol. Hughes tidak pernah menjadi seorang pewaris, sebab dia hidup dalam cengkraman ketakutan!

Tapi, perhatikan St. Fransiskus dari Asisi, yang tidak punya imperium untuk diperintah, berjuta dolar ada di bank, namun namanya dikenang sepanjang jaman sebagai seseorang yang berbahagia, karena kerendahan hati, ketundukan pada kehendak Allah, dan sukacita luar biasa yang mengalir dari hidupnya.

Perhatikan pula Ibu Teresa yang sederhana, namun hidupnya mengandung inspirasi kebahagiaan dan kepuasan yang tertinggi. Mereka ini adalah si lembut hati yang mewarisi bumi.

Anda ingin menjadi pewaris-pewaris bumi kini dan nanti! Hiduplah menurut norma kerajaan Allah – lemah lembut!

Belajar Dari Hana

“BELAJAR DARI HANA”

(1 Samuel 1: 1-28; 2: 1-10, 21)

Di dalam Perjanjian Lama, paling tidak ada 3 tokoh wanita utama yang memiliki kesusahan besar karena tidak dikarunia anak. Tokoh yang pertama, Sarah, dihukum oleh Tuhan karena mentertawakan janji Tuhan bahwa ia akan mengandung dalam keadaan pasca menopause. Tokoh yang kedua, Rahel, cenderung untuk merajuk dan bersungut-sungut karena apa yang di alaminya. “Berikanlah kepadaku anak, kalau tidak aku akan mati,’ demikian tuntutan Rahel pada suaminya Yakub. Cuma Hana, yang tidak jemu-jemunya membawa kerinduannya untuk mejadi seorang ibu ini di dalam hadirat Tuhan. Ada beberapa hal penting yang dapat kita pelajari dari Hana hari ini:

Pertama, Pantang menyerah, meski orang-orang yang lain sudah menyerah.

Situasi yang ada di sekitar Hana bukanlah situasi yang mendorong orang untuk berdoa. Umat Israel di masa Hakim-hakim sudah semakin tidak rohani, moral mereka semakin bobrok. Yang mereka kejar Cuma materi dan kenikmatan. Perhatikan bejatnya moral anak-anak Imam Eli – Hofni dan Pinehas. Kalau anak-anak imam aja sudah ”kayak” begitu apalagi masyarakat kebanyakan. Orang yang berdoa malah diejek, diledek, dianggap aneh, Karena itu jangan heran kalau Imam Eli sendiri menganggap Hana yang sedang khusyuk berdoa sebagai seorang yang lagi mabuk.

Belum lagi situasi internal yang dialaminya bersama dengan Allah. Dikatakan bahwa Hana berdoa dari tahun ke tahun. Perlu waktu yang lama sebelum doanya dikabulkan oleh Allah. Ada orang yang mengatakan bahwa penderitaan itu punya potensi mendekatkan orang kepada Allah. Memang pernyataan ini ada benarnya! Namun kalau penderitaan tersebut tak kunjung usai, kebalikannya yang bisa terjadi. Orang tak lagi bisa percaya dengan Allah. Philip Yancey, dalam bukunya Kecewa Kepada Allah, menceritakan pengalaman seorang mahasiswa sekolah teologi, yang kehilangan imannya kepada Allah. Ketika dia mulai mengalami derita, dengan semangat dia menghampiri Allah dalam doa dengan pengharapan besar Allah akan mengangkat deritanya. Namun Allah belum juga mengangkat beban deritanya seiring dengan berlalunya wakty. Malahan masalah-masalah lain datang secara beruntun menghantam hidupnya. Akhirnya dia menyerah! Dia kehilangan kepercayaannya kepada Allah yang Maha Kasih dan Mahakuasa.

Namun Hana lain! Tahun-tahun ”kebisuan Allah” tidak membuatnya menyerah. Sementara semua orang yang lain sudah mengangkat lutut, Hana masih menekuk lututnya. Hana pantang menyerah. Tuhan yang akhirnya ”menyerah”. Seorang putera diberikan kepada dia.

George Muller, seorang rohaniwan besar dari Inggris pernah berdoa khusus untuk keselamatan 5 orang temannya. Pada tahun kelima, satu orang bertobat. Pda tahun ke sepuluh dua orang lagi bertobat. Pada tahun keduapuluh lima seorang lagi bertobat. Jadi tinggal satu orang lagi yang belum bertobat. Coba terka berapa lama lagi George Muller berdoa bagi yang terakhir ini? Dua puluh tujuh tahun! Itu berarti sampai akhir hayatnya George Muller berdoa. Hasilnya? Beberapa hari setelah George Muller wafat, ornag yang kelima ini memeutuskan untuk menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamatnya. Lima puluh dua tahun bukan waktu yang singkat untuk bertahan dalam doa bukan? Mungkin hanya sedikit dari anatara kita yang akan bertahan dalam penantian dan perjuangan selama itu. Tapi tidak demikian dengan George Muller.

Hari-hari ini mungkin ada di antara anda yang sedang mulai atau sudah sekian lama menggumulkan sesuatu di hadapan hadirat Allah. Bahkan mungkin ada di antara anda yang sudah mulai bosan atau capek, karena Allah seolah ”berdiam diri” dan ”membisu”. Belajarlah dari Hana hari ini – Tak ada kata menyerah, meski semua yang lain sudah menyerah.

Kedua, Selalu mengingat Allah di kala ada masalah dan bebas dari masalah

Hana akhirnya mendapatkan Samuel, Doanya terkabul! Namun demikian dia tetap melanjutkan persekutuannya dengan Allah. 1 Samuel 2: 1-10 menjadi bukti bagaimana Hana yang telah terkabul doanya dan membayar nazarnya tetap memuliakan Allah yang Hidup. Apa yang kita pelajari di sini? Hana ingat Tuhan bukan hanya di kala ada masalah, namun di kala terbebas dari masalah. Betapa kontrasnya, dengan kondisi sebagian besar dari antara kita. Ketika kita hidup susah, kita begitu rajinnya mencari Tuhan. Ketika anak kita sakit, kita begitu rajinnya doa pagi. Ketika usaha kita seret, kita begitu aktifnya ikut doa puasa. Namun apa yang terjadi sesudah Allah menenangkan badai-badai kehidupan itu. Kadang kita melupakannya! Kita lebih mengutamakan usaha ketimbang Tuhan. Kita lebih peduli dengan tuntutan anak untuk berekreasi keluar kota pada hari Minggu ketimbang memuliakan Allah yang telah menyembuhkannya dari sakit. Kita ingat Tuhan di kala susah, namun melupakan dia di kala senang!

Ketiga, bukan hanya berani meminta, namun berani juga untuk memberi yang terbaik.

Hana bukan saja berani meminta seorang anak kepada Allah. Ketika Allah sudah memberikan kepadanya Samuel, dengan berani Hana mempersembahkannya untuk pekerjaan Allah. Memang itu nazar dari Hana. Namun ingat, Hanapun sebenarnya bisa saja membatalkan nazar itu secara sepihak. Memang berat bagi Hana untuk berpisah dengan anak semata wayang. Namun dia merelakannya demi kemuliaan Allah. Dan Allah menghormati pengorbanan Hana. 1 Samuel 2: 21 mencatat: ”Dan Tuhan mengindahkan Hana, sehingga ia mengandung dan melahirkan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan lagi….”

Saudara inilah misteri dari berkat Allah dalam kehidupan orang-orang yang percaya penuh kepadaNya. Ketika kita berani kehilangan banyak untuk Tuhan, kita akan menerima lebih banyak. Ketika kita berani memberikan yang terbaik, Allah akan ganti dengan yang jauh lebih baik.

Amanda seorang anak berusia tujuh tahun suatu waktu diajak oleh ibunya berjalan-jalan di sebuah mal. Mata Amanda suatu saat tertuju pada etalase toko yang menjual kalung-kalung imitasi. Pada hari ulang tahunnya ia menuntut ibunya membelikan kalung yang dilihatnya di mal itu. Karena harganya tak terlalu mahal. Ibunya akhirnya meluluskan permintaan Amanda. Sejak hari itu kalung tersebut menjadi milik kesayangan Amanda.

Suatu hari Papa Amanda mendatangi Amanda dan bertanya: ”Nak Apakah kau sayang Papa?” ”Tentu saja, Pa!” sahut Amanda. ”Kalau begitu apa kamu mau meluluskan permintaan Papa?’ ”Kenapa tidak Papa” Sahut Amanda. ”Begini, papa mau minta kalung yang dibelikan ibumu, boleh tidak?” ”Kalau yang itu sih jangan Papa. Papa boleh minta boneka Barbieku, Papa boleh minta buku ceritaku. Tapi jangan kalung ini Papa. Ini milik kesayanganku.” Akhirnya Papa Amanda meninggalkannya. Sebulan kemudian dia mendatrangi Amanda dengan permohonan yang sama. Tapi jawaban yang diterimanya sama pula. Menjelang Natal, Papanya datang lagi dengan permintaan yang sama. Kali ini Amanda menyerahkan kalung kesayangannya kepada papanya. Papanya memasukkan kalung itu ke dalam kantong celananya. Namun dia tidak segera meninggalkan Amanda. Papanya mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya yang lain. Sebuah kotak, kecil tapi indah. Dia memberikannya kepada Amanda. Dan Amanda membukanya. Sebuah kalung yang jauh lebih indah dan terbuat dari mas murni diberikan oleh papanya sebagai ganti kalung yang diberikannya.

Kalau kita tidak ”itung-itung” dengan Allah, Saya yakin dan percaya Tuhanpun tidak akan ”itung-itung” dengan kita. William Carey, Perintis Pekerjaan Misi di India, mengingatkan kita, ”Jangan hanya berharap hal-hal yang besar bagi Allah saja, Cobalah lakukan hal-hal yang besar untuk Allah!”