Teks: Matius 2: 1-11
Mantan Menteri Agama, Said Agil Munawaroh, bermimpi bisa menemukan harta presiden Soekarno di sekitar prasasti Batutulis Bogor.
Setelah melakukan penggalian, ia tak menemukan apa-apa. Bukan harta yang dituai melainkan beribu celaan!
Harapan yang tidak berimpit dengan kenyataan!
Salah satu Bapak Gereja yang terbesar, Agustinus, Uskup Hippo dari Afrika Utara, konon mempunyai tiga keinginan (harapan) yang amat dalam. Sebelum ajal, ia pingin beul melihat tiga hal: (1) Roma di puncak kejayaannya, Yesus Kristus dalam wujud jasmani-Nya, dan Rasul Paulus ketika ia berkhotbah. Kita tidak tahu apakah harapan yang mulia itu kesampaian atau tidak pada akhirnya. Kemungkinan besar tidak!
Harapan yang tidak berimpit dengan kenyataan!
Saya pingin sekali membahagiakan orang tua saya. Doa-doa saya penuh dengan permohonan agar kedua orang tua saya diberi panjang umur, paling tidak sampai melewati ulang tahun pernikahan emas mereka.
Sayang, awal tahun ini harapan tersebut pupus ketika mama saya dipanggil Tuhan.
Harapan yang tidak berimpit dengan kenyataan!
Teks kita pagi ini, Matius 2: 1-22, memberikan gambaran sebuah harapan yang tak berimpit dengan kenyataan. Para majus telah menempuh jarak sekitar 1000 km, mengikuti sebuah bintang yang akan membawa mereka ke tempat kelahiran Raja besar. Hati mereka penuh dengan semagat yang menyala-nyala, bekal-bekal dan hadiah terbaik menyertai mereka.
Setelah berbulan-bulan melewati jalan-jalan yang penuh bahaya, mereka berharap dapat menemukan sesuatu yang agung dan mulia di akhir perjalanan mereka. Itulah sebabnya istana Herodes menjadi tempat persinggahan mereka! Sang Raja Besar harus lahir di istana besar dengan jubah indah nan mewah. Namun tak ada Raja Besar di istana Herodes! Mereka harus terus melangkah dan mencari. Bntang terus memimpin mereka dan akhirnya berhenti di halaman belakang sebuah kandang hewan! Di sana alih-alih melihat sebuah istena megah beserta sang raja duduk di singgasana, para majusi menemukan pasangan muda sedang membaringkan seorang bayi mungil di palungan. Sama sekali jauh dari apa yang diharapkan! Mereka mengikuti Bintang Nan Cemerlang dan hanya menemukan sebuah kandang hina, bukannya istana megah!
Sudah pasti mereka terkejut dan bukan tidak mungkin kecewa! Namun yang luar biasa adalah sikap yang mereka tunjukkan kala menemukan sebuah kandang. Sebuah sikap yang patut kita teladani, karena masing-masing dari kita, suatu saat akan berhadapan dengan pengalaman serupa, berharap sebuah istana megah, namun kenyataannya justru terjebak dalam sebuah kandang kehidupan yang tidak nikmat.
Ketika mengharapkan kelimpahan, namun dikarunia kekurangan
Ketika mengharapkan kesehatan, namun dipercayakan kesakitan
Ketika memimpikan kesuksesan, namun tersandung dengan kegagalan-kegagaln.
Kalau anda pernah atau sedang mengalami pengalaman dipimpin ke dalan sebuah kandang kehidupan, belajarlah dari para majus!
Pertama, Ketika para majus menemukan sebuah kandang, mereka membuka mata rohani mereka untuk melihat Allah.
Secara fisik, gambaran yang dilihat para majusi jelas kurang impresif. Nyaris tanpa kesan! Namun demikian, melalui mata rohani yang terbuka, mereka mampu melihat kemuliaan dibalik kehinaan; Kemegahan di balik kesederhanaan; Keperkasaan dibalik kerapuhan; dalam diri Yesus Kristus, Sang bayi Natal
Apakah kita mampu membuka mata rohani kita kala mengalami pengalaman di dalam kandang?
Paulus mampu, itulah sebabnya kala ia ada di dalam penjara di kota Roma, ia sempat menulis:
Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
(Filipi 4: 13-14)
Daudpun mampu, itulah sebabnya kala dikejar-kejar oleh pasukan Anak kesayangannnya, Absalom, ia masih mampu untuk menggoreskan Mazmur 23.
TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
John Maxwell menulis:
Perbedaan di antara orang Kristiani yang lemah dan orang kristiani yang kuat adalah sebagai berikut:
Orang Kristiani yang lemah hanya melihat kebaikan di dalam Allah. Ketika kebaikan berdatangan, ornag kristaini yang lemah dan belum dewasa akan berkata: ”Nah, ini pasti dari Allah karena segala seuatunya berjalan dengan baik.” ”Hmm, segala sesuatunya berjalan begitu lancara, saya tahu Allah pasti hadir didalamnya.” Padahal tidak selalu begitu.
Orang kristiani yang kuat melihat Allah baik dalam susah mauun senag. Orang percaya yang dewasa melihat Allah tdak hanya dalam kesenagan dan istana kerajaan, melainkan juga di pekarangan, bahkan di kandang kehidupan.
Kedua, ketika para majusi menemukan sebuah kandang, mereka memberikan yang terbaik yang menjadi milik kepunyaannya.
Di kala kita susah, gagal, kecewa, ada kecenderungan bagi kita untuk menutup diri kita kepada Allah dan kebutuhan-kebutuhan yang ada di sekeliling kita!
Pengalaman ” menghadapi sebuah kandang: kadang membawa kita kepada ”egosentrisme” yang terwujud dalam bentuk mengasihi diri sendiri dan tak peduli pada yang lainnya, termasuk Allah!
Nggak usah mikiran Allah, apalagi melayani Dia! Makinmelayani dia kok semakin susah aja sih! Demikain kata-kata yang kerap kali keluar saat badai kehidupan datang menghempas.
Kalau Cuma gini aja berkatnya, tanpa Allah sih gua bisa! Demikian kata-kata yang keluar dari biblir kita kalau pengharapan kita tak sesuai dengen kenyataan.
Pra majusi, sebaliknya, tetap memberikan yang terbaik dari mereka untuk sang bayi, meski sang bayi hanya tidur beralaskan jerami.
Kitapun seharusnya demikian.
Tetap memberi meski rugi!
Tetap melayani meski sakit!
Tetap berinadah kepada Allah meski doa belum terkabul!
Ketiga, ketika pada majusi menemukan sebuah kandang mereka tahu persis harus mengubah arah dari rencana perjalananya.
Pengalaman di dalam sebuah kandang, kerap kali cukup berharga. Di dalam sebuah kandang para majusi menemukan ”Mesias”. Di dalam sebuah kandang para majusi menyambut tantangan Allah untuk terlibat dalam penyelamatan sang Mesias dari keganasan serigala jahat macam Herodes! Pengalaman di dalam kandang akhirnay mengubah arah dari rencana perjalanannya semula!
”Pengalaman di dalam sebuah kandang” – pengalaman-pengalaman pahit di dalam hidup kita kadang menggemakan suara Allah untuk mengubah arah hidup kita
Paulus mengalaminya – matanya buta dan tak berdaya – Pengalaman di dalam Kandang,
Dan Pengalaman itu pada akhirnya membawa ia mengubah orientasi hidupnya, dari penentang Kristus menjadi pembela Kristus.
John D. Rockeffeler mengalaminya – ia menderita penyakit yang serius – lagi-lagi pengalaman di dalam kandang.
Pengalaman semacam itu akhirnya mengubah orientasi hidupnya, dari orang yang luar biasa pelit, menjadi orang yang murah hati. Menurut catatan ia sudah menyumbangkan lebih dari setengah milyard dolar untuk tujuan kemanusiaan.
Charles Colson mengalaminya – kala harus mendekam 7 bulan lamanya dalam penjara karena terlibat di dalam skandal Watergate yang menjatuhkan Presiden Nixon.
Pengalaman dalam kandang itu akhirnya mengubah orientasi hidupnya. Pengalaman di dalam kandang membawanya untuk menjadi pelayan Tuhan. Ia memulai pelayanan para narapidana yang disebut Prison Fellowship. Pada awal tahun 1990-an pelayanan ini berkembang ke 50 negara bagian di Amerika yang merekrut lebih dari 40.000 sukarelawan.
Bagaimana dengan anda?
Apa anda sedang di bawa kedalam ”kandang-kandang” kehidupan? ”sakit, gagal, ditolak, bangkrut! Bila itu masalahnya, berdoalah agar anda bisa memiliki kepekaan untuk mendegar suara Allah – Jika Allah menghendaki agar engkau mengubah orientasi hidupmu. Lakukan sekarang!
inspired by:
John Maxwell’s sermon
If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds

























BlogoSquare