headermask image

header image

Kegagalan Bukanlah Hal yang Final

KEGAGALAN BUKANLAH HAL YANG FINAL

(LUKAS 22: 54-62)

Dalan suatu acara televisi ESPN, ditayangkan suatu interviews di mana seorang mega bintang mengisahkan tentang perjalanan kariernya:

Lebih dari 3000 kali saya diberi kepercayaan untuk menyarangkan bola ke jaring lawan namun saya gagal melakukannya. Saya diberi 26 kali kepercayaan oleh tim saya untuk melakukan tembakan terakhir pada saat pertandingan final dan saya pun gagal. Lebih dari 300 kali saya berkontribusi dalam kekalahan tim saya Chicago Bulls dan kini saya masih dijuluki sebagai pemain terhebat sepanjang masa. Sayalah Michael Yordan.”

Abraham Lincoln adalah seorang pribadi yang ulet. Sifatnya yang pantang menyerah telah membuatnya mampu bertahan melalui berbagai rintangan dan menjadi orang
yang berhasil. Abraham Lincoln mampu membuat kegagalan
menjadi “batu loncatan” untuk maju dari satu keberhasilan kepada keberhasilan yang lebih tinggi.
Lihatlah catatan sejarah hidupnya dibawah ini.

1816 : Keluarganya diusir dari rumahnya, sehingga iaharus bekerja
1818 : Ibunya meninggal dunia.
1831 : Gagal dalam berbisnis
1832 : Gagal menjadi anggota legislatif. Ia kehilanganpekerjaan dan ingin sekolah di
fakultas hukum tetapi tidak diterima.
1833 : Meminjam uang untuk memulai lagi bisnisnya danbangkrut pada tahun itu juga.
Ia harus melunasi hutangnya selama 17 tahun
1834 : Terpilih sebagai anggota legislatif
1835 : Bertunangan, kemudian tunangannya mati dan ia patah hati
1836 : Mengalami “nervous breakdown” dan harusberbaring selama 6 bulan
1838 : Ingin menjadi pembicara badan legislatif, tetapi gagal
1840 : Ingin menjadi “Elector”, tetapi gagal
1843 : Ingin menjadi anggota kongres, tetapi gagal
1846 : Berhasil menjadi anggota kongres
1848 : Tidak terpilih untuk yang kedua kalinya sebagai anggota kongres
1849 : Melamar sebagai walikota, tetapi ditolak
1854 : Ingin menjadi anggota Senat Amerika, tetapi gagal
1856 : Mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden Amerika, tetapi gagal karena ia hanya
mendapat suara kurang dari 100
1858 : Ingin menjadi anggota Senat Amerika lagi,tetapi kalah
1860 : Terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat

Dua kisah di atas menggarisbawahi tema yang akan saya kupas pagi ini: Kegagalan Bukanlah Hal yang Final

Ya, kegagalan bukan hal yang final bila:

Pertama, kita sadar bahwa setiap orang pernah gagal (ayat 60).

Petrus adalah tokoh besar yang pernah hidup bersama-sama denganYesus. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana DIA melakukan perkara-perkara yang besar. Dia mendengar dengan telinganya sendiri, pengajaran-pengajaran agung yang keluar dari mulut Yesus. Dia merasakan bahwa derajat kasih dan kepedulian dari gurunya begitu luar biasa, sulit ditandingi oleh orang-orang suci lainnya yang hidup pada jaman itu. Tapi toh, pengalaman-pengalaman yang istimewa itu tidak mampu untuk mencegah Petrus dari jurang kegagalan.

Rupanya, bukan hanya Petrus yang gagal. Raksasa-raksasa iman yang lain dari Alkitabpun menorehkan catatan kegagalan dalam goresan tinta emas yang terdapat dalam kisah hidup mereka. Abraham pernah gagal; Yakub pernah gagal: Musa pernah gagal; Daud pernah gagal.

Pemahaman bahwa tiap orang pernah gagal akan mencegah kita untuk berputus asa, frustrasi, dan melakukan tindakan yang fatal. Pemahaman bahwa sukses tanpa kegagalan hanyalah sekedar mitos belaka akan membuat kita bisa melihat perspektif positif dari kegagalan kita.

Kegagalan bukan hal yang final bagi kita:

Kedua, bila kita sadar bahwa kasih dan pengampunan Allah tidak bergantung pada kesuksesan kita (ayat 61)

Ayat 61, bila dibaca dengan sebuah penghayatan akan menyingkapan kita pada sebuah dimensi kisah yang mengharukan. Setelah menyangkal DIA sebanyak tiga kali. Alkitab berkata,”Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus.” Meski teks tidak secara tersurat menyatakan pandangan macam apa yang terpancar dari mata dan wajah Yesus, kita bisa menduga bahwa tatapan mata Yesus bukanlah tatapan mata kemarahan, kekecewaan, dan penolakan. Sepertinya, tatapan mata Yesus adalah tatapan mata penerimaan, pengertian dan pengampunan. Jadi jangan heran, kalau kita mendapati efek yang ditimbulkan dari tatapan Yesus kepada Petrus adalah: “ Ia pergi keluar dan menangis dengan sedihnya” hatinya hancur, karena meski dia gagal Yesus masih bisa menerimanya; meski “prestasi rohaninya”mengecewakan Allah masih menerima dan mengasihinya; meski berkhianat, Yesus masih mengampuninya.

Bukti yang palin tersurat mengenai penerimaan Yesus, bisa kita lihat dalam catatan yang dibuat oleh Injil Markus:

16:7 Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.”

Perhatikan Nama Petrus disebut di sana. Allah memandang dia sebagai figure penting meski dia telah gagal.

Dalam kehidupan kami sebagai orang tua, kami seringkali berhadapan dengan kenyataan bahwa anak kami gagal memenuhi harapan-harapan kami. Itu bukan terjadi sekali, dua kali, namun berkali-kali. Tapi, toh terlepas dari kegagalan Putri kami untuk taat, kami masih bisa menerima, mengasihi dan memberi yang terbaik bagiNya.

Orang bilang Kasih Anak Sepanjang galah. Kasih Orang Tua sepanjang Hayat. Namun Kasih Tuhan itu selama-lamanya,

Jika saya sebagai orang tua yang punya kasih yang jauh lebih kecil dari kasih Allah bisa menerima kegagalan anak-anak saya,t erlebih lagi Tuhan bisa menerima anda apa adanya. PenerimaanNya tidak bergantung pada kesuksesan anda. Perhatikan ada satu ayat di dalam kitab Roma yang mengatakan:

Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar — tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati –.Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Roma 5: 6-8)

Kegagalan bukan hal yang final bagi kita,

Ketiga, bila kita bersedia untuk bangkit kembali . Kisah hidup Petrus pasca kebangkitan Yesus adalah kisah dari seseorang yang berani bangkit kembali setelah kegagalan fatal menimpah dirinya. Pada hari Pentakosta, tepat lima puluh hari sesudah Paskah Petrus berdiri dan berkhotbah tanpa gentar sedikitpun di hadapan masa. Hasilnya, 3000 orang bertobat !!! (Kis 2: 41) Prestasi Luar biasa.

Billy Lim menulis sebuah buku yang sangat popular di Malaysia, judulnya Dare to Fail. Dalam buku tersebut ia mencantumkan sebuah survey yang menyatakan bahwa dibutuhkan rata-rata 240 kali proses jatuh bangun dari seorang bayi, sebelum ia mampu berjalan.

Menurut anda, ketika bayi itu jatuh, apakah ia akan menyalahkan orang tuanya karena kurang membimbingnya, atau menyalahkan lantai karena licin? O, tidak, para bayi belum bisa berpikir sejauh itu. Bahkan mereka menikmati sekali proses jatuh bangun itu. Mereka tanpa berpikir lama akan bangkit lagi dengan tersenyum dan semangat. Mereka bangkit dan berusaha mencoba sekali lagi, sekali lagi, dan sekali lagi. Sampai kapan? Sampai mereka bisa berjalan.

Rupanya, sejak dini Tuhan telah mengajar kita bahwa pertama, kegagalan adalah sesuatu yang normal dan alamiah; kedua, kunci menuju sukses adalah bangun dan bangkit dari kegagalan itu.

Jikalah anda merasa berputus asa karena gagal hari ini sadarlah, bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya bila saudara bersedia bangkit kembali dari kegagalan itu.

If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.