headermask image

header image

Kegagalan Bukanlah Hal yang Final

KEGAGALAN BUKANLAH HAL YANG FINAL

(LUKAS 22: 54-62)

Dalan suatu acara televisi ESPN, ditayangkan suatu interviews di mana seorang mega bintang mengisahkan tentang perjalanan kariernya:

Lebih dari 3000 kali saya diberi kepercayaan untuk menyarangkan bola ke jaring lawan namun saya gagal melakukannya. Saya diberi 26 kali kepercayaan oleh tim saya untuk melakukan tembakan terakhir pada saat pertandingan final dan saya pun gagal. Lebih dari 300 kali saya berkontribusi dalam kekalahan tim saya Chicago Bulls dan kini saya masih dijuluki sebagai pemain terhebat sepanjang masa. Sayalah Michael Yordan.”

Abraham Lincoln adalah seorang pribadi yang ulet. Sifatnya yang pantang menyerah telah membuatnya mampu bertahan melalui berbagai rintangan dan menjadi orang
yang berhasil. Abraham Lincoln mampu membuat kegagalan
menjadi “batu loncatan” untuk maju dari satu keberhasilan kepada keberhasilan yang lebih tinggi.
Lihatlah catatan sejarah hidupnya dibawah ini.

1816 : Keluarganya diusir dari rumahnya, sehingga iaharus bekerja
1818 : Ibunya meninggal dunia.
1831 : Gagal dalam berbisnis
1832 : Gagal menjadi anggota legislatif. Ia kehilanganpekerjaan dan ingin sekolah di
fakultas hukum tetapi tidak diterima.
1833 : Meminjam uang untuk memulai lagi bisnisnya danbangkrut pada tahun itu juga.
Ia harus melunasi hutangnya selama 17 tahun
1834 : Terpilih sebagai anggota legislatif
1835 : Bertunangan, kemudian tunangannya mati dan ia patah hati
1836 : Mengalami “nervous breakdown” dan harusberbaring selama 6 bulan
1838 : Ingin menjadi pembicara badan legislatif, tetapi gagal
1840 : Ingin menjadi “Elector”, tetapi gagal
1843 : Ingin menjadi anggota kongres, tetapi gagal
1846 : Berhasil menjadi anggota kongres
1848 : Tidak terpilih untuk yang kedua kalinya sebagai anggota kongres
1849 : Melamar sebagai walikota, tetapi ditolak
1854 : Ingin menjadi anggota Senat Amerika, tetapi gagal
1856 : Mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden Amerika, tetapi gagal karena ia hanya
mendapat suara kurang dari 100
1858 : Ingin menjadi anggota Senat Amerika lagi,tetapi kalah
1860 : Terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat

Dua kisah di atas menggarisbawahi tema yang akan saya kupas pagi ini: Kegagalan Bukanlah Hal yang Final

Ya, kegagalan bukan hal yang final bila:

Pertama, kita sadar bahwa setiap orang pernah gagal (ayat 60).

Petrus adalah tokoh besar yang pernah hidup bersama-sama denganYesus. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana DIA melakukan perkara-perkara yang besar. Dia mendengar dengan telinganya sendiri, pengajaran-pengajaran agung yang keluar dari mulut Yesus. Dia merasakan bahwa derajat kasih dan kepedulian dari gurunya begitu luar biasa, sulit ditandingi oleh orang-orang suci lainnya yang hidup pada jaman itu. Tapi toh, pengalaman-pengalaman yang istimewa itu tidak mampu untuk mencegah Petrus dari jurang kegagalan.

Rupanya, bukan hanya Petrus yang gagal. Raksasa-raksasa iman yang lain dari Alkitabpun menorehkan catatan kegagalan dalam goresan tinta emas yang terdapat dalam kisah hidup mereka. Abraham pernah gagal; Yakub pernah gagal: Musa pernah gagal; Daud pernah gagal.

Pemahaman bahwa tiap orang pernah gagal akan mencegah kita untuk berputus asa, frustrasi, dan melakukan tindakan yang fatal. Pemahaman bahwa sukses tanpa kegagalan hanyalah sekedar mitos belaka akan membuat kita bisa melihat perspektif positif dari kegagalan kita.

Kegagalan bukan hal yang final bagi kita:

Kedua, bila kita sadar bahwa kasih dan pengampunan Allah tidak bergantung pada kesuksesan kita (ayat 61)

Ayat 61, bila dibaca dengan sebuah penghayatan akan menyingkapan kita pada sebuah dimensi kisah yang mengharukan. Setelah menyangkal DIA sebanyak tiga kali. Alkitab berkata,”Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus.” Meski teks tidak secara tersurat menyatakan pandangan macam apa yang terpancar dari mata dan wajah Yesus, kita bisa menduga bahwa tatapan mata Yesus bukanlah tatapan mata kemarahan, kekecewaan, dan penolakan. Sepertinya, tatapan mata Yesus adalah tatapan mata penerimaan, pengertian dan pengampunan. Jadi jangan heran, kalau kita mendapati efek yang ditimbulkan dari tatapan Yesus kepada Petrus adalah: “ Ia pergi keluar dan menangis dengan sedihnya” hatinya hancur, karena meski dia gagal Yesus masih bisa menerimanya; meski “prestasi rohaninya”mengecewakan Allah masih menerima dan mengasihinya; meski berkhianat, Yesus masih mengampuninya.

Bukti yang palin tersurat mengenai penerimaan Yesus, bisa kita lihat dalam catatan yang dibuat oleh Injil Markus:

16:7 Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.”

Perhatikan Nama Petrus disebut di sana. Allah memandang dia sebagai figure penting meski dia telah gagal.

Dalam kehidupan kami sebagai orang tua, kami seringkali berhadapan dengan kenyataan bahwa anak kami gagal memenuhi harapan-harapan kami. Itu bukan terjadi sekali, dua kali, namun berkali-kali. Tapi, toh terlepas dari kegagalan Putri kami untuk taat, kami masih bisa menerima, mengasihi dan memberi yang terbaik bagiNya.

Orang bilang Kasih Anak Sepanjang galah. Kasih Orang Tua sepanjang Hayat. Namun Kasih Tuhan itu selama-lamanya,

Jika saya sebagai orang tua yang punya kasih yang jauh lebih kecil dari kasih Allah bisa menerima kegagalan anak-anak saya,t erlebih lagi Tuhan bisa menerima anda apa adanya. PenerimaanNya tidak bergantung pada kesuksesan anda. Perhatikan ada satu ayat di dalam kitab Roma yang mengatakan:

Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar — tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati –.Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Roma 5: 6-8)

Kegagalan bukan hal yang final bagi kita,

Ketiga, bila kita bersedia untuk bangkit kembali . Kisah hidup Petrus pasca kebangkitan Yesus adalah kisah dari seseorang yang berani bangkit kembali setelah kegagalan fatal menimpah dirinya. Pada hari Pentakosta, tepat lima puluh hari sesudah Paskah Petrus berdiri dan berkhotbah tanpa gentar sedikitpun di hadapan masa. Hasilnya, 3000 orang bertobat !!! (Kis 2: 41) Prestasi Luar biasa.

Billy Lim menulis sebuah buku yang sangat popular di Malaysia, judulnya Dare to Fail. Dalam buku tersebut ia mencantumkan sebuah survey yang menyatakan bahwa dibutuhkan rata-rata 240 kali proses jatuh bangun dari seorang bayi, sebelum ia mampu berjalan.

Menurut anda, ketika bayi itu jatuh, apakah ia akan menyalahkan orang tuanya karena kurang membimbingnya, atau menyalahkan lantai karena licin? O, tidak, para bayi belum bisa berpikir sejauh itu. Bahkan mereka menikmati sekali proses jatuh bangun itu. Mereka tanpa berpikir lama akan bangkit lagi dengan tersenyum dan semangat. Mereka bangkit dan berusaha mencoba sekali lagi, sekali lagi, dan sekali lagi. Sampai kapan? Sampai mereka bisa berjalan.

Rupanya, sejak dini Tuhan telah mengajar kita bahwa pertama, kegagalan adalah sesuatu yang normal dan alamiah; kedua, kunci menuju sukses adalah bangun dan bangkit dari kegagalan itu.

Jikalah anda merasa berputus asa karena gagal hari ini sadarlah, bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya bila saudara bersedia bangkit kembali dari kegagalan itu.

Kutuk Keturunan (Generational Curse) - Repost

“Sebuah Evaluasi Singkat Terhadap Ajaran Kutuk Keturunan”

Apakah ajaran kutuk Keturunan ini Alkitabiah?

  • “Ya”, kata beberapa pelayan Injil seperti Neil Anderson dan Marilyn Hinckey.

Dasar Alkitab yang paling sering mereka gunakan:

  • Keluaran 20: 5 - “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku…”

Tanda-tanda dari mereka yang mengalami “kutuk keturunan”:

Biasanya para penganjur kutuk keturunan menggunakan Ulangan 28: 15-46 sebagai ayat pendukung. Derek Prince sebagai contoh, menyebutkan beberapa tanda yang menunjukkan adanya kutuk dalam diri seseorang adalah: (1) Gangguan kejiwaan atau emosi; (2) Penyakit menahun atau kambuhan; (3) Kemandulan, keguguran yang berlangsung berkali-kali dan penyakit kewanitaan; (4) Kehancuran rumah tangga dan keretakan dalam hubungan keluarga; (5) Kemiskinan; (6)Sering mengalami kecelakaan; (6) Banyaknya kasus bunuh diri dan kematian yang tidak wajar atau mati muda dalam suatu keluarga.

Evaluasi terhadap pandangan ajaran “kutuk keturunan”

· Tentang Keluaran 20:5. Para penganut ajaran kutuk keturunan biasanya hanya membaca ayat ini saja, tanpa menghiraukan konteks pembicaraan yang lebih luas. Memang benar dalam ayat ini Allah digambarkan sebagai Allah pencemburu yang membalaskan murkanya pada keturunan keeempat dan kelima. Namun perhatikan baik-baik, obyek dari murka Allah adalah para penyembah berhala, bukan orang percaya. Apa yang terjadi bila keturunan para penyembah berhala berpaling kepada Allah, secara otomatis kutuk tersebut dianggap tak berlaku. Perhatikan baik-baik ayat 6! Allah digambarkan sebagai Allah yang penuh kasih karunia yang menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang yang mengasihi dia dan berpegang pada perintah-perintahNya. Ayat ini secara otomatis diberlakukan kepada mereka, meski nenek moyang mereka berdosa di hadapan Allah.

· Sebuah ajaran tidak boleh diangkat dari satu bagian dari Alkitab dan melupakan bagian-bagian yang lain dari Alkitab. Perhatikan Yeh. 18: 22-32. “…Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya.” Di sini terdapat sebuah perikop yang dengan tegas menyanggah adanya ide tentang kutuk keturunan.

· Perjanjian Baru dengan lebih tegas memberikan gambaran bahwa hidup dari orang-orang beriman adalah hidup yang benar-benar merdeka (Yoh 8: 36) karena kutuk yang harus mereka tanggung telah ditanggung sepenuhnya oleh Yesus Kristus (Gal 3:13).

Kesimpulan:

· Ajaran kutuk keturunan kurang bisa dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah. Lalu pertanyaannya adalah: “kenapa populer?” Di sini, penjelasan psikologis dan sosiologis mungkin bisa memberikan jawaban. Manusia modern adalah manusia yang hidup dalam suasana kehidupan yang serba cepat, yang menawarkan solusi “instant” atas segala masalah. Kehidupan Kristen pada kenyataannya tidak melepaskan kita dari segala macam problema kehidupan. Kita sudah Kristen, kenapa tetap kekurangan. Kita sudah Kristen kenapa mengalami perceraian. Kita sudah Kristen kenapa kita mengalami kemalangan. Kita sudah Kristen kenapa tetap sakit. Solusi yang paling cepat dan masuk akal terhadap masalah ini bagi orang Kristen modern adalah: karena anda masih terikat dengan kutuk! Jadi mari kita patahkan kutuk itu, supaya masalah tuntas tas! Padahal problema sesungguhnya belum tentu pada apa yang dipercayai sebagai kutuk itu sendiri. Problema perceraian dalam rumah tangga Kristen sebagai misal, alih-alih disebabkan oleh “kutuk”, lebih disebabkan oleh gaya hidup modern kita yang cenderung materialistis dan kurang mementingkan hubungan antar-pribadi.

· Hal yang tak kalah pentingnya adalah kecenderungan dari tiap manusia untuk menolak penimpahan kesalahan pada dirinya sendiri. Ketika dia gagal, dia cenderung untuk mencari obyek dari kegagalannya. Yang paling muda dijadikan “kambing hitam” di sini adalah adanya “kutuk”.

· Yang terakhir, yang perlu kita camkan adalah kecenderungan manusia untuk memahami segala-segalanya dan penolakannya untuk merangkul misteri. Padahal kehidupan itu sendiri penuh misteri. Ketika manusia menuruti obsesinya ini, maka ia akan cenderung untuk menjelaskan segala sesuatu, bahkan yang tak terjelaskan. Kenapa orang benar menderita? Kenapa orang beriman mengalami kemalangan?” Alkitab tidak memberikan jawaban yang definitif. Yang ada adalah jawaban yang samar. Yang ada adalah sebuah misteri. Yang ada adalah bukannya jawaban terhadap pertanyaan “why (mengapa) kita mengalami ini semua padalah kita orang beriman?” tetapi “how (bagaimana) kita menghadapi ini semua sebagai orang beriman?”. Anehnya penginjil-penginjil masa kini berusaha menyederhanakan masalah ini dengan sebuah jawaban yang terlalu naif: - adanya kutuk! Dengan jawaban ini, mereka mungkin mampu memuaskan keingintahuan sebagian dari kita. Tapi sayang dengan menolak “misteri kehidupan” mereka tidak berjalan dalam jalan yang ditempuh penulis-penulis kitab suci dengan berani merangkul misteri ini.

Melestarikan Bumi: juga Menjadi Bagian dari Tanggung jawab Kita sebagai Orang Beriman Loh!

Kali ini saya ingin mengangkat tema yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Kenapa tema ini layak diangkat?

Pertama, secara nasional bukan rahasia lagi bahwa keutuhan negeri kita terancam bukan saja oleh sengketa antar manusia, tetapi juga sengketa masyarakat dengan lingkungan alamnya. Misalnya, di wilayah yang banyak penduduknya, mereka yang berduit mendesak para petani miskin semakin ke pinggiran, ke tempat-tempat tinggi untuk bercocok tanam, akibatnya ada “deforestasi” gunung-gunung, yang mengakibatkan banjir dan erosi di waktu hujan. Setiap tahun milyaran kubik lapisan tanah yang subur hanyut ke sungai-sungai yang menancam kelestarian sumber-sumber makanan pokok di kemudian hari. Sementara itu di wilayah yang jarang penduduknya, para orang pintar dengan cerdik memanfaatkan kerakusan oknum-oknum tertentu untuk merusak hutan, menjarah kayu-kayu, dan hasil alama lainnya tanpa mempertimbangkan akibat buruk di masa mendatang.

Kedua, tradisi Kekristenan saya sepertinya “acuh-tak-acuh” terhadap masalah ini. Tradisi saya lebih suka memerangi “rokok” dan “bir” karena dianggap mencemari “tubuh” kita yang adalah bait Roh Kudus. Namun, hampir tidak pernah peduli dengan “pencemaran udara, tanah, dan air” yang sebenarnya jauh lebih mematikan ketimbang rokok dan bir.

Jadi perkenankan saya kali ini mengambil sebuah teks yang diangkat dari Kitab Kejadian 6: 9-21, sebagai dasar bagi tanggung jawab kita untuk melestarikan bumi ini

Ketika membaca ayat demi ayat dalam perikop ini, tiga gagasan muncul dalam benak saya. Pertama, Kisah Nuh berbicara tentang bencana global – air bah yang menghancurkan seluruh pranata-pranata ciptaan. Suatu situasi yang tampaknya akan segera kita hadapi, meski dalam bentuk yang lain, seperti terungkap dalam tulisan Calvin B. De Witt, yang saya ringkaskan di bawah ini

  • Degradasi di lapisan atmosfir, yang terjadi karena pemakaian kloroflouro Carbon yang menipiskan lapisan Ozon, dan emisi Karbondioksida yang menimbukan pemanasan global.
  • Degradasi tanah, - penipisan lapisan tanah yang subur yang diakibatkan oleh erosi, dan makin meluasnya proses “penggurunan”. Dalm jangka panjang akan mengancam tingkat produksi bahan pangan dunia
  • “Deforestasi” – setiap tahun 100.000 km persegi lahan hutan dibabat.
  • “Pemunahan species” – 3 species tanaman dan binatang tiap harinya punah dari muka bumi
  • “Degradasi kualitas air” – air tanah, danau, sungai, laut.
  • Peracunan global – yang muncul sebagai akibat dibuangnya limbah beracun ke badan-badan air dan atmosfer.
  • Degradasi manusia dan budaya – pada akhirnya komunitas manusia yang sedang terancam oleh pemusnahan total yang diakibatkan oleh perbuatan tangan mereja sendiri.

Kedua, Kisah Nuh berbicara bahwa bencana global itu bukanlah bermula dari hal yang bersifat moral, melainkan teologis. Lihat ayat 5, 11, 12, 13. di sana ada deskripsi negatif tentang manusia. Tetapi deskripsi itu begitu singkat, tanpa diberi penjelasan spesifik. Bruegemann, dalam tafsiran Kejadian,nya menulis bahwa sebab dari Bencana Besar adalah penolakan manusia untuk mengakui keberadaannya sebagai ciptaan. Penolakan manusia untuk menghormati Allah sebagai pencipta. Dengan kata lain banjir besar terjadi karena manusia menjadikan dirinya “center”. Dan “antropo-centered”inilah yang pada akhirnya merusak kehidupan di bumi.

Coba perhatikan baik-baik siapa oknum-oknum yang punya peranan paling besar dalam perusakan hutan-butan di Kalimantan dan Sulawesi. Mereka yang tak berduit! Bukan! Sebaliknya mereka yang berduitlah yang menjadi aktor di belakang layar di balik perusakan hutan-hutan tersebut.

Kenapa mereka berbuat demikian padahal secara materi mereka sudah berkecukupan? Kenapa mereka mau menyusahkan orang banyak, padahal mereka sudah cukup sandang, pangan, dan papan? Jawabnya: karena mereka menjadikan ”diri mereka” sebagai ”center” dari segalanya. Kehausan untuk menjadi yang ”paling berkuasa dan kaya” telah menggeser tempat Allah dari tempat yang paling penting dalam hidup mereka.

Hidup ini sarat dengan paradoks. Semakin kita mau banyak, semakin kita tidak puas. Semakin kita berpada pada apa yang ada, kita bisa semakin puas dalam hidup ini. Itulah sebabnya Paulus berkata:

  • Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
  • Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
  • (Filipi 4: 11-12).

Ketiga, Kisah Nuh juga menyajikan profil “Pribadi yang terlibat dalam pelestarian lingkungan hidup.” Nuh membuat, dan menyediakan bahtera yang menjadi tempat untuk semua makhluk hidup yang sedang terancam keberadaannya. Dengan adanya suatu keyakinan bahwa Sang pencipta mau melindungi karyanya yang sedang terancam. Keyakinan ini dipertegas oleh Allah kala menyatakan perjanjiannya dengan Nuh.

Sebagai orang percaya yang hidup di tengah-tengah krisis ekologi semacam ini, marilah kita mulai menumbuhkan kepada diri kita sendiri, kepada anak-anak kita, kepedulian pada lingkungan hidup. Ajar anak-anak kita untuk tidak membuang sampah sembarangan! Ajar anak-anak kita agar tidak mencabut atau mematikan tanaman bila tidak sangat perlu! Ajar anak-anak kita untuk mencintai dan melindungi satwa. Ajar anak-anak kita untuk menghemat energi dan sumber daya alam lain yang dapt habis. Dengan berbuat demikian kita akan menyelamatkan bukan saja masa depan mereka namun masa depan dunia. Dengan berbuat demikian kita menjadi rekan kerja Allah untuk memelihara dunia yang dijadikannya bila Dia belum datang untuk Kali yang kedua.

Save not only the Lost, but also the Earth

Baptisan Roh Kudus

Baptisan dan Kepenuhan Roh Kudus:

Kunci Menuju Sebuah Kehidupan Kristen yang BerKelimpahan

(KPR 1: 6-8; Yoh 7: 37-38)

Bayangkan jika saya menyuruh dua orang, katakanlah namanya Daud dan Yonathan untuk membuat sebuah kerajinan tangan dari tripleks. Kepada Daud, saya memberikan segala perlengkapan yang dibutuhkan, mulai dari gergaji, kertas gosok, lem kayu, hingga vernis; tapi kepada Yonathan saya hanya memberikan tripleks saja, tanpa alat apapun. Pertanyaannya, Siapakah dari antara kedua orang ini yang punya kans berhasil? Sudah pasti Daud bukan! Mengapa Daud yang berhasil? Karena saya telah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk menuntaskan tugasnya. Sekarang bila kita balik pertanyaannya: Siapakah dari antara kedua orang ini yang punya kans untuk gagal? Jawabnya: jelas Yonathan! Mengapa? Ya, karena meski punya ketrampilan hebat, tapi karena tidak ada alat, tidaklah mungkin bagi Yonathan untuk menuntaskan tugasnya. Itulah sebabnya dia gagal.

Saya percaya bahwa kita semua sepakat dengan pernyataan: tidaklah mungkin bagi Allah untuk menyuruh kita menjalankan pekerjaan yang tak mungkin kita lakukan. Allah adalah pribadi yang sempurna dalam hikmat, kasih, dan kuasaNya. Itulah sebabnya ketika DIA memerintahkan murid-muridnya untuk melakukan sesuatu, dia telah mempersiapkan segalanya agar tugas tersebut dituntaskan.

Sore ini kita membaca Kisah Para Rasul (KPR) 1: 8, di sana ada tugas yang harus diselesaikan oleh murid-murid Yesus: manjadi saksi Kristus, di Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Namun bukan hanya ada tugas, ayat tersebut juga berbicara mengenai “power” – kuasa untuk menuntaskan tugas tersebut.

Pembacaan lebih lanjut bagian-bagian dari KPR menunjukkan bahwa yang dimaksud kuasa di sini bukan lain adalah baptisan di dalam Roh Kudus. Ya, oleh baptisan Roh Kudus murid-murid disanggupkan untuk menuntaskan misi yang diberikan oleh Kristus kepada mereka. Lihat bagaimana Yerusalem, Yudea, dan Samaria dijangkau oleh Injil; dan lihat pula bagaimana Paulus memenangkan ujung dunia waktu itu (Roma) bagi Kristus.

Mungkin tugas yang dipercayakan oleh Allah kepada kita saat ini tidak identik dengan tugas yang diberikannya kepada Petrus, Yohanes, dan Paulus. Namun, sebagaimana halnya, murid-murid abad I membutuhkan baptisan dan kepenuhan Roh untuk menuntaskan misi Allah di dalam hidupnya, kita, murid-murid Yesus abad XXI membutuhkan pengalaman dan pemberdayaan yang sama agar dapat menuntaskan tugas yang dipercayakan oleh Allah dalam hidup kita.

Sebuah pertanyaan: Apa sebenarnya yang terjadi di dalam diri kita ketika kita mengalami Baptisan dan kepenuhan Roh Kudus?

Pertama, melalui baptisan dan kepenuhan Roh Kudus, “passion” kita ditransformasi. Apa itu “passion”, kamus mengartikannya sebagai suatu dorongan hati, semangat yang menggerakan kita untuk melakukan sesuatu. Sebelum Pentakosta, Petrus dan murid-murid yang lain tidak punya “passion” untuk menjangkau bangsa-bangsa bukan Yahudi. Itulah sebabnya, mereka bertanya, kepada Yesus kapan Yesus akan memulihkan Kerajaan bagi Israel. Jelas, pertanyaan ini mencerminkan sikap hati mereka yang masih “cinta Yahudi saja”. Sangat kontras, dengan hati Yesus yang cinta segala bangsa, tak peduli “kuning, hitam, putih, merah”.

Namun sesudah Pentakosta, kita melihat sebuah transformasi “passion”, mereka bukan lagi “cinta-Yahudi” saja melainkan cinta “orang yang bukan Yahudi juga”. Lihat bagaimana Petrus dan kawan-kawannya menjangkau orang-orang Samaria yang dulu mereka benci; Kornelius, orang bukan Yahudi, yang dulu mereka abaikan. Baptisan Roh Kudus telah mentransformasi “passion” mereka. Inilah juga yang persis terjadi di dalam kehidupan orang percaya masa kini ketika mereka mengalami Pentakosta (baptisan dan kepenuhan Roh Kudus). Seperti dialami oleh Almarhum Pdt.Ralph dan Edna Devin. Mereka dulunya adalah seorang pengusaha yang berhasil. Ketika Roh Kudus turun atas mereka, “passion” mereka ditransformasi: dari “business-oriented” (berorientasi kepada bisnis) kepada “winning-soul oriented” (berorientasi kepada memenangkan jiwa) . Itulah sebabnya mereka rela meninggalkan bisnisnya, dan berlayar ke Ambon untuk menjadi pemenang jiwa.

Kedua, melalui baptisan dan kepenuhan Roh Kudus, kita beroleh kuasa untuk menanggung kesulitan bahkan penderitaan (power to suffer). Perhatikan kondisi murid-murid sebelum Pentakosta! Kenapa mereka menyangkal dan meninggalkan Yesus? Salah satu jawabannya: mereka tidak mau terlibat dalam kesulitan, mereka tidak rela untuk menderita. Namun, apa yang terjadi pasca Pentakosta, Yakobus, berani mati bagi Yesus; Petrus dan murid-murid lain rela menderita bagi Yesus.

Kehidupan yang kita jalani bukanlah sebuah kehidupan yang gampang. Jalan pemuridan menghadapkan kadang kita dengan banyak kesulitan dan penderitaan. Tapi syukurlah, mereka yang memperoleh pengalaman Pentakosta, akan diberi ekstra “staying power” sehingga mereka bisa mengalami sebuah kehidupan yang berkemenangan. Kembali kepada pengalaman seorang tokoh GSJA di Indonesia: Ibu Edna Devin, sebagai illustrasi Pada tahun 1951, suami tercintanya, Ralph, secara mendadak meninggal dunia. Tentu sebuah pukulan yang berat bagi ibu Devin! Bukan itu saja, beberapa waktu kemudian, kapal”Evangel” yang biasa mereka gunakan untuk penginjilan antar pulau dijual oleh Departemen Misi Amerika. Ini jelas membuat tugas semakin sulit. Dalam salah suratnya, ibu Edna mengungkapkan kekecewaannya kepada Dept.Misi Amerika. Ada dukacita, kekecewaan pada manusia dan mungkin pada Tuhan, ada kesulitan yang semakin besar. Semuanya punya potensi untuk mendorong Ibu Edna mundur dari pelayanan. Tapi fakta sejarah bicara lain. Ibu Edna tetap bertahan! Bahkan terus berjuang untuk mengobarkan api Pentakosta di Indonesia. Apa rahasia di balik kekuatan seorang wanita yang tampaknya lemah ini? Roh Kudus, Sang Parakletos, yang memberinya “staying power”!

Ketiga, melalui baptisan dan kepenuhan Roh Kudus, kita dimampukan untuk melakukan hal-hal adi-kodrati yang berada di luar jangkauan kemampuan alamiah kita. Perhatikan Petrus dan Yohanes yang mampu menjadi alat Tuhan untuk membuat orang lumpuh di gerbang indah berjalan. Perhatikan Paulus dan Barnabas yang mampu melakukan perkara mukjizat di Listra. Akhirnya, perhatikan murid-murid, yang dari sudut pandang manusia, bukan apa-apa (dalam hal jumlah – cuma 120 orang; dalam hal kemampuan dan posisi – tidak terlalu menjajikan), namun mereka adalah orang-orang yang menunggang-balikkan dunia.

William J. Seymour adalah seorang yang sederhana, anak mantan budak, dengan mata cacat sebelah karena cacar. Namun demikian pengalaman Pentakosta telah merubahnya menjadi seorang yang luar biasa. Di bawah pelayanannya, terjadi kebangunan rohani terbesar di abad XX di Azusa Street. Melalui pengalaman Pentakosta, Seymour, orang biasa dijadikan luar biasa; penonton bahkan mungkin korban dari sejarah dijadikan pelaku bahkan penulis goresan-goresan emas sejarah.

Mungkin kita tidak bisa menyamai “prestasi” besar dari Petrus atau Seymor. Namun yang pasti, ketika pengalaman Pentakosta yang sejati itu menyentuh hidup kita, kita akan menjadi pribadi yang mampu beroperasi di atas ambang batas kemampuan alamiah kita; pribadi yang mampu melakukan hal-hal besar!

Penutup:

Ratusan orang rela antri berjam-jam lamanya ketika sembako dibagi-bagikan secara gratis. Padahal hal tersebut hanya mampu menolong mereka beberapa hari saja. Baptisan dan Kepenuhan Roh Kudus, yang menjadi Berkat Pentakosta menyediakan pertolongan sepanjang umur hidup manusia. Ironisnya, banyak orang acuh tak acuh, beberapa orang malahan menolak berkat yang luar biasa itu. Bila anda bijak, anda tentu tidak akan menempatkan diri anda di barisan orang-orang seperti ini. Bila anda bijak, anda pasti akan menyambut undangan Yesus: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”(Yohanes 7: 37-38)


Postmodernisme (5)

Masyarakat yang mengagungkan individualisme

Masyarakat modern adalah masyarakat yang mengagungkan individualisme. Kata kunci dalam masyarakat modern adalah: ”I” atau ”Me” (Saya). Jadi jangan heran slogan yang terkenal sekali dalam era modern adalah: ”I think therefore I am” (Aku berpikir, maka Aku ada).

Namun dalam masyarakat Posmo, yang namanya ”me” (aku) itu memerlukan ”we” (kita) untuk menjadi ”be” (ada). Jadi dalam masyarakat Posmo individualisme digantikan dengan individual-communal, atau dalam bahasa kerennya ”Connected”.

Coba anda tebak bagian mana dari internet yang dewasa ini dikunjungi oleh orang? Sudah pasti ”chatting room” bukan! Kenapa chatting room?Karena dalam chatting room-lah terjadi perpaduan yang unik di antara individual dan komunal. Kok bisa? Begini penjelasannya: Jika anda memasuki ruang “chatting” (milik www.yahoo.com sebagai misal) – ruang itu amat personal!!! Orang lain tidak bisa pakai “account” anda tanpa ijin anda. Namun anda tahu, kala anda masuk ke ruang “chatting”, anda tahu anda tidak sendirian karena anda terhubung dengan orang-orang lain. Inilah yang disebut perpaduan di antara Individual-Communal!!

Kenapa program kuis Who Wants to Be a Millioner begitu popular? Karena program kuis semacam ini menempatkan seorang individu (sendirian) di pusat dari pentas televisi, namun pada saat yang bersamaan dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki kaitan dengannya baik secara fisikal maupun secara virtual. Itulah sebabnya setiap saat ia mendapat kesulitan, ia dapat dengan muda meminta bantuan dari audience yang hadir di studio ataupun seorang teman. Sebuah perpaduan yang unik di antara individual-komunal bukan?

Ringkasan

Sebagai penutup dari rangkaian artikel mengenai Postmodernisme ini akan disajikan sebuah tabel yang meringkaskan pergeseran besar dari aspek-aspek dari modernitas kepada aspek-aspek dari Posmo di awal abad XXI ini.

Kebenaran bersifat Mutlak (Absolut) —————–> Kebenaran bersifat relatif

Rasio (Akal) —————————–> Emosi/Experience (Pengalaman)

Representative —————————> Participatory

Word-based ———————————> Image Driven

Individual ——————————–> Individual/Communal

Referensi

  1. Leonard Sweet. Postmodern Pilgrims. Nashville, TN: Broadman & Holman Publishers, 2000. (acuan utama)
  2. Graham Johnston. Preaching to a Postmodern World. Grand Rapids, MI: Baker Books, 2001.
  3. Stanley J. Grenz. A Primer on Postmodernism. Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans, 1996.
  4. Kevin O’Donnel. Postmodernism. Mayfield House: Oxford: Lion Publishing, 2003.
  5. Hermawan Kertajaya. Marketing in Venus. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003.
  6. David S. Dockery (ed). Challenge of Postmodernism. Grand Rapids, MI: Baker Book, 2001.