headermask image

header image

Orang Beriman Yang Berkemenangan

Orang Beriman Yang Berkemenangan

(Roma 8: 18-37)

Adalah mudah untuk mengidentikan “kemenangan iman” dengan saat-saat di mana kita merasa “beruntung”, saat-saat di mana kita dilepaskan dari kesulitan, saat-saat di mana kita disembuhkan, saat-saat di mana cuaca kehidupan kita terasa cerah. Hal tersebut tentunya benar adanya! Tapi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah hanya itu saja ? Dengan kata lain, mungkinkah kita tetap dapat mengalami kemenangan iman saat di mana cuaca kehidupan kita terasa suram, saat di mana bahaya mengancam, saat di mana kekurangan, sakit-penyakit, dan kesulitan hidup mengurung hidup kita? Pertanyaan semacam inilah yang hendak dijawab oleh Rasul Paulus dalam Roma 8: 18-37. Dalam bagian yang penuh dengan kalimat-kalimat nan indah ini jawaban Paulus sangat positif. Maksudnya, tak peduli betapa gelap mendung kehidupan menaungi kehidupan kita, tak peduli betapa besar bahaya dan krisis yang sedang kita hadapi saat ini, tak peduli betapa berat “sekolah penderitaan” yang sedang kita jalani saat ini, setiap orang percaya harus menyadari suatu fakta bahwa dirinya adalah “Pemenang” bahkan “Lebih dari Pemenang”. Mungkin anda penasaran mendengar pernyataan Paulus yang sepertinya tidak masuk diakal itu. Mungkin anda mau bertanya: Atas dasar apa Paulus berani menyatakan bahwa kita adalah “lebih dari Pemenang”? Jawaban Paulus terhadap pertanyaan anda adalah:

  • Pertama, kita “lebih dari Pemenang” karena Allah selalu berada di pihak kita (Rom 8:31) Ini adalah suatu kebenaran yang luar biasa. Dia yang menciptakan segala sesuatu, Dia yang mengatur segala sesuatu, Dia yang menguasai segala sesuatu berada di pihak kita. Woow betapa luar biasanya. Jika kita pegang erat-erat dan hayati kebenaran ini, tak ada satu kuasa atau situasi di dunia ini baik yang kelihatan ataupun tidak kelihatan, baik yang ada sekarang maupun akan datang dapat membuat kita “patah”. Satu-satunya hal yang dapat mengalahkan kita hanyalah “diri kita sendiri”.

  • · Kedua, kita “lebih dari Pemenang” karena ada Roh Kudus yang selalu siap membantu dalam kelemahan kita (Rom 8:26). Entah saudara sadar atau tidak Roh Kudus senantiasa bersyafaat untuk kita. Suatu kali seseorang wanita terbangun dari tidurnya di tengah gelap gulita malam tanpa adanya alasan yang jelas. Yang pasti dia merasa didorong oleh suatu kekuatan tak terlihat untuk berdoa. Maka berdoalah dia dalam kata-kata yang tak bisa dia mengerti (kita orang Pentakosta menyebutnya berdoa dalam bahasa Roh). Setelah beberapa saat dia mengakhiri doanya dan kembali tertidur. Beberapa waktu kemudian dia mendengar khabar tentang tenggelamnya kapal Titanic. Yang membuat dia terkejut adalah salah seorang dari penumpang yang selamat adalah suaminya. Di kemudian hari dia menyadari bahwa saat di mana dia terbangun adalah saat di mana sang suami berjuang menyelamatkan nyawanya dan saat di mana dia berhenti berdoa adalah saat di mana sebuah regu penolong berhasil mengangkat suaminya dari dalam air laut yang dingin.

  • · Ketiga, kita “lebih dari Pemenang” karena Allah bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (8:28). Perhatikan kata “segala sesuatu” – yang jelas berbicara tentang kekomprehensifan ruang lingkup karya Allah untuk mendatangkan kebaikan bagi diri kita. Allah berkarya untuk kebaikan kita di kala suka dan duka, di kala untung dan “buntung”, dan di tengah tawa sukacita atau raungan duka cita. Jangan slah mengerti ya! Itu bukan berarti kita menyatakan bahwa hal-hal seperti sakit penyakit, kegagalan usaha adalah hal-hal yang baik. Yang hendak kita nyatakan adalah bahwa melalui atau hasil/tujuan dari proses yang negatif (tidak baik tersebut) adalah kebaikan. Perhatikan kisah nyata berikut yang dapat menjadi sebuah illustrasi yang baik bagi kebenaran Firman Tuhan di atas. Pada awal abad yang lalu, Alabama Selatan diancam oleh serangan jutaan kumbang. Sudah pasti ada orang-orang percaya yang sungguh-sungguh berdoa agar mereka bisa terhindar dari bencana tersebut. Namun, Allah memilih jalan lain. Dia mengijinkan jutaan kumbang menghancurkan tanaman kapas, komiditi utama di tanah tersebut. Namun, yang luar biasa adalah kejadian yang terjadi beberapa tahun sesudah itu. Doa yang tidak terkabul itu ternyata mengubah perspektif penduduk setempat. Mereka tahu bahwa mereka harus melakukan diversifikasi penanaman. Maka mulailah mereka menanam kacang, kedelai, jagung, gandum, sayur-mayur dan tanaman lainnya. Hasilnya daerah Alabama selatan mengalami kemajuan ekonomi yang luar biasa. Bencana kumbang tentu bukan hal yang patut disyukuri bukan? Karena itu jelas merugikan. Tapi yang patut disyukuri adalah hasil atau hikmah di balik tragedi tersebut! Melalui tragedi itulah, Allah menuntun orang-orang Alabama kepada keadaan yang lebih baik.

If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.