headermask image

header image

Surat kepada Jemaat di Laodikia


“Ketika “Kelebihan” menjadi Sebab penurunan nilai kegunaan.”

Teks: Wahyu 3: 14-22.

Introduksi:

Gambaran seorang dokter yang sedang mendiagnosa seseorang, kemudian menemukan macam penyakit, sumber penyakit, dan obat yang dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit tersebut, mungkin merupakan gambaran yang paling cocok untuk melukiskan apa yang dilakukan oleh Yesus terhadap tujuh gereja di Asia Kecil pada abad I yang dokumennya terekam di dalam kitab Wahyu. Dokumen tersebut tentu saja penting bukan saja bagi mereka yang menjadi bagian dari ketujuh gereja di Asia kecil pada akhir abad I tersebut, melainkan bagi kita, gereja Tuhan, yang hidup pada awal abad XXI ini. Mengapa? Jawabnya; Sebab tujuh gereja tersebut, seperti diyakini oleh penafsir-penafsir terkemuka PB, semacam George Ladd, merupakan representasi dari tujuh macam situasi (konteks) beserta dengan tujuh macam tantangan (internal dan eksternal) yang dihadapi oleh gereja-gereja di segala jaman. Jadi, dalam satu atau lain hal, sesungguhnya ‘kita’ bisa mengidentifikasikan diri kita dengan gereja-gereja yang disebutkan di dalam Wahyu 2-3.

Surat kepada Jemaat di Laodikia menjadi fokus dari uraian Firman Tuhan pagi ini. Yesus Kristus, sang
Empunya Gereja, melalui diagnosanya yang tak mungkin salah akan menunjukkan kepada kita (1) ‘penyakit rohani apa yang sedang diderita oleh jemaat ini; (2) penyebab atau sumber dari ‘penyakit’ tersebut; (3) obat atau penangkal bagi ‘penyakit’ tersebut.

(1) Syndroma Laodikia (ayat 15-16) – Penurunan Nilai Guna

“Suam-suam kuku” adalah ungkapan yang digunakan oleh Yesus untuk melukiskan penyakit yang sedang berjangkit di tengah-tengah jemaat Laodikia. Untuk memahami makna dari ungkapan ini lebih
baik kita pergi ke lembah Lycus. Pada abad pertama, terdapat tiga kota di lembah itu yang
letaknya tak terlalu jauh satu sama lain. Kota pertama, Hieropolis, terkenal karena memiliki sumber air panas yang berkhasiat obat. Kota kedua, Kolose, terkenal karena memiliki sumber air dingin yang murni dan menyegarkan.Kota ketiga,Laodikia, tidak memiliki sumber air sendiri. Air yang ada di sana diperoleh dengan
mengalirkan air dari sumber-sumber air yang berada di luar kota. Yang menarik adalah, karena letak
Hieropolis lebih tinggi dari Laodikia, air panas yang berkhasiat obat di sana mengalir turun ke bawah ke arah kota Laodikia, membentuk semacam air terjun yang tingginya 300 kaki. Namun air yang
ditemukan di sana “suam-suam kuku” dan tak punya khasiat apa-apa. Mengapa? Setelah menempuh jarak
6 mil, air dari Hieropolis itu bukan saja kehilangan derajat panasnya, melainkan juga kehilangan khasiat obatnya karena mineral-mineralnya tertinggal dalam batuan yang dilewatinya. Jadi, jelas, “suam-suam kuku” yang dimaksudkan di sini tidak ada kaitannya dengan “temperatur rohani” seseorang, melainkan berkaitan dengan penurunan nilai guna. Air yang suam di kota Laodikia kurang bernilai guna (lebih rendah mutunya), bila dibandingkan dengan air panas Hieropolis yang mengandung khasiat obat dan air dingin Kolose yang murni dan menyegarkan. Anda dan saya sedang mengalami “syndroma Laodikia” bila anda dan saya mengalami penurunan nilai guna. – ketika kehidupan kita gagal untuk menjadi berkat; ketika keluarga,
teman, atau masyarakat tidak lagi bisa merasa kehilangan ketika kita tidak ada di tengah-tengah mereka; ketika ketidakhadiran kita malah menjadi sumber kebahagiaan mereka.

(2) Sumber dari “Syndroma Laodikia”. (ayat 17)

Sumber atau penyebab dari Syndroma Laodikia jelas – “kelebihan yang mereka miliki”. Mereka adalah “jemaat yang sukses” dari kaca mata manusia. Sama suksesnya dengan kota mereka yang menjadi: (1) salah satu pusat perbankan dan keuangan abad pertama. Cicero, orator ulung abad I pun tak segan-segan
mendepositokan kekayaannya di sana; (2) produsen salah satu kain wol paling bermutu pada abad I; (3) salah satu pusat sekolah kedokteran terkemuka dan sekaligus produsen salep mata yang
terkemuka di abad pertama. Merekapun tidak dikejar-kejar atau dianiaya seperti rekan-rekan di Smirna dan Filadelfia, dan tidak pula mengalami masalah dengan ajaran sesat, seperti rekan-rekan
mereka di Efesus dan Pergamus. Pokoknya keadaan mereka adalah “makmur”, “adem-ayem”. Ironisnya justru keadaan semacam inilah yang menjadi sumber dari masalah mereka. Betapa seringnya orang-orang percaya mengalami Syndroma Laodikia karena “kelebihan” yang mereka miliki. Melimpahnya berkat membuat mereka lupa Tuhan dan kehilangan kewaspadaan rohani. Sebut saja, nama Jim Bakker dan Robert Liardon, yang tersandung jatuh, justru ketika mereka ada di puncak sukses. Bukan hal yang tak mungkin pula bila nama kita ada dalam “list” penderita syndroma Laodikia – ketika kita terlena karena keberhasilan kita, ketika kita berpuas diri dan merasa cukup, ketika kita tak waspada lagi, di tengah-tengah suasana “bebas dari krisis’, hingga gawang kehidupan rohani kita dibobol oleh musuh.

(3) Obat Penangkal Syndroma Laodikia (ayat 18-20)

Syndroma Laodikia memang berbahaya karena akan menjadikan kehidupan Kristen kita kehilangan daya guna. Tetapi untunglah fenomena ini tidaklah seperti penyakit sirosis (pengerasan) hati yang “irreversible” (tak dapat pulih kembali). Syndroma Laodikia bisa ditaklukkan! Kehidupan Kristen Kita akan punya daya guna lagi ! Pertanyaannya adalah: Bagaimana caranya? Apa ‘obat’nya? Pertama, menyadari dan mengakui akan ketidakmampuan kita – dalam bahasa kitab Wahyu kita mengakui jati diri kita yang melarat, telanjang, dan buta (3: 17-18). Kedua, dengan mengundang dan melibatkan Kristus sebagai Tuhan dalam setiap elemen kehidupan kita – dalam bahasa Kitab Wahyu kita “membukakan pintu hati” kita untuknya dan menikmati persekutuan yang paling erat yang diwujudkan dalam bentuk makan malam (3: 20)

If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds

Post a Comment

You must be logged in to post a comment.