headermask image

header image

Posmodernisme (2)

Superioritas Rasio

Era modern tak dapat dilepaskan sama sekali dengan berkembangnya paham rationalisme, yang menempatkan rasio sebagai ”hakim” dan ”raja” yang memutuskan segala sesuatu. Itulah sebabnya di era modern, iman dianggap sebagai kebenaran yang sifatnya subyektif dan tak layak untuk dijadikan wacana publik. Orang tak lagi perlu bergantung pada wahyu, apalagi tahyul sebab, melalui studi empiris dan rationalisme ilmiah, seseorang bisa menetapkan apa yang sejati dan benar. Hal ini bisa terlihat jelas dalam jawaban yang diberikan oleh ilmuwan besar, Marquise de Laplace, kepada Napaleon, kala sang Jenderal besar ini bertanya mengapa Laplace tidak menyebut Tuhan sama sekali dalam karya besarnya yang berjudul, Celestial Mechanics, Laplace menjawab, ”Saya tidak pelu hypothesis semacam itu!”

Superioritas rasio ini terlihat jelas dalam dunia pendidikan. IQ (Intellegent Quotient) dipergunakan sebagai alat pengukur yang menentukan keunggulan manusia. Para orang tua mendambakan agar anak-anaknya punya IQ tinggi semacam Albert Einstein dan merasa rendah diri bila anak-anaknya hanya punya IQ” jongkok”.

Icon Modernitas bisa kita lihat dalam film yang amat digemari pada era 70-an, Scooby Doo. Pesan film kartun itu jelas! Segala misteri di alam semesta ini dapat dijelaskan dengan rasio dan pendekatan ilmiah. Ada jawaban rasional dibalik fenomena hantu,makhluk gaib dan hal-hal lain yang tak terjelaskan!

Masyarakat Posmo bukannya membuang sama sekali rasio. Bagi mereka rasio saja tidak memadai. Rasio bukanlah solusi atas segala sesuatu! Masyarakat Posmo ingin memperlengkapi rasio dengan aspek-aspek lain dari kehidupan manusia yang telah diasingkan dalam kehidupan masyarakat modern. Itulah sebabnya, pengalaman, emosi, bahkan misteri mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat Posmo.

Jadi jangan heran kalau kini anda mendapati hal-hal semacam EQ (Emotional Quotien), SQ (Spiritual Quotient), dan AQ (Adversity Quotient) kadang lebih diunggulkan dari IQ (Intellegent Quotient) . Jangan heran pula jika anda mendapati layar televisi anda penuh dengan film-film dan sinetron-sinetron yang mengandung muatan misteri dan mistik. Jangan heran pula bila gereja-gereja yang dipadati pengunjung pada dewasa ini bukanlah gereja-gereja yang memanjakan akal para pengunjungnya dengan khotbah yang hermeneutikanya (tafsirnya) akurat serta masuk akal, melainkan gereja-gereja yang memanjakan emosi dan pengalaman para pengunjungnya melalui konser musik yang menggugah emosi, khotbah yang penuh canda tawa, dan apa yang diklaim sebagai ”direct-experience” (pengalaman langsung) dijamah oleh Tuhan, entah itu melalui fenomena healing, visi, atau nubuatan!

Icon dari dunia posmo bisa kita lihat jelas dalam film X-files dan Star Trek: The Next Generation. ”The Truth is out there” yang menjadi slogan film the X-files seolah memperingatkan kita bahwa hidup penuh dengan misteri yang tak dapat dipecahkan dengan rasio dan pendekatan ilmiah saja. Sedang tokoh Data (seorang manusia-robot yang amat cerdas dan selalu akurat, namun rindu menjadi eorang manusia sejati yang mengenal dan sanggup memberi respons terhadap sentuhan-sentuhan emosi) dalam Star Trek: The Next Generation, menggambarkan kerinduan masyarakat Posmo akan sentuhan-sentuhan emosi yang telah lama ditenggelamkan oleh masyarakat modern.

If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.