“ADA APA DENGAN CINTA”
Introduksi:
Seorang siswa SMU ditugaskan untuk mendefinisikan “cinta” secara komprehensif. Tugas semacam ini mengharuskan ia untuk mencari nara sumber dari berbagai disiplin ilmu. Yang dilakukannya adalah meminta pendapat guru-gurunya mengenai kata cinta menurut disiplin ilmu yang dikuasainya, Inilah hasil petikan wawancaranya:
· Menurut Guru Fisika: “Cinta” adalah gaya tarik-menarik diantara dua insan yang berlawanan jenis yang bekerja menurut Hukum Newton: F = k. Q1.Q2/r.r.
Jadi karena cinta berbanding terbalik dengan kuadrat jarak, maka menurut hukum ini dapat diramalkan bahwa kekuatan cinta akan semakin melemah bila jarak yang memisahkan dua insan itu semakin jauh.
· Menurut Guru Biologi: “Cinta” adalah hubungan di antara dua insan yang berlainan jenis yang dibangun di atas dasar hubungan saling-menguntungkan dengan tujuan akhir adalah meneruskan garis keturunan.
· Menurut Guru Akuntasi: Cinta adalah suatu transaksi ekonomi yang menyebabkan kolom kredit pada kitab pembukuan semakin penuh.
· Menurut Guru Sejarah: Cinta adalah benda antik yang ditemukan secara tidak sengaja oleh orang yang sedang jatuh cinta.
· Menurut Guru Tata Negara: Cinta adalah hubungan diplomatic di antara dua insan yang masing-masing memiliki tujuan tertentu.
· Menurut Guru Pendidikan Jasmani: Cnta adalah suatu cabang olahraga yang menyebabkan orang dag-dig dug jantungnya dan kelelahan sewaktu menjalaninya.
Berbicara mengenai cinta memang tidak ada habisnya. Mendefinisikan “cinta” memang tak pernah tuntas dan bukan tugas yang mudah. Namun, berbicara mengenai cinta, selalu menarik perhatian. Jadi jangan heran, bila lagu-lagu, puisi-puisi, dan drama-drama didominasi oleh tema cinta. Bahkan sebuah hari khusus, kini diabadikan bagi “Cinta” – Valentine’s Day, yang akan kita peringati esok hari. Pagi ini, dalam rangka menyambut hari yang digandrungi oleh para pelaku cinta itu, saya akan membahas “cinta” dari sudut pandang Kitab Kidung Agung – Sebuah Kitab yang belum tentu 5 tahun sekali dibahas oleh para Hamba Tuhan melalui mimbar-mimbar yang dipercayakan kepadanya.
Teks:
Kidung Agung 8: 6-7
8:6 –Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!
8:7 Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.
Pembacaan harafiah dari perikop ini, paling tidak akan menyingkapkan tiga gagasan penting mengenai cinta yang harus dimiliki oleh setiap orang yang akan dan sedang menjalin hubungan cinta yang serius dan permanen dengan lawan jenisnya,
- Pertama, Cinta itu total. Perhatikan kata “hati” yang menurut David Allan Hubbard menunjuk pada segi-segi yang tidak kelihatan (inward)’. Perhatikan kata “lengan” yang menunjuk pada segi-segi yang tampak (outward). Cinta kasih Kristen adalah cinta kasih yang ditujukan pada manusia yang seutuhnya, bukan pada benda-benda, bukan pada “bank account”, bukan pada “otak yang cemerlang’, bukan pada “badan yang gempal, seperti ditonjolkan iklan-iklan di TV. Cinta kasih Kristen adalah cinta yang mampu menerima “pasangan”nya apa adanya. Cinta kasih Kristen adalah cinta yang tak luntur ketika penampilan fisik dari pasangan kita berubah, cinta kasih Kristen adalah cinta yang tak luntur ketika pasangan hidup tak lagi produktif.
-
- Sebuah film, yang berjudul “A Beautiful Mind” telah memenangkan Piala Oscar beberapa tahun silam. Film yang dibintangi oleh Russel Crowe, ini diangkat dari kisah nyata tentang kehidupan John Nash pemenang hadiah Nobel untuk bidang ekonomi. John Nash adalah seorang yang brilliant, namun sayang dia mengalami gangguan kejiwaan yang disebut sebagai schizophrenia. Penyakit jiwa tersebut sedemikian parah hingga ia harus berhenti mengajar di alma-maternya, Princeton University, dan diasingkan di rumah sakit jiwa. Untungnya, John nash punya seorang isteri yang mengasihi dirinya secara total. Meski John Nash tak lagi produktif, dan justru menjadi beban keluarga, Nyonya Nash terus mendampingi dan mendukung suaminya hingga secara berangsur John Nash bisa mengatasi gangguan kejiwaan, kembali mengajar di Princeton, dan akhirnya meraih Hadiah Nobel yang amat bergengsi itu. Pada saat upacara penerimaan Hadiah yang dimimpikan oleh ilmuwan manapun di dunia itu Nash menyatakan bahwa semua ini bisa terjadi karena ia memiliki seorang isteri yang mengasihi dia secara total, mengasihi dia apa adanya, mengasihi dia sebagai seorang suami, bukan mengasihi dia karena ia punya otak yang brilliant.
- Cinta itu eksklusif. Perhatikan ayat 6, menurut Roland E. Murphy kata-kata tersebut harus dipahami dalam kerangka budaya orang-orang Timur dekat yang punya kebiasaan untuk mengenakan sesuatu yang menjadi milik orang yang dikasihi entah dalam bentuk dikalungkan di leher atau dikenakan seperti cincin dilengannya. Praktek-praktek itu tentu punya tujuan tertentu, pengenaan benda-benda tersebut tentunya dimaksudkan untuk mengingatkan pihak-pihak yang terlibat dalam cinta, bahwa mereka saling memiliki, bahwa tak boleh ada pihak ketiga atau keempat yang boleh masuk dalam hubungan interpersonal mereka.
Hubungan cinta di antara pasangan-pasangan Kristenpun harus bersifat eksklusif. Tidak ada tempat bagi “poligami” atau “poliandri”. Tidak ada tempat bagi wanita idaman yang lain atau pria idaman yang lain. Dan hal itu baru bisa terjadi kalau ada yang namanya “fidelitas” – kesetiaan!
Bahkan dalam konteks “pacaran”. Para pemuda dan pemuda Kristenpun harus belajar menerapkan konsep fidelitas ini. Dr. John Gray, dalam bukunya “Mars dan Venus On Date” menyatakan bahwa ketika “kita mampu merasakan bahwa pacar kita memiliki potensi untuk menjadi pasangan, atau jika kita hanya merasakan bahwa kita ingin mengenal lebih jauh pribadinya dan membangun hubungan … kitapun harus siap melangkah ke tahap eksklusifitas.” Itu berarti, seorang pria harus punya komitmen untuk tidak memacari wanita lain; demikian pula sebaliknya.
- Cinta itu kuat, punya daya tahan yang luar biasa. Lihat gambaran puitis yang begitu indah. Kekuatan cinta digambarkan sekuat kuasa maut, yang pantang menyerah dalam mengejar “manusia yang hidup”. Kekuatan cinta digambarkan seperti api ilahi yang tak mungkin dipadamkan oleh kekuatan-kekuatan kekacauan (the power of chaos) yang dalam PL dikaitkan dengan “air” atau laut. Kekuatan kasih Kristen seharusnya tak dapat dipatahkan oleh kekuatan-kekuatan chaos yang sedang bekerja di dunia ini. Kekuatan kasih Kristen seharusnya tak dapat dipatahkan ketika terjadi krisis keuangan, kekuatan kasih Kristen seharusnya tak dapat dipatahkan ketika kekuatan-kekuatan chaos menyebabkan salah satu dari pasangan hidup kita gagal, tak lagi produktif, dll. Kekuatan kasih Kristen seharusnya tak dapat dipatahkan oleh kekuatan-kekuatan chaos yang muncul dalam bentuk orang ketiga yang lebih menarik. Kekuatan kasih Kristen seharusnya tak boleh dipatahkan oleh kekuatan-kekuatan chaos yang mucul dalam bentuk harta dan performa.
Illustrasi:
Dalam karya besar, Homer, “Odysseus”, diceritakan tentang kesetiaan dan daya tahan cinta yang luar biasa dari Penelope, Ratu negeri Ithaca”. Isteri dari Odysseus. Diceritakan bahwa, setelah membawa kemenangan atas Kerajaan Troya, Oddysius ditawan selama 20 tahun oleh seorang peri laut yang bernama “Calypso”. Dalam rentang yang cukup panjang tersebut Penelope menghadapi kekuatan-kekuatan yang luar biasa yang hendak menghancurkan cintanya kepada Odyssius dalam bentuk pria-pria yang membujuknya untuk menikah dengannya. Para pria tersebut meyakinkan Penelope bahwa Odysseus telah meninggal dan ia tak punya pilihan lain terkecuali menikah dengan salah satu dari mereka. Untuk menghindarkan diri dari desakan terus menerus dari para pria itu, Penelope mengajukan syarat bahwa ia harus menyelesaikan sebuah jubah yang telah dijanjikan untuk dibuatnya untuk mertuanya. Dengan cerdik, Penelope berhasil memperdaya para pria tersebut, hingga untuk jangka waktu yang lama jubah tersebut tak kumjung selesai. Namun sayang salah seorang pelayannya berkhianat dan Penelope harus menyelesaikan gaunnya. Menjelang saat penentuan siapa pengganti Odysseus, suami tercinta yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Odysseus menyamar sebagai pengemis tua. Odysseus harus menyamar setelah mendapat peringatan bahwa para pria yang menghendaki Penolope jadi isterinya akan membunuh Odysseus bila ia datang terang-terangan. Bahkan Penelope sendiri tak mengenalinya. Penelope akhirnya membuat sebuah sayembara untuk menentukan siapa yang akan jadi suaminya. Sayembaranya: dia yang sanggup menarik tali busur milik suaminya dan melepaskan anak panah melewati sasaran tertentu akan jadi suaminya. Tak seorangpun dari antara mereka yang memaksanya jadi isterinya berhasil memenuhi syarat Penelope, terkecuali pengemis tua, yang bukan lain adalah Odysseus. Akhirmya mereka berdua dipersatukan lembali dan memerintah Ithaca dengan damai sejahtera.
Ada satu catatan lain yang perlu kita camkan ketika kita berbicara mengenai cinta dari sudut pandang Kitab Kidung Agung. Kitab Kidung Agung adalah salah satu kitab dari 5 kitab (Kidung Agung, Ruth, Pengkhotbah, Ratapan, dan Ester) yang disebut dengan nama “Megilloth” – Kitab-kitab ini adalah kitab-kitab yang selalu dibaca oleh ornag Israel pada hari-hari raya mereka. Bila Kitab Ruth dibaca pada hari Pentakosta, Ratapan pada hari kesembilan pada bulan Ab, Pengkhotbah pada Hari Raya Pondok Daun, dan Ester pada hari raya Purim, maka kitab Kidung Agung dibaca pada hari raya Paskah. Padahal Paskah adalah hari yang dikhususkan oleh bangsa Yahudi untuk memperingati kasih Allah yang luar biasa besar kepada kepada mereka dan sekaligus kerinduan dan tekad dari Israel untuk mengasihi Allah dengan segenap kekuatan mereka. Jadi jelas, konteks teologis dari Kitab Kidung Agung adalah hubungan kasih di antara Allah dan umatNya. Beranjak dari pemahaman inilah, bukanlah hal yang mengada-ada kalau kita menerapkan tiga gagasan cinta yang telah dibahas di atas ke dalam dimensi hubungan vertikal di antara Allah dan kita, manusia.
- Itu berarti kasih kita kepada Allah haruslah total, menyeluruh, lahir dan batin, internal dan eksternal. Kasih kepada Allah bukan hanya diwujudkan dalam ungkapan verbal atau kerinduan di dalam hati saja, melainkan juga dalam tindakan.
- Itu berarti juga kasih kita kepada Allah haruslah eksklusif. Tidak boleh ada ilah lain di dalam kehidupan kita. Hal-hal yang menggantikan kedudukan Alalh sebagai pusat dalam kehidupan kita harus dirobohkan. Bahkan kasih kita kepada diri sendiri ataupun orang-orang lain harus disubordinasikan di bawah kasih kita kepada Allah.
- Pada akhirnya, itu berarti juga kasih kita kepada Allah haruslah kuat dan tak tergoyahkan. Meski angin kehidupan bertiup keras, meski badai kesulitan mengamuk, dan berteriak di mana Allah yang mengasihimu, kasih kita kepada Allah tidak boleh tergoyahkan. Hannah Withall Smith, seorang penulis Kristen yang terkemuka di abad XIX, adalah seorang yang banyak menjumpai badai kehidupan. Suaminya seorang hamaba Tuhan yang dipakai oleh Allah, namun pada akhirnya terjebak dalam ajaran yang kurang sehat yang akhirnya membawa dia keluar dari ajlan anugerah, menjadi pemeluk agama Budha, Anak-anaknya menikah dengan atheis. Dan ia sendiri terserang radang sendi yang parah, yang membuatnya hanya bisa berjalan dengan bantuan kursi roda. Meskipun demikian cintanya kepada Alllah tetap kuat dan tak tergoyahkan. Dia menulis sebuah buku “The God of All Comfort”.
If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds
























BlogoSquare