PENGUCAPAN SYUKUR
(Teks: 1 Kor 4-7)
Introduksi:
Pada puncak dari karirnya, Mark Twain, dibayar 5 dollar untuk tiap kata yang ditulisnya. Suatu hari ada seseorang menulis surat kepadanya sembari menyelipkan uang 5 dollar di dalamnya. Isi dari surat itu aneh: Sebuah pertanyaan! “Apa yang menjadi kata favorit anda?” Mark Twain membalas surat itu dengan satu kata: ”Thanks” – terimakasih.
Anda boleh tertawa atau tersenyum. Tapi jangan sampai meremehkan pengucapan syukur.
- Seneca menulis: Nothing is more honorable than a grateful heart.
- Seorang pujangga yang lain menulis: ”A thankful heart is not only the greatest virtue, but the parent of all the other virtues.”
Jadi jangan heran bila kita mendapati bahwa Rasul Pauluspun memandang pengucapan syukur sebagai sesuatu yang amat penting. Jikalau anda menyelidiki surat-surat Paulus anda akan mendapatkan bahwa ”Thanks” pemgucapan syukur merupakan salah satu kerap dijumpai dalam suratsurat Paulus.
Andaikata hidup Paulus selalu beruntung tidak kerap buntung oleh karena ketiban bencana atau masalah, bukanlah hal yang aneh bila kata-kata itu mendominasi surat-surat Paulus. Akan tetapi, dari kesaksian yang ditulisnya kita mendapatkan kesan yangs ebaliknya. Paulus lebih banyak dihantam prahara kehidupan. Meskipun demikian ia sanggup untuk terus mengucap syukur. Apa ya yang menjadi rahasia dari sikap semacam itu?
Pertama, pengucapan syukur mengalir dari hati yang berfokus pada apa yang telah dimiliki bukan pada apa yang belum dimiliki .
Paulus mengucap syukur bahwa jemaat Korintus yang dibinanya telah memilik karunia-karunia rohani yang luar biasa, meski ia tahu bahwa mereka semua masih kanak-kanak secara rohani. Paulus mengucap syukur bahwa mereka ”berkata-kata di dalam bahasa Roh”, meski ia tahu dalam kasih mereka masih ”taman kanak-kanak” (meminjam istilahnya Gus Dur). Paulus mengucap syukur bahwa jemaat Korintus memiliki karunia nubuat, meski mereka kurang ”respect” terhadap Bapak Rohaninya sendiri – Paulus.
Pada bulan November 2001, seorang wanita yang berusia 67- tahun menerima penghargaan khusus – Lifetime Achievement Award dari The Bible Societies. Nama Wanita itu Nadine Hammonds. Nadine adalah seorang wanita yang luar biasa. Kedua matanya buta, namun ia mampu menghafal seluruh isi PB. Pada penerimaan “award” tersebut seseorang bertanya kepadanya: “Apakah anda kecewa karena mata anda buta?”
Jawab Nadine:
“Oh my goodness, no,” she said. “I do wish I could see a sunset. I
would love to see the ocean. I’d love to see the stars! But see, I
learned a long time ago, you don’t focus on what you don’t have. I’d
love to have those things, but I don’t focus on them. I think of what
I do have — a sharp mind and a good memory! I can study the Bible
by braille everyday, and now I’ve got it in my memory bank! Now I
just pull out whatever I need, whenever I want. It is a great gift
from God.
Kita pun seharusnya demikian pula bukan? Memang dalam hidup ini ada banyak hal yang tidak memuaskan hasrat kita. Kita mengingini itu, yang kita dapat ini. Kita menghendaki ini, yang keluar itu. Kerap kali harapan yang tidak berimpit dengan kenyataan ini membuat kita kecewa, bahkan tak jarang memicu kita untuk ‘complaint” dan bersungut-sungut. Teks kita kali ini mengajak kita untuk menginventaris apa yang sudah kita punya; apa yang ada di tangan kita, bukan apa yang ada dalam ranah harapan, cita-cita atau mimpi-mimpi kita. Teks kita kali ini mengajak kita menghayati apa-apa yang sudah ada di dalam tangan kita sebagai sesuatu yang patut disyukuri dan dijadikan titik awal untuk membangun sesuatu yang lebih baik.
Kedua, pengucapan syukur mengalir dari hati yang berfokus pada bagaimana melayani orang lain bukan bagaimana dilayani orang lain.
Masalah paling serius yang dihadapi oleh Paulus dalam membina hubungan dengan jemaat di Korintus adalah bahwa jemaat tersebut kurang bisa menghargai dirinya – the founder dan spiritual father of the congregation. Kalau anda teliti membaca seluruh surat Paulus dalam 1 dan 2 Korintus, terlihat kesan bahwa jemaat ini meremehkan Paulus, Bapa Rohaninya. Paulus bukanlah ”the Apostle of Glory” (Rasul Mulia) yang pelayanan kaya akan tanda dan mukjizat. Khotbah-khotbahnya tidak dihiasi kemilau indah gagasan-gagasan filosofi. Khotbahnya hanyalah Salib Kristus yang tampaknya kurang attraktif dan kurang memiliki nilai jual tinggi.
Complain, ketidakpuasan, kejengkelan kerap kali mewarnai hati manusia ketika semua usaha dan pelayanan terbaiknya mendapatkan balasan yang tidak setimpal; Tidak jarang kejengkelan tersebut akhirnya berubah menjadi ”dendam’ yang akhirnya berbuah ”kejahatan”. Seorang pembantu rumah tangga (TKI) di Singapura telah berusaha memberikan pelayanan yang terbaik bagi sang tuan rumah dan keluarganya. Namun yang sering dia terima adalah perlakuan kasar yang tak jarang berbuah penganiayaan. Pelayanan dan pengabdian yang dibalas dengan kekaisaran dan aniaya ini akhirnya membawa akibat fatal bagi sang tuan rumah. TKI tersebut dendam dan akhirnya membunuh sang tuan rumah dan anaknya.
Paulus sebenarnya bisa berfokus pada “apa” yang harus dilakukan jemaat Korintus, anak-anak rohaninya kepada dirinya. Namun kalau dia melakukannya tentu bukan pengucapan syukur yang mengalir dari hatinya, melainkan kepahitan. Dia berfokus pada ’apa” yang bisa ia lakukan untuk jemaat Korintus sebagai wujud pengabdian dan pelayannya kepada Tuhan Yesus Kristus, kepala Gereja yang sejati. Itulah sebabnya, pengucapan syukur selalu mengalir dari dalam hatinya!!!
Para suami, anda bisa terus menerus mengucap syukur bila fokus anda adalah bagaimana melayani dan mengabdi sepenuh hati kepada isteri dan anak-anak anda.
Para isteri, anda bisa terus menerus mengucap syukur, ditengah kesibukan anda di rumah, yang kerap dipandang orang sebagai sebuah penjara, bila fokus anda adalah memberikan yang terbaik bagi isteri dan anak-anak.
Ketiga, pengucapan syukur mengalir dari hati yang berfokus pada hadirat Allah, bukan pada situasi yang menghambat atau bahkan menghancurkan jiwa.
Secara teoritis, jemaat di Korintus tampaknya kurang menjanjikan untuk terus dibina oleh Paulus. Sebenarnya ada jemaat-jemaat lain yang lebih punya potensi untuk dikembangkan menjadi jemaat yang baik. Paulus sebenarnya bisa memilih untuk mengabaikan mereka dengan alasan buat apa buang-buang waktu untuk membina jemaat yang menghancurkan kalbunya. Paulus sebenarnya bisa menghindari ”situasi” sulit di Korintus dan berpaling pada situasi yang lebih baik di Berea. Namun Paulus tetap menghadapi jemaat di Korintus dengan segala kepelikan dan masalahnya! Dia menghadapinya dengan hati yang diwarnai pengucapan syukur, sebagaimana tercermind alam pembukaan surat-suratnya. Kenapa dia bisa begitu? Karena dia memfokuskan dirinya pada hadirat Allah yang telah memanggil dan menyertai Dia untuk menangani masalah di Korintus. Fokus kepada Hadirat Allah yang luar biasa inilah yang menjadi kunci dari pengucapan syukur yang terus menerus dalam diri Paulus.
Pada tahun 1636, Martin Rinkart dipanggil untuk melayani di kota Eillenburg. Saat itu perang besar berkecemuk di seluruh Eropa. Perang bukan saja menewaskan para prajurit dan orang sipil. Perang juga memabwa dampak negatif yang beruntun: kelaparan dan wabah. Tahun 1636, ketika Riunkart bertugas di Eillenburg, wabah penyakit merajelala hingga mengakibatkan ribuan orang tewas, Setiap hari, Rinkart harus memimpin kebaktian penguburan 40-50 orang. Keadaan yang mengerikan semacam itu bisa membikin orang lumpuh atau paling tidak ketakutan dan cepat-cepat menyelematkan diri denganc ara meninggalkan kota. Namun Rinkart memutuskan untuk tetap tinggal dan melayani. Hatinya lebih terfokus pada Allah ketimbang situasi kelam yang menyelimuti Eillenburg. Kepada jemaatnya dia berkata: To his congregation he said,
“We must lean on God’s presence.
We must be the presence of Jesus
for one another. We must have the
sustaining presence of the spirit to guide us
or we will no survive.
Begitu fokusnya Rinkar pada hadirat Allah ditengah situasi yang mencekam, hingga sebuah lagu indah lahir dari hatinya pada tahun 1636.
Now thank we all our God
With heart and hands and voices,
Who wondrous things hath done,
In whom this world rejoices;
Who, from our mothers’ arms,
Hath blessed us on our way
With countless gifts of love,
And still is ours today.
Di mana posisi anda saat ini? Apakah anda berada di tengah situasi kehidupan yang tidak menguntungkan! Hingga anda sukar untuk berkata ”Thank U” Lord. Ingat Paulus, ingat Martin Rinkart. Mereka Bisa! Mereka Akhirnya Menang terhadap situasi mereka! Anda dan sayapun pasti Bisa!
If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds
























BlogoSquare