Kali ini saya ingin mengangkat tema yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Kenapa tema ini layak diangkat?
Pertama, secara nasional bukan rahasia lagi bahwa keutuhan negeri kita terancam bukan saja oleh sengketa antar manusia, tetapi juga sengketa masyarakat dengan lingkungan alamnya. Misalnya, di wilayah yang banyak penduduknya, mereka yang berduit mendesak para petani miskin semakin ke pinggiran, ke tempat-tempat tinggi untuk bercocok tanam, akibatnya ada “deforestasi” gunung-gunung, yang mengakibatkan banjir dan erosi di waktu hujan. Setiap tahun milyaran kubik lapisan tanah yang subur hanyut ke sungai-sungai yang menancam kelestarian sumber-sumber makanan pokok di kemudian hari. Sementara itu di wilayah yang jarang penduduknya, para orang pintar dengan cerdik memanfaatkan kerakusan oknum-oknum tertentu untuk merusak hutan, menjarah kayu-kayu, dan hasil alama lainnya tanpa mempertimbangkan akibat buruk di masa mendatang.
Kedua, tradisi Kekristenan saya sepertinya “acuh-tak-acuh” terhadap masalah ini. Tradisi saya lebih suka memerangi “rokok” dan “bir” karena dianggap mencemari “tubuh” kita yang adalah bait Roh Kudus. Namun, hampir tidak pernah peduli dengan “pencemaran udara, tanah, dan air” yang sebenarnya jauh lebih mematikan ketimbang rokok dan bir.
Jadi perkenankan saya kali ini mengambil sebuah teks yang diangkat dari Kitab Kejadian 6: 9-21, sebagai dasar bagi tanggung jawab kita untuk melestarikan bumi ini
Ketika membaca ayat demi ayat dalam perikop ini, tiga gagasan muncul dalam benak saya. Pertama, Kisah Nuh berbicara tentang bencana global – air bah yang menghancurkan seluruh pranata-pranata ciptaan. Suatu situasi yang tampaknya akan segera kita hadapi, meski dalam bentuk yang lain, seperti terungkap dalam tulisan Calvin B. De Witt, yang saya ringkaskan di bawah ini
- Degradasi di lapisan atmosfir, yang terjadi karena pemakaian kloroflouro Carbon yang menipiskan lapisan Ozon, dan emisi Karbondioksida yang menimbukan pemanasan global.
- Degradasi tanah, - penipisan lapisan tanah yang subur yang diakibatkan oleh erosi, dan makin meluasnya proses “penggurunan”. Dalm jangka panjang akan mengancam tingkat produksi bahan pangan dunia
- “Deforestasi” – setiap tahun 100.000 km persegi lahan hutan dibabat.
- “Pemunahan species” – 3 species tanaman dan binatang tiap harinya punah dari muka bumi
- “Degradasi kualitas air” – air tanah, danau, sungai, laut.
- Peracunan global – yang muncul sebagai akibat dibuangnya limbah beracun ke badan-badan air dan atmosfer.
- Degradasi manusia dan budaya – pada akhirnya komunitas manusia yang sedang terancam oleh pemusnahan total yang diakibatkan oleh perbuatan tangan mereja sendiri.
Kedua, Kisah Nuh berbicara bahwa bencana global itu bukanlah bermula dari hal yang bersifat moral, melainkan teologis. Lihat ayat 5, 11, 12, 13. di sana ada deskripsi negatif tentang manusia. Tetapi deskripsi itu begitu singkat, tanpa diberi penjelasan spesifik. Bruegemann, dalam tafsiran Kejadian,nya menulis bahwa sebab dari Bencana Besar adalah penolakan manusia untuk mengakui keberadaannya sebagai ciptaan. Penolakan manusia untuk menghormati Allah sebagai pencipta. Dengan kata lain banjir besar terjadi karena manusia menjadikan dirinya “center”. Dan “antropo-centered”inilah yang pada akhirnya merusak kehidupan di bumi.
Coba perhatikan baik-baik siapa oknum-oknum yang punya peranan paling besar dalam perusakan hutan-butan di Kalimantan dan Sulawesi. Mereka yang tak berduit! Bukan! Sebaliknya mereka yang berduitlah yang menjadi aktor di belakang layar di balik perusakan hutan-hutan tersebut.
Kenapa mereka berbuat demikian padahal secara materi mereka sudah berkecukupan? Kenapa mereka mau menyusahkan orang banyak, padahal mereka sudah cukup sandang, pangan, dan papan? Jawabnya: karena mereka menjadikan ”diri mereka” sebagai ”center” dari segalanya. Kehausan untuk menjadi yang ”paling berkuasa dan kaya” telah menggeser tempat Allah dari tempat yang paling penting dalam hidup mereka.
Hidup ini sarat dengan paradoks. Semakin kita mau banyak, semakin kita tidak puas. Semakin kita berpada pada apa yang ada, kita bisa semakin puas dalam hidup ini. Itulah sebabnya Paulus berkata:
- Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
- Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
- (Filipi 4: 11-12).
Ketiga, Kisah Nuh juga menyajikan profil “Pribadi yang terlibat dalam pelestarian lingkungan hidup.” Nuh membuat, dan menyediakan bahtera yang menjadi tempat untuk semua makhluk hidup yang sedang terancam keberadaannya. Dengan adanya suatu keyakinan bahwa Sang pencipta mau melindungi karyanya yang sedang terancam. Keyakinan ini dipertegas oleh Allah kala menyatakan perjanjiannya dengan Nuh.
Sebagai orang percaya yang hidup di tengah-tengah krisis ekologi semacam ini, marilah kita mulai menumbuhkan kepada diri kita sendiri, kepada anak-anak kita, kepedulian pada lingkungan hidup. Ajar anak-anak kita untuk tidak membuang sampah sembarangan! Ajar anak-anak kita agar tidak mencabut atau mematikan tanaman bila tidak sangat perlu! Ajar anak-anak kita untuk mencintai dan melindungi satwa. Ajar anak-anak kita untuk menghemat energi dan sumber daya alam lain yang dapt habis. Dengan berbuat demikian kita akan menyelamatkan bukan saja masa depan mereka namun masa depan dunia. Dengan berbuat demikian kita menjadi rekan kerja Allah untuk memelihara dunia yang dijadikannya bila Dia belum datang untuk Kali yang kedua.
Save not only the Lost, but also the Earth
If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds

























BlogoSquare