headermask image

header image

Televisi dan Kita (Repost)

 

Peran Sentral Televisi dalam dunia dewasa ini:

  • Victor Strasburger, dokter spesialis anak, “TV adalah orang tua elektronik ketiga.”
  • “The Major Agent of Socialization”, menurut Marva Dawn.
  • “bukan lagi Allah kedua melainkan Allah pertama” menurut pakar komunikasi Islam, Jallaludin Rachmat.

Manfaat Televisi:

  • Memperluas wawasan dan membukakan cakrawala. Televisi adalah ibarat “jendela dunia” di mana kita dapat menengok “segala sesuatu di luar sana”
  • Memperkaya pengalaman hidup. Televisi telah memungkinkan kita untuk mengalami berbagai hal tanpa harus merasakannya sendiri. Kita tahu tempat-tempat lain tanpa harus mengunjunginya.
  • Menyediakan sarana hiburan “murah dan meriah” untuk membunuh kejenuhan dan kebosanan kita.

Dampak negatif dari Televisi:

  • Menyita banyak waktu. Rata-rata orang-orang Amerika menonton TV empat setengah jam sehari. Sedangkan waktu yang digunakan untuk bicara dengan pasangan hidupnya haya 4-5 menit; 30 detik dengan anak-anaknya.
  • Mengurangi daya kreasi dan imajinasi. Televisi menawarkan “segala sesuatu” secara visual dan instant. Pikiran tidak diberi waktu dan kesempatan untuk mencipta sendiri.
  • Mengurangi daya pikir logis dan linear. Neil Postman menulis bahwa media TV lebih memberi penekanan pada perasaan dan hiburan ketimbang pada pemikiran rasional. Coba lihat iklan shampo merk tertentu yang menunjukkan seorang gadis yang lagi kusut. Kenapa karena rambutnya jelek . Itulah sebabnya dia dijauhi cowok-cowok. Ketika dia keramas dengan sampho merk tertentu tiba-tiba rambutnya cemerlang dan cowok-cowok pada nempel kayak perangko.
  • Peniruan perbuatan kekerasan, anti-sosial dan percabulan. Tak diragukan lagi agen sosialasi kekerasan, anti-sosial<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> dan percabulan yang paling hebat dewasa ini adalah TV. Sadar atau tidak manusia adalah makhluk yang cenderung untuk menjadi peniru. Inilah yang menjadikan tayangan TV menjadi sesuatu yang punya potensi bahaya. Sebuah tragedi di Littletown, 20 April 1999 mungkin bisa menggarisbawahi kebenaran ini. Dua orang remaja Columbine High school menembak mati 12 teman sekelas dan 1 orang guru mereka, melukai 23 orang dan akhirnya membuh diri mereka sendiri. Dua film dianggap menginspirasi kejadian ini. Yang pertama adalah basketball Diarries dan yang kedua adalah Natural-born killers.
  • Televisi memupuk terbentuknya nilai-nilai dan gaya hidup yang kurang sehat; yaitu:
    • Kurang menghargai “proses”. Di layar TV segala sesuatu berlangsung cepat. Karena memang itulah gaya TV. Hitungan dalam TV adalah “detik” bukan “tahun”. Akibat kurang menghargai proses ini, timbul kecenderungan ingin mendapatkan sesuatu lewat jalan pintas.
    • Lebih menghargai “bungkusan – bentuk luar” ketimbang “isi”nya. TV lebih memfokuskan memepromisikan “bungkus” ketimbang isinya. Itulah sebabnya model-model iklan umumnya dipilih yang cantik dan bertubuh bagus. Hal-hal yang lahiriah inilah yang mereka tekankan sebagai sesuatu yang bernilai yang orang lain harus dapatkan juga. Jati diri seseorang bukan lagi diukur berdasarkan jiwanya, melainkan penampilannya.
    • “Having is More Important Than Being”. TV mengajar kita bahwa dala dunia masa kini yang penting adalah bukannya what you are (siapa anda), tetapi what you have. Jika adan punya Balenp, jika anda punya kartu kredit BCA, rumah bagus, dll kamu barulah layak disebu seseorang. Tak peduli dengan cara apa anda memperolehnya.
    • The Imported is better. Karena yang menjadi sumber utama isi siaran TV adalah program yang dihasilkan di Barat, tidak heran timbul kekaguman kepada apa saja uang berasal dari Barat.
<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Suatu penelitian terhadap 3 film kartun Jepang – Sailor Mooh, Dragon Ball. Dan Magic Knight Ray Earth yang dilakukan oleh Sri Andayani menyingkapkan bahwa 58,4% menunjukkan sikap anti-sosial. Dari jumlah tersebut: kata-kata kasarm 38,56%, mencelakakan, 28,46%, dan mengejek 11,4%.

If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds

One Comment

  1. shalom Pak Gani.

    uraian ini sangat menarik. saya ingin membagi pengalaman saya.
    2 tahun lalu saya banyak membaca artikel2 mengenai televisi dan sejak 2 tahun lalu juga saya memutuskan menghilangkan televisi di dalam rumah kami. pada awalnya hal ini sangat sulit karena ditahun2 awal pernikahan yg masih berumur jagung istri saya termasuk pecinta serial maupun sinetron. tapi dengan mencoba memberinya pengertian istri saya setuju dengan rencana ini. Saya hanya berpikir betapa banyak kami menyerap ’sampah’ televisi, bukan hal yg mudah u/memilah-milah mana yang perlu ditonton dan mana yang tidak.
    Saya berusaha mengimbangi kekurangan informasi, yang biasanya kami dapatkan dari berita, meskipun saya yakin kebanyakan stasiun tv hanya menaruh berita sesuai bayaran tertinggi dari pihak politik mana yang hendak mengkondisikan cara berpikir masyarakat sesuai dengan kehendak mereka. sulit meyakini bahwa informasi dari tv2 nasional kita memang yang paling murni (saya meyakini ini sebagai seorang yg lahir dan besar dlm lingkungan pers dan pertelevisian karena ayah saya selama 38 tahun a/ kameramen di sebuah tv nasional, dan hampir setiap hari selama sekolah saya pulang selalu ke stasiun tv.) untuk mengimbangi kekurangan informasi ini saya menaruh fasilitas internet dedicated dirumah. menghilangkan tv dan menggantinya dengan internet tv. keuntungan yg saya dapat dari internet tv a/ banyaknya siaran yang kami miliki dan di sisi lain dapat diproteksi mana perlu ditonton dan mana yang tidak, bahkan jika jadwalnya tdk sesuai dgn waktu dan acara kita, kita bisa merekamnya dan menontonnya di lain waktu saat ada waktu lowong sehingga tdk mengganggu aktivitas kita, juga dlm internet tv kita dapat memilih mana yg baik untuk ditonton, daripada siaran tv biasa hanya terima saja apapun yang disuguhkan. Hal ini sangat baik untuk perkembangan anak2 agar tdk banyak terpengaruh dengan siaran tv lokal yang kurang edukatif. selain itu juga ada siaran radio yang disetel pada waktu2 tertentu baik jam2 berita maupun siaran2 rohani yang pasti jauh lebih bermanfaat.
    2 tahun menjalani rumah tanpa televisi, saya sangat merasakan manfaat baiknya, banyak sekali waktu yang betul2 dapat digunakan sebaik mungkin daripada menghabiskannya di depan tv. pikiran, hati kita juga menjadi lebih sehat. Tuhan Yesus Memberkati

    1. richardyoka on September 2nd, 2008 at 8:36 pm

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.