Baptisan dan Kepenuhan Roh Kudus:
Kunci Menuju Sebuah Kehidupan Kristen yang BerKelimpahan
(KPR 1: 6-8; Yoh 7: 37-38)
Bayangkan jika saya menyuruh dua orang, katakanlah namanya Daud dan Yonathan untuk membuat sebuah kerajinan tangan dari tripleks. Kepada Daud, saya memberikan segala perlengkapan yang dibutuhkan, mulai dari gergaji, kertas gosok, lem kayu, hingga vernis; tapi kepada Yonathan saya hanya memberikan tripleks saja, tanpa alat apapun. Pertanyaannya, Siapakah dari antara kedua orang ini yang punya kans berhasil? Sudah pasti Daud bukan! Mengapa Daud yang berhasil? Karena saya telah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk menuntaskan tugasnya. Sekarang bila kita balik pertanyaannya: Siapakah dari antara kedua orang ini yang punya kans untuk gagal? Jawabnya: jelas Yonathan! Mengapa? Ya, karena meski punya ketrampilan hebat, tapi karena tidak ada alat, tidaklah mungkin bagi Yonathan untuk menuntaskan tugasnya. Itulah sebabnya dia gagal.
Saya percaya bahwa kita semua sepakat dengan pernyataan: tidaklah mungkin bagi Allah untuk menyuruh kita menjalankan pekerjaan yang tak mungkin kita lakukan. Allah adalah pribadi yang sempurna dalam hikmat, kasih, dan kuasaNya. Itulah sebabnya ketika DIA memerintahkan murid-muridnya untuk melakukan sesuatu, dia telah mempersiapkan segalanya agar tugas tersebut dituntaskan.
Sore ini kita membaca Kisah Para Rasul (KPR) 1: 8, di sana ada tugas yang harus diselesaikan oleh murid-murid Yesus: manjadi saksi Kristus, di Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Namun bukan hanya ada tugas, ayat tersebut juga berbicara mengenai “power” – kuasa untuk menuntaskan tugas tersebut.
Pembacaan lebih lanjut bagian-bagian dari KPR menunjukkan bahwa yang dimaksud kuasa di sini bukan lain adalah baptisan di dalam Roh Kudus. Ya, oleh baptisan Roh Kudus murid-murid disanggupkan untuk menuntaskan misi yang diberikan oleh Kristus kepada mereka. Lihat bagaimana Yerusalem, Yudea, dan Samaria dijangkau oleh Injil; dan lihat pula bagaimana Paulus memenangkan ujung dunia waktu itu (Roma) bagi Kristus.
Mungkin tugas yang dipercayakan oleh Allah kepada kita saat ini tidak identik dengan tugas yang diberikannya kepada Petrus, Yohanes, dan Paulus. Namun, sebagaimana halnya, murid-murid abad I membutuhkan baptisan dan kepenuhan Roh untuk menuntaskan misi Allah di dalam hidupnya, kita, murid-murid Yesus abad XXI membutuhkan pengalaman dan pemberdayaan yang sama agar dapat menuntaskan tugas yang dipercayakan oleh Allah dalam hidup kita.
Sebuah pertanyaan: Apa sebenarnya yang terjadi di dalam diri kita ketika kita mengalami Baptisan dan kepenuhan Roh Kudus?
Pertama, melalui baptisan dan kepenuhan Roh Kudus, “passion” kita ditransformasi. Apa itu “passion”, kamus mengartikannya sebagai suatu dorongan hati, semangat yang menggerakan kita untuk melakukan sesuatu. Sebelum Pentakosta, Petrus dan murid-murid yang lain tidak punya “passion” untuk menjangkau bangsa-bangsa bukan Yahudi. Itulah sebabnya, mereka bertanya, kepada Yesus kapan Yesus akan memulihkan Kerajaan bagi Israel. Jelas, pertanyaan ini mencerminkan sikap hati mereka yang masih “cinta Yahudi saja”. Sangat kontras, dengan hati Yesus yang cinta segala bangsa, tak peduli “kuning, hitam, putih, merah”.
Namun sesudah Pentakosta, kita melihat sebuah transformasi “passion”, mereka bukan lagi “cinta-Yahudi” saja melainkan cinta “orang yang bukan Yahudi juga”. Lihat bagaimana Petrus dan kawan-kawannya menjangkau orang-orang Samaria yang dulu mereka benci; Kornelius, orang bukan Yahudi, yang dulu mereka abaikan. Baptisan Roh Kudus telah mentransformasi “passion” mereka. Inilah juga yang persis terjadi di dalam kehidupan orang percaya masa kini ketika mereka mengalami Pentakosta (baptisan dan kepenuhan Roh Kudus). Seperti dialami oleh Almarhum Pdt.Ralph dan Edna Devin. Mereka dulunya adalah seorang pengusaha yang berhasil. Ketika Roh Kudus turun atas mereka, “passion” mereka ditransformasi: dari “business-oriented” (berorientasi kepada bisnis) kepada “winning-soul oriented” (berorientasi kepada memenangkan jiwa) . Itulah sebabnya mereka rela meninggalkan bisnisnya, dan berlayar ke Ambon untuk menjadi pemenang jiwa.
Kedua, melalui baptisan dan kepenuhan Roh Kudus, kita beroleh kuasa untuk menanggung kesulitan bahkan penderitaan (power to suffer). Perhatikan kondisi murid-murid sebelum Pentakosta! Kenapa mereka menyangkal dan meninggalkan Yesus? Salah satu jawabannya: mereka tidak mau terlibat dalam kesulitan, mereka tidak rela untuk menderita. Namun, apa yang terjadi pasca Pentakosta, Yakobus, berani mati bagi Yesus; Petrus dan murid-murid lain rela menderita bagi Yesus.
Kehidupan yang kita jalani bukanlah sebuah kehidupan yang gampang. Jalan pemuridan menghadapkan kadang kita dengan banyak kesulitan dan penderitaan. Tapi syukurlah, mereka yang memperoleh pengalaman Pentakosta, akan diberi ekstra “staying power” sehingga mereka bisa mengalami sebuah kehidupan yang berkemenangan. Kembali kepada pengalaman seorang tokoh GSJA di Indonesia: Ibu Edna Devin, sebagai illustrasi Pada tahun 1951, suami tercintanya, Ralph, secara mendadak meninggal dunia. Tentu sebuah pukulan yang berat bagi ibu Devin! Bukan itu saja, beberapa waktu kemudian, kapal”Evangel” yang biasa mereka gunakan untuk penginjilan antar pulau dijual oleh Departemen Misi Amerika. Ini jelas membuat tugas semakin sulit. Dalam salah suratnya, ibu Edna mengungkapkan kekecewaannya kepada Dept.Misi Amerika. Ada dukacita, kekecewaan pada manusia dan mungkin pada Tuhan, ada kesulitan yang semakin besar. Semuanya punya potensi untuk mendorong Ibu Edna mundur dari pelayanan. Tapi fakta sejarah bicara lain. Ibu Edna tetap bertahan! Bahkan terus berjuang untuk mengobarkan api Pentakosta di Indonesia. Apa rahasia di balik kekuatan seorang wanita yang tampaknya lemah ini? Roh Kudus, Sang Parakletos, yang memberinya “staying power”!
Ketiga, melalui baptisan dan kepenuhan Roh Kudus, kita dimampukan untuk melakukan hal-hal adi-kodrati yang berada di luar jangkauan kemampuan alamiah kita. Perhatikan Petrus dan Yohanes yang mampu menjadi alat Tuhan untuk membuat orang lumpuh di gerbang indah berjalan. Perhatikan Paulus dan Barnabas yang mampu melakukan perkara mukjizat di Listra. Akhirnya, perhatikan murid-murid, yang dari sudut pandang manusia, bukan apa-apa (dalam hal jumlah – cuma 120 orang; dalam hal kemampuan dan posisi – tidak terlalu menjajikan), namun mereka adalah orang-orang yang menunggang-balikkan dunia.
William J. Seymour adalah seorang yang sederhana, anak mantan budak, dengan mata cacat sebelah karena cacar. Namun demikian pengalaman Pentakosta telah merubahnya menjadi seorang yang luar biasa. Di bawah pelayanannya, terjadi kebangunan rohani terbesar di abad XX di Azusa Street. Melalui pengalaman Pentakosta, Seymour, orang biasa dijadikan luar biasa; penonton bahkan mungkin korban dari sejarah dijadikan pelaku bahkan penulis goresan-goresan emas sejarah.
Mungkin kita tidak bisa menyamai “prestasi” besar dari Petrus atau Seymor. Namun yang pasti, ketika pengalaman Pentakosta yang sejati itu menyentuh hidup kita, kita akan menjadi pribadi yang mampu beroperasi di atas ambang batas kemampuan alamiah kita; pribadi yang mampu melakukan hal-hal besar!
Penutup:
Ratusan orang rela antri berjam-jam lamanya ketika sembako dibagi-bagikan secara gratis. Padahal hal tersebut hanya mampu menolong mereka beberapa hari saja. Baptisan dan Kepenuhan Roh Kudus, yang menjadi Berkat Pentakosta menyediakan pertolongan sepanjang umur hidup manusia. Ironisnya, banyak orang acuh tak acuh, beberapa orang malahan menolak berkat yang luar biasa itu. Bila anda bijak, anda tentu tidak akan menempatkan diri anda di barisan orang-orang seperti ini. Bila anda bijak, anda pasti akan menyambut undangan Yesus: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”(Yohanes 7: 37-38)
If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds
























BlogoSquare