headermask image

header image

Esensi Pentakostalisme

Esensi dari Pentakostalisme

Sudahkah Menjadi Bagian Hidupmu?

(Kisah Para Rasul 2: 41-47)

Esensi dan penampilan (style) adalah dua kata yang memiliki makna yang berbeda. Esensi berbicara mengenai hal-hal yang permanen, sementara penampilan berbicara mengenai sesuatu yang temporer. Esensi berbicara mengenai sesuatu yang tetap, sementara penampilan berbicara mengenai sesuatu yang berubah. Esensi saya adalah seorang pria, 30 tahun silam, 10 tahun silam, sekarang, dan bahkan 30 tahun lagi. Namun penampilan saya berubah. Foto-foto menjadi saksi bahwa saya tak lagi seramping 10 tahun silam. Rambut saya tak selebat lagi 20 tahun silam. Sudah mulai rontok di sana dan di sini, hingga mulai mengkilap kalau dilihat sekilas dari belakang.

Banyak orang yang keliru memahami esensi dari Pentakostalisme. Mereka mengidentikan Pentakostalisme dengan gaya khotbah yang “keras, cepat, dan tanpa teks”. Orang-orang yang lain mengidentikan Pentakostalisme dengan emosionalisme – doa dengan “nangis-nangis” atau teriakan, “jingkrak-jingkrak” dan tepuk tangan tanpa batas ketika memuji Allah. Apa yang diungkapkan oleh mereka sebenarnya hanyalah sekedar “penampilan” dari Pentakostalisme, yang bisa berubah sesuai dengan waktu, budaya, dan personalitas. Saya pernah hadir di sebuah gereja Pentakosta di Timor-timur yang sangat dinamik, berkembang dengan pesat dan mempunyai suasana rohani yang luar biasa. Namun, saya tak menjumpai adanya tepuk tangan di sana, dan tidak pula khotbah yang cepat dan keras. Semuanya serba lembut, tenang, namun powerful (luar biasa)

Jika apa yang dikatakan di atas hanyalah sekedar “penampilan” lalu apa yang menjadi esensi dari Pentakostalisme itu sendiri? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita menoleh kepada sebuah kitab dalam PB yang menjadi favorit dari orang-orang Pentakosta – Kisah Para Rasul (KPR). Bagi orang Pentakosta, KPR adalah ibarat sebuah “model” atau “cetak biru” yang harus mereka tiru dalam kehidupan pribadi, bergereja, dan bermasyarakat. Secara khusus, kita akan menyoroti KPR 2: 41-47, yang memberikan kepada kita hal-hal yang menjadi esensi dari Pentakostalisme itu sendiri.

· “Commited to apostolic teachings – berpaut pada ajaran rasuli (KPR 2:42)

Perhatikan baik-baik sikap dari gereja perdana – gereja Pentakosta pertama di dunia: mereka “commited” (berpaut sungguh-sunguh) terhadap kemurnian ajaran para Rasul. Ajaran atau doktrin rasuli tidak mereka kecilkan artinya bagi kehidupan, di tengah dinamika dan aktivitas kehidupan rohani mereka. Sangat berbeda dengan kebanyakan jemaat dewasa ini, yang aktif, dinamik, tapi sayang ajarannya amburadul penuh takhayul. Dr. William Menzies, menyatakan, bahwa sejarah gereja menjadi saksi lusinan kebangunan rohani yang besar telah terjadi dari abad ke abad, pasca jaman gereja perdana, namun hanya ada satu yang bertahan cukup lama – Gerakan Pentakosta modern! Mengapa? Karena gerakan ini “commited” terhadap kemurnian ajaran rasuli yang diteruskan dari generasi lepas generasi.

· Connected – terkait dalam kelompok (KPR 2:42, 36)

Hal kedua yang menjadi esensi dari Pentakostalisme adalah fokusnya pada hubungan. “…mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Gereja-gereja rumah (semacam kelompok kecil) adalah ujung tombak dari perkembangan yang luar biasa dari Kekristenan pada abad pertama. Dalam kelompok semacam ini tidak ada “penonton”, semua adalah “pemain”. Mereka saling berbagi suka, duka, dan beban. Mereka melayani dan dilayani, menghibur dan dihibur, mencukupi dan dicukupi. Keterkaitan gereja Pentakosta perdana bukan hanya melalui kelompok kecil, melainkan juga dalam kelompok yang lebih besar. Gereja Perdana bertemu secara regular di Bait Allah (2:46). Ibadah raya adalah sebuah “event” yang ditunggu-tunggu sebab di sanalah mereka bisa secara bersama-sama merayakan hadirat Allah yang mulia.

· Confirmation – peneguhan melalui tanda dan mukjizat(KPR 2:43)

Berita, visi, dan misi dari gereja perdana diteguhkan dengan (confirmed by) hadirnya tanda-tanda dan mukjizat. Hal yang sama terjadi ketika kita membaca sejarah gerakan Pentakosta modern. Dua orang misionaris Pentakosta mula-mula di Indonesia, Van Klavern dan Groesbeck, merasa terpanggil untuk datang ke Indonesia. Namun mereka tidak punya cukup uang untuk menumpang kapal. Namun Allah meneguhkan panggilan mereka, ketika gembala mereka, W. F. Offiler, mendoakan seorang wanita yang terkena tumor ganas, Emily Malquist, dan wanita itu beberapa saat kemudian mengalami kesembuhan ilahi. Uang yang sedianya untuk operasi diserahkan oleh sister Emmily untuk pekerjaan Tuhan. Dan uang itulah yang akhirnya dipakai oleh Groesbeck dan Van Klavern pergi ke Indonesia.

· Caring – kepedulian sosial yang cukup tinggi (KPR 2:44-45)

Gereja perdana adalah gereja yang punya kepedulian yang luar biasa pada mereka yang sedang menderita. Yang surplus begitu murah hati untuk memberi yang minus hingga dalam KPR 4:34 dikatakan, tak seorangpun dari antara mereka yang berkekurangan.” Dr. George Wood, sekretaris umum GSJA, Amerika menulis, “ Tidak ada satupun bagian dari tubuh Kristus Dewasa ini yang dapat menandingi orang-orang Pentakosta dalam kemurahan hati mereka …. untuk menolong mereka yang menderita.”

· Converts – misi untuk memenangkan petobat baru (KPR 2: 47)

Tujuan utama dari Baptisan Roh Kudus adalah untuk memberdayakan orang percaya untuk bersaksi (KPR 1:8); karena itu sebuah gereja Pentakosta tanpa converts (petobat baru) hanya sekedar nama belaka. Gereja Pentakosta yang pertama bertumbuh karena “tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Pertanyaannya adalah: melalui siapa Tuhan bekerja untuk menambah jumlah orang yang diselamatkan? Malaikat? Bukan! Melalui orang-orang percaya! Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir, segmen dari Kekristenan yang mengalami pertumbuhan yang paling pesat adalah kaum Pentakosta. Hanya mulai dengan beberapa gelintir orang saja pada tahun 1901 di Topeka Kansas, pada tahun 2001 jumlah penganut dari gerakan ini sudah mencapai lebih dari 550 juta jiwa.Angka-angka yang menakjubkan bukan? Apa rahasianya? Para pakar setuju bahwa dari sejak awal para penganut gerakan ini adalah orang-orang yang haus untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan. Misi adalah detak jantung dari gerakan ini.

Inilah kelima unsur yang menjadi esensi dari Pentakostalisme. Anda dan saya yang menyebut diri kaum Pentakosta, sudahkah menjadi pribadi yang punya “5-C” ini: commited, connected, confirmation, caring dan converts? Jika jawabannya “ya”, anda adalah seorang Pentakosta sejati!

If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.